Home Opini Gerakan 30 September dan Tragedi Kemanusiaan

Gerakan 30 September dan Tragedi Kemanusiaan

123
0

Oleh: Rizali Posumah

SEJARAHONE.ID – Pada tahun 1960-an Indonesia mengalami gejolak politik. Puncak dari itu melahirkan apa yang disebut Gerakan 30 September atau G30S. Peristiwa ini terjadi hingga 1 Oktober 1965. Kala itu 7 perwira Angkatan Darat diculik dan gugur oleh mereka yang menjadi bagian dari kelompok militer yang disebut G30S.

Mayat para jenderal ini ditemukan di Lubang Buaya, tepatnya di kawasan Pondok Gede, Jakarta. Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta simpatisannya kemudian dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas peristiwa G30S tersebut. Kejadian ini membuat PKI jadi partai dan organisasi terlarang di Indonesia.

Selanjutnya penangkapan berlangsung terhadap orang-orang PKI, simpatisan PKI organisasi yang dianggap berafiliasi dengan PKI, hingga orang-orang yang dituduh PKI.
Mereka yang ditangkap sering mengalami penyiksaan hingga tak jarang dieksekusi begitu saja tanpa proses pengadilan.

Terkait jumlah korban dari pembersihan orang-orang yang dituding sebagai simpatisan PKI ini sudah pernah diselidiki semasa Presiden Soekarno masih berkuasa. Soekarno pada masa itu membentuk lembaga resmi Fact Finding Comisson (FFC). FFC mencatat, korban jiwa tragedi 65 sebanyak 80 ribu jiwa.

Angka ini diperoleh seletelah 4 bulan persitiwa G30S terjadi. Dalam buku G30S Fakta Atau Rekayasa, Wartawan Senior Kompas, Julius Pour menyebut, FFC merupakan sebuah tim berbobot, oleh karena dibentuk dengan Surat Keputusan Presiden dipimpin Menteri Dalam Negeri, beranggotakan Kapolri, Menteri Penerangan, Menteri Agraria, Menteri Negara, Ketua Gabungan V/Komando Operasi Tertinggi (KOTI).

Selain itu, tim FFC juga ikut diperkuat dengan perwakilan dari tiga partai politik; Partai Nasional Indonesia (PNI), Nahdatul Ulama (NU), dan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Namun, jumlah korban yang dicatat oleh FFC ini, sejak hari pertama sejak angka ini diumumkan telah diragukan kebenarannya bahkan oleh Presiden Soekarno sendiri.

Beberapa waktu setelah itu, Menteri Penerangan Mayor Jenderal Achmadi dalam sebuah kesempatan justru mengakui, jumlah korban tewas di empat daerah pengamatan: Jateng, Jatim, Bali dan Sumatera Utara, “mungkin sepuluh kali lipat dari taksiran FFCm jadi jumlahnya sekitar 800 ribu jiwa”.

Sementara itu, Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang saat peristiwa berlangsung memimpin pasukan di lapangan, pernah mengemukakan angka taksiran, jumlah korban tewas tidak kurang dari 3.000.000 orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here