Home Khasanah Filosofi “Habis Gelap Terbitlah Terang” Kartini Berasal Dari Al Quran

Filosofi “Habis Gelap Terbitlah Terang” Kartini Berasal Dari Al Quran

49
0
Kartini bersama murid-muridnya

Oleh. Hana Wulansari

Setiap bulan April, sekolah-sekolah Indonesia selalu menyelenggarakan peringatan Hari Kartini. Raden Ayu Kartini, dinilai memiliki jasa besar dalam emansipasi wanita. Selain perjuangannya untuk memperoleh derajat yang sama dengan kaum laki-laki, Kartini juga banyak berfilosofi melalui tulisan-tulisannya yang dikirimkan pada sahabatnya yang berkebangsaan Belanda, JH Abendanon.

Buku ‘Habis Gelap Terbitlah terang terjemahan Armyn Pane selalu menjadi primadona untuk mengenalkan Kartini. Dan, tulisan ini hendak membahas dari mana sebenarnya pemikiran Kartini mengenai habis gelap terbitlah terang itu.

Asal Filosofi Kartini

Ketika remaja, Kartini mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak. Bupati Demak adalah paman Kartini. Pada kajian yang diikutinya, RA Kartini sangat tertarik dengan isi Kiai Soleh Darat, yang sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Kartini menyatakan keinginan untuk mengkaji terjemahan dan tafsir Al Quran.

Ketika RA Kartini menikah dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang, Kiai Soleh Darat menghadiahkan Kitab Al Quran terjemahan sebagai kado pernikahan.

Kado pernikahan yang merupakan Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu adalah Kitab Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Kitab tersebut adalah kitab tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Kartini amat menyukai hadiah kitab itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257. Surat itu berisi,  bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya. Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Surat Kartini

Buku ‘Habis Gelap Terbitlah terang terjemahan Armyn Pane menjadi rujukan ketita pelajar hendak mengkaji pemikiran Kartini. Persoalannya, terjemahan ini bersumber dari buku kumpulan surat-surat Kartini yang disusun oleh JH Abendanon, seorang tokoh penyokong politik etis masa kolonial.

Suntingan Abendanon adalah suntingan yang bermasalah. Ia secara aktif dan selektif memilah surat-surat mana saja yang harus tampil sehingga tidak memberi pandangan utuh bagi kita tentang Kartini.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam. Melalui tulisan habis gelap terbitlah terang, Kartini hendak menyampaikan bahwa, Al Quran membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang yakni asal benderang berupa petunjuk, hidayah atau kebenaran.

Namun demikian Abendanon, banyak menyeleksi surat-surat Kartini, dan menyimpan beberapa untuk tidak dipublikasi. Abendanon tidak memuat surat Kartini yang berisi kritik terhadap diskriminasi sosial dan ekonomi yang terjadi saat itu. Padahal surat ini sangat penting untuk menunjukkan sisi kritis Kartini terhadap praktik diskriminasi ekonomi masa itu dan terlebih surat itu ditulis Kartini hanya hitungan bulan sebelum ia wafat.

Alih-alih, dalam masa-masa akhir hayatnya di buku suntingan Abendanon itu malah lebih banyak berisi kisah pribadinya. Abendanon jelas hendak mengonstruksi sisi “drama” kehidupan Kartini. Atau istilahnya membuat semacam ‘roman’ dalam istilah yang dipakai Armyn Pane.

Kartini Kesal Pada Orientalis Yang Pura-pura Islam

Ada pula surat penting Kartini pada Nyonya Abendanon yang tak dimuat. Yaitu surat yang membicarakan tentang orientalis Snouck Hurgronje. Sungguh menarik sekali isinya. Kartini dalam surat itu menyebut dia secara gusar. Baginya, Hurgronje tak lebih sebagai orang yang berpura-pura masuk Islam agar dapat masuk ke Makkah.

Kartini dalam suratnya menulis begini:

”You will already have heard of him; the man who for the sake of his studies spent a year disguised as an Arab in Mecca and who left that place almost at the cost of his life when it was discovered that he was Christian. As I have heard, he later converted to Islam and married a highly educated daughter of a Penghulu.”

Terjemahannya:

“Anda pasti sudah pernah mendengar tentang dia; pria yang demi studinya menghabiskan satu tahun menyamar sebagai orang Arab di Makkah dan yang meninggalkan tempat itu hampir dengan biaya hidupnya ketika diketahui bahwa dia adalah orang Kristen. Seperti yang telah saya dengar, ia kemudian masuk Islam dan menikahi seorang putri Penghulu yang berpendidikan tinggi. ”

Kartini pada awalnya memang begitu tertarik dengan sosok Hurgronje. Orientalis itu dianggap sosok yang mumpini bagi Kartini untuk bertanya tentang Islam. Belakangan Kartini kecewa dgn orientalis itu. Sosoknya dianggap bertentangan dengan cara pandang Kartini dalam memandang situasi perempuan di Jawa yang dianggap tertindas.

Namun surat tentang Snouck HurgronjeSurat ini pun tak dimuat Abendanon.

Dari buku Abendanon, kita dapat mengambil hikmah bahwa ilustrasi, bagaimana suntingan karya dapat mengaburkan pandangan kita tentang Kartini. Danpandangan keliru ini justru yang telah menjadi populer di tengah masyarakat.  Ada banyak hal yang hilang dan keliru jika kita tetap menganggap buku Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai sumber sejarah yang layak untuk memahami Kartini secara utuh.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here