Home Merdeka Fakta Turki Utsmani Bantu Aceh Lawan Portugis

Fakta Turki Utsmani Bantu Aceh Lawan Portugis

20
0

SejarahOne.id –¬†Kemasyhuran Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam terdengar hingga ke Eropa. Pada masa Samudera Pasai, penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara sedang berlangsung. Berbagai kesultanan yang ada di wilayah Asia Tenggara seperti Kesultanan Sulu dan Kesultanan Maguindanao sudah terkoneksi satu sama lain.

Akan tetapi, Portugis dan Spanyol dari Eropa tertarik dengan kekayaan alam, kemajuan dan berbagai potensi yang ada di Asia Tenggara. Mereka pernah merebut bandar-bandar atau kota-kota pelabuhan yang dikelola oleh umat Islam. Hingga suatu ketika Samudera Pasai runtuh terdampak invasi yang dilakukan Portugis.

Kesultanan Aceh Darussalam berdiri dengan kembali membangun kekuatan di wilayah Aceh. Aceh Darussalam secara bertahap merebut kembali bandar-bandar yang dikuasai Portugis di Selat Malaka. Sebagaimana diketahui, Selat Malaka adalah rute yang digunakan untuk berlayar ke Makkah oleh jamaah haji dari Asia Tenggara, juga sebagai jalur perdagangan dan jalur laut yang sangat penting.

Perjuangan Aceh Darussalam merebut bandar-bandar strategis tersebut juga demi kepentingan umat Islam agar pelayaran mereka ke Makkah untuk berhaji tidak menemui hambatan. Dalam proses peperangan melawan penjajah Portugis yang berlangsung selama 100 tahun lebih, Kesultanan Aceh Darussalam menjalin hubungan dan meminta bantuan dengan Kesultanan Turki Utsmani.

Hubungan Turki dan Aceh

Ketua Umum Lembaga Masyarakat Peduli Sejarah Aceh, Mizuar Mahdi menjelaskan, hubungan Kesultanan Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh Darussalam kemungkinan sudah terjalin sejak masa kepemimpinan Sultan Ali Mughauat Syah sebagai sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam yang wafat pada 936 Hijriyah atau 1530 Masehi. Sultan Alauddin Ri’ayat Syah, anak dari Sultan Ali Mughauat pernah berkirim surat ke Turki Utsmani yang dipimpin oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni anak dari Sultan Selim I.

¬†“Isi surat tersebut berisi permintaan bantuan dari Aceh Darussalam kepada Turki Utsmani, karena pada awal abad ke-16 itu, Aceh sedang berperang dengan Portugis,” kata Mizuar.

Ia menceritakan, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah meminta Turki Utsmani mengirim ahli-ahli artileri untuk membuat meriam. Pada masa itu, hanya Turki Utsmani yang mampu membuat meriam berukuran besar. Bisa dikatakan tidak ada yang bisa menandingi meriam buatan para ahli artileri dari Turki Utsmani di masa itu.

Sebelumnya, banyak bandar jatuh ke tangan Portugis. Berdasarkan catatan pada kitab Tuhfat Al Mujahidin karya Syekh Zainudin Lemari Bari diceritakan, banyak bandar jatuh ke tangan Portugis, tapi ada satu bandar yang berhasil direbut kembali, yaitu Bandar Aceh Darussalam yang direbut dan dikuasai oleh Sultan Ali Mughauat.

Selanjutnya, Sultan Ali Mughauat meluaskan pengaruhnya dan mengusir Portugis dari beberapa bandar. Perjuangan merebut bandar dari tangan Portugis dilanjutkan oleh Sultan Shalahuddin bin Ali Mughayat Syah dan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah bin’Ali Mughayat Syah. Hingga akhirnya Portugis terusir dari bandar paling strategis di Malaka.

Pada masa Sultan Alauddin Ri’ayat Syah, Kesultanan Aceh Darussalam mengirim surat sekaligus mengirim cenderamata ke Turki Utsmani. Setelah cukup lama menunggu, utusan dari Turki Utsmani tiba di Aceh Darussalam untuk membantu perjuangan melawan penjajah.

“Pada saat itu mulai ditempa meriam besar buatan Turki Utsmani yang diajarkan ke orang-orang Aceh, mulai dari sini Aceh menciptakan meriam-meriam bercorak Turki,” ujar Mizuar.

Sultan Selim II anak dari Sultan Sulaiman al-Qanuni membalas surat Sultan Alauddin Ri’ayat Syah. Dia menyampaikan Turki Ustmani menyiapkan 15 kapal perang kecil dan dua kapal perang besar. Selain itu, Turki Utsmani juga menyiapkan peluru meriam, peluru meriam kecil, bubuk mesiu, 300 kapak, dan 300 sekop. Di dalam kapal ada kapten kapal, ahli senjata, prajurit, awak kapal, peralatan perang, senjata, dan amunisi lengkap.

 

Pemerintah Turki telah membayar Gaji setahun untuk tentara dan perbekalan gandum untuk setahun diangkut ke atas kapal agar tidak kekurangan makanan selama perjalanan. Pimpinan utusan dari Turki Utsmani ini diserahkan ke Kurdoglu Hizir yang telah ditunjuk sebagai kapten dan Seraskier panglima perang pasukan militer yang dikirim ke Aceh Darussalam pada 1568-1569.

“Sebagian dari utusan Turki Utsmani menetap di Aceh Darussalam. Sementara, sebagian lagi kembali ke Turki Utsmani setelah selesai melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sejak saat itu hubungan Kesultanan Aceh Darussalam dan Turki Utsmani terus berlanjut,” kata Mizuar.

Seiring pergantian sultan di Aceh Darussalam dan Turki Utsmani, ada kalanya kedua sultan ini sering dan jarang berkirim surat. Kedekatan dua kesultanan ini dipererat lagi pada abad ke-19 atau masa pemerintahan Sultan Mansur Syah di Aceh Darussalam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here