Home Pahlawan Fakta Sejarah Tokoh-Tokoh Wanita Indonesia

Fakta Sejarah Tokoh-Tokoh Wanita Indonesia

168
0
Kartini bersama murid-muridnya
SEJARAHONE.ID – Dalam catatan sejarah Indonesia terdapat beberapa tokoh pahlawan wanita Indonesia dan yang berjasa pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikut ini adalah beberapa tokoh wanita yang berjasa pada NKRI yang dirangkum tim sejarahone.id. Semua wanita ini memeliki jasa yang berbeda-beda untuk negeri ini.
1. Raden Ayu Siti Hartinah Soeharto
Jasa Besar Ibu Tien Suharto, diantaranya pada era perang kemerdekaan adalah ikut mendirikan Laskar Putri Indonesia yang menghimpun gadis gadis untuk ikut berjuang dan berlatih senjata di Solo. Kemudian menjadi ketua dapur umum ketika perang agresi militer Belanda ke II di Yogyakarta yang bertugas memasok kebutuhan pangan dan obat obatan bagi para prajurit
Setelah merdeka, Ibu Tien turut memberdayakan istri istri prajurit untuk menanami lahan kosong di rumahnya sebagai lahan tanaman pangan untuk menjaga stok pangan masa perang.
Ketika menjadi Ibu Negara RI, Ibu Tien mendirikan Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman Budaya Raksasa Terbesar di dunia. Kemudian, mendirikan Taman Bunga Nusantara sebagai Taman Bunga yang tak pernah tutup se-dunia. Ibu Tien juga mendirikan Taman Buah Mekarsari sebagai pusat konservasi dan penelitian tanaman tropis terbesar di dunia
Ibu Tien menjadi inspirator dalam mendirikan Perpustakaan Nasional sebagai pusat literasi nasional. Kemudian, mendirikan Taman Anggrek Indonesia Permai sebagai taman anggrek terlengkap di dunia. ibu Tien juga pencetus Program Revolusi Hijau sebagai upaya meningkatkan dan memperbaiki kondisi pertanian di Indonesia, serta pencetus PKK dan Dharmawanita untuk mengasah kreativitas dan keterampilan Ibu Ibu Indonesia
2. Fatmawati Sukarno
Nama fatmawati Sukarno dikenal dalam sejarah, setelah menjadi istri Soekarno, sang proklamator. Fatmawati ikut berjuang bersama istri istri pejuang kemerdekaan RI. Fatmawati juga turut menjahit bendera pusaka merah putih sebagai bendera resmi pertama Indonesia Merdeka. Kemudian, menghimpun Ibu ibu untuk ikut serta menyumbangkan sebagian perhiasannya untuk keberlangsungan republik.
Fatmawati memiliki jasa ketika menetapkan kebaya sebagai busana nasional wanita Indonesia untuk mengalahkan gaun asal Eropa. Fatmawati juga ikut andil dalam upaya pemberantasan buta huruf sebagian warga ibukota dengan jadi guru baca tulis dan mengaji.
3. Raden Dewi Sartika
Dewi Sartika telah diangkat menjadi pahalawan nasional, Beberapa jasa Dewi Sartika adalah mendirikan Sekolah Keutamaan Istri untuk mengasah keterampilan wanita kala itu. Dewi Sartika juga berjasa dalam melatih baca tulis dan pengetahuan dasar perempuan pribumi secara tulus di rumahnya.
4.Raden Ajeng Kartini
RA Kartini kerap dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita. Ini dikarenakan jasanya dalam mendirikan Sekolah Kartini di Jepara Jawa Tengah sebagai sekolah khusus putri putri pribumi. RA Kartini juga memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar bagi perempuan kala itu. Dia berjuang menolak konsep istri simpanan.
RA Kartini ikut andil dalam upaya penerjemahan Al Qur’an dengan memfasilitasi Kiai Kiai Jawa kala itu. Selain itu, RA Kartini terus beruapaya memberikan pendidikan pada wanita-wanita di sekelilingnya.
5. Cut Nyak Dien
Jasa terbesar Cut Nyak Dien adalah memimpin Perang Aceh. Cut Nyak Dien adalah Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Tewasnya Ibrahim Lamnga di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 kemudian menyeret Cut Nyak Dhien lebih jauh dalam perlawanannya terhadap Belanda.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar, setelah sebelumnya ia dijanjikan dapat ikut turun di medan perang jika menerima lamaran tersebut. Dari pernikahan ini Cut Nyak Dhien memiliki seorang anak yang diberi nama Cut Gambang[2]. Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda. Namun, pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar gugur. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Usia Cut Nyak Dien yang saat itu sudah relatif tua serta kondisi tubuh yang digrogoti berbagai penyakit seperti encok dan rabun membuat satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba.[3][4] Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Keberadaan Cut Nyak Dhien yang dianggap masih memberikan pengaruh kuat terhadap perlawanan rakyat Aceh serta hubungannya dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap membuatnya kemudian diasingkan ke Sumedang. Cut Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Nama Cut Nyak Dhien kini diabadikan sebagai Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya di Meulaboh

6 Laksamana Malahayati
Laksamana Malahayati dikenal juga dengan nama Keumalahayati. Ia dilahirkan di Aceh Besar pada tahun 1550. Pada masa kanak-kanak dan remaja ia mendapat pendidikan istana. Malahayati masih berkerabat dengan Sultan Aceh. Ayah dan kakeknya berbakti di Kesultanan Aceh sebagai Panglima Angkatan Laut. Dari situlah semangat kelautan Malahayati muncul. Ia kemudian mengikuti jejak ayah dan kakeknya dengan menempuh pendidikan militer jurusan angkatan laut di akademi Baitul Maqdis.

Perjuangan Malahayati melawan penjajah dimulai setelah terjadinya pertempuran di Teluk Haru. Armada laut Kesultanan Aceh melawan armada Portugis. Pada pertempuran itu, Laksamana Zainal Abidin, suami Malahayati, gugur. Setelah ditinggal wafat oleh suaminya, Malahayati mengusulkan kepada Sultan Aceh untuk membentuk pasukan yang terdiri dari janda prajurit Aceh yang gugur dalam peperangan. Permintaan itu dikabulkan. Ia diangkat sebagai pemimpin pasukan Inong Balee dengan pangkat laksamana. Malahayati adalah perempuan Aceh pertama yang menyandang pangkat ini.[6]

Laksamana Malahayati dan pasukannya bertugas melindungi pelabuhan pelabuhan dagang di Aceh. Pada tanggal 21 Juni 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan kapal Belanda yang mencoba memaksakan kehendaknya. Laksamana Malahayati dan pasukannya tentu saja tidak dapat menerimanya. Mereka mengadakan perlawanan. Dalam peristiwa itu Cornelis de Houtman dan beberapa pelaut Belanda tewas. Frederick de Houtman, wakil komandan armada Belanda, ditangkap oleh pihak Aceh. Dia berhasil mengalahkan pasukan VOC dan membunuh Cornelis de Houtman

7. Cut Nyak Mutia

Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.

Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp1.000.

Pasukan Belanda menggencarkan pengejaran terhadap pasukan Cut Meutia pada bulan Oktober 1910. Hal itu membuat Cut Meutia memindahkan pasukannya dari gunung ke gunung untuk menghindari pengepungan yang dilakukan Belanda.

Hingga pada tanggal 24 Oktober 1910 di daerah Alue Kurieng, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Belanda dan pasukan yang dipimpin Cut Meutia. Dalam pertempuran ini Cut Meutia gugur. Sebelum wafat, Cut Meutia menitipkan anaknya kepada Teuku Syech Buwah untuk dijaga

8. Rasuna Said
– Pantang menentang penjajahan dan sering berpidato tentang martabat perempuan Indonesia
9. Rohana Kudus
– Ikut berjuang membakar semangat nasionalisme dan melindungi kaum perempuan
10.Nyai Ageng Serang
– Penasihat Perang Jawa atau Perang Diponegoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here