Home Merdeka Fakta Sejarah: Semangat Islam dalam Perang Padri

Fakta Sejarah: Semangat Islam dalam Perang Padri

143
0

SEJARAHONE.ID – Perang Padri terbagi dalam tiga periode perubahan kekuatan. Pada 1803 hingga 1821, terjadi pertempuran sporadik antara kekuatan reformis dan tradisionalis, dengan semangat Kaum Padri mengumumkan jihad melawan kaum adat, membakar rumah-rumah gadang, dan membunuh pemimpin adat. Ini mengundang pemerintah kolonial Belanda untuk terlibat.

Pada 1821, pemerintah kolonial menandatangani perjanjian dengan kaum tradisionalis dan mengirimkan sepasukan tentara ke perbukitan Minangkabau. Periode kedua, antara 1821 hingga 1833, menyusul kemenangan atas Perang Jawa (1825-1830), tentara kolonial menjaga semangat moral mereka untuk berfokus pada Perang Padri dengan kekuatan tambahan dari kaum adat.

Pada 1832, tentara kolonial mengalahkan Imam Bonjol, dan menundukkan Sumatera Barat ke dalam koloninya. Periode ketiga, antara 1833 hingga 1838, kekuatan reformis bersatu dengan kaum adat matrilineal melawan pendudukan asing Belanda. Namun kekuatan mereka semakin lemah, Minangkabau berhasil ditundukkan, dan para pemimpin reformis dan adat tewas, serta Tuanku Imam Bonjol dibuang ke Manado, Sulawesi Utara.

Perang Padri adalah salah satu perang yang berlangsung paling lama di Indonesia. Perang yang terjadi di Minangkabau atau Sumatera Barat ini diawali dari perbedaan keyakinan tentang bagaimana cara menjalankan Islam. Perang yang terjadi antara Kaum Padri dan Kaum Adat menjadi cukup besar sehingga menarik perhatian Belanda, dan membuat Sumatera Barat–saat itu Kerajaan Pagaruyung–menjadi rentan dan akhirnya jatuh ke tangan penjajah.

Masa sebelum perang padri, perkembangan Islam yang cukup pesat di tahun 1800-an tak bisa dipungkiri mulai menggeser hegemoni kehidupan adat dalam setiap segi kehidupan masyarakat Minangkabau. Saat itu mulai terbentuk dua kubu sama kuat yang dikenal dengan sebutan Kaum Padri dan Kaum Adat. Istilah Padri sendiri berasal dari bahasa Spanyol “Padree” yang berarti pendeta atau petinggi agama.

Kaum Padri dipimpin oleh tokoh-tokoh yang memegang teguh ajaran dari Muhammad bin Abdul al-Wahhab–yang kemudian sering disebut sebagai Wahabisme–yang mereka pelajari saat menunaikan ibadah haji maupun menuntut ilmu agama di Arab Saudi. Seiring merebaknya Wahabisme di Arab Saudi, ajaran puritanisme Islam tersebut juga tertanam kuat di kalangan haji maupun pelajar dari Saudi. Sepulangnya mereka ke Indonesia, selain mulai mengenakan jubah sebagai simbol identitas, mereka juga memiliki “tujuan mulia” menyebarkan ajaran Islam yang sempurna dan murni di masyarakat, dalam hal ini di Minangkabau, Sumatra Barat.

Di lain pihak, Kaum Adat merupakan kaum yang mengikuti tradisi leluhur dan memegang teguh adat istiadat Minangkabau. Meski demikian, karena pesatnya persebaran Islam di Sumbar, sebagian besar dari Kaum Adat sudah memeluk ajaran Islam.

Ketika Kaum Padri berusaha memurnikan ajaran Islam dari segala bentuk adat istiadat yang bertentangan atau dianggap “bid’ah,” Kaum Adat justru semakin kuat melaksanakan kebiasaan adat masyarakat Minang kala itu yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti sabung ayam, mengunyah sirih, merokok, memakai madat, dan minum minuman keras.

Perdebatan sengit lainnya antara Kaum Adat dan Kaum Padri ialah mengenai pembagian waris berdasarkan garis pihak perempuan atau “matrilineal” dalam kebudayaan Minangkabau, yang dikutuk oleh Syekh Ahmad Khatib karena berbeda dengan hukum waris dalam Islam yang berbau patriarki. Selain itu, Kaum Padri juga menyayangkan longgarnya pelaksanaan ritual ibadah wajib dalam Islam di masyarakat setempat.

Pertentangan Kaum Adat dan Haji Miskin

Merasa terganggu menyaksikan Kaum Adat di tengah adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, salah satu tokoh penting Kaum Padri, Haji Miskin, yang pernah tinggal di Mekkah sesudah pendudukan Wahabi tahun 1803 di Kota Hijaz, mulai melarang warga melakukan sabung ayam.

Pada suatu malam, ia membakar balai yang biasa dipakai untuk sabung ayam hingga memicu kemarahan Kaum Adat. Haji Miskin dikejar dan berhasil mengamankan diri di Kota Lawas, kemudian mendapatkan perlindungan dari Tuanku Mensiangan atau dikenal juga Tuanku Pasaman, seorang panglima Kaum Padri.

Berawal dari tindakan pembakaran balai, masing-masing kaum mulai mengumpulkan pengikut dan mempertahankan argumen masing-masing. Bersama Haji Miskin, terdapat setidaknya delapan ulama seperti Tuanku nan Renceh, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Berapi, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Galung, Tuanku Biaro, dan Tuanku Kapau.

Jeff Hadler dalam buku Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan. Kolonialisme di Minangkabau (2010) menjelaskan bahwa sebutan Tuanku adalah gelar yang diberikan kepada ulama tingkat tinggi di Sumatera Barat. Sikap keras para Tuanku terhadap segala tindakan yang berbau adat istiadat membuat mereka dijuluki Harimau nan Salapan.

Sebelumnya mereka sempat bermusyawarah dengan Tuanku nan Tuo yang semula mereka hormati, yang menyetujui gerakan memurnikan ajaran Islam di Minangkabau, asal dengan cara-cara lunak. Menurut Tuanku nan Tuo, cara keras hanya akan melahirkan kekerasan baru. Akhirnya, Harimau nan Salapan memilih sikap Tuanku Pasaman, yang juga sama-sama keras, hingga memicu perang saudara yang berkepanjangan.

Mangaradja Onggang Parlindungan dalam buku kontroversialnya, Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1964), menjelaskan tiga tokoh haji dalam Perang Padri, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Menurut Parlindungan, trio haji itu merupakan mantan tentara Turki saat berperang melawan tentara Napoleon.

Di antara mereka bertiga, menurut Parlindungan, Haji Piobang menyandang pangkat tertinggi kolonel di kesatuan Janisari atau pasukan berkuda, Haji Sumanik pernah menjabat mayor pasukan artileri Turki, sedangkan Haji Miskin tidak mencapai pangkat hingga perwira. Ketiganya kelak menjadi ahli perang yang memiliki wawasan yang “menghancurkan” dalam menyulut Perang Padri. Ketika bertugas di Arab Saudi, para haji tersebut ditahan dan menjadi murid dari orang-orang Arab Saudi penganut mazhab Hambali dan pelopor gerakan Wahabi.

Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik bersama-sama mengimbau agar Sultan Pagaruyung saat itu, Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah, menyerukan semua kaum Adat agar kembali pada ajaran Islam murni tanpa mencampur-adukkan dengan adat istiadat. Usaha itu tentu saja sia-sia karena kedua kubu sama-sama merasa benar dan memegang teguh keyakinan mereka atas ajaran agama. Berbeda dengan Kaum Padri yang mengutamakan puritanisme Islam, Kaum Adat menjunjung tinggi pentingnya memegang teguh adat istiadat.

Sumber: Tirto.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here