Home Ekonomi Fakta Sejarah: Sarinah Digadang-gadang Sebagai Stabilisator Ekonomi Pada Masa Soekarno

Fakta Sejarah: Sarinah Digadang-gadang Sebagai Stabilisator Ekonomi Pada Masa Soekarno

124
0
Sumber: Kompas.com

Sarinah adalah properti multifungsi yang terdiri dari pusat perbelanjaan dan perkantoran. Strukturnya dirancang 15 lantai setinggi 74 meter.

Gedung Sarinah mulai dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan empat tahun kemudian oleh Presiden pertama RI, Soekarno. Sarinah merupakan pusat perbelanjaan sekaligus pencakar langit pertama di Indonesia. Peritel perdananya adalah Sarinah Department Store yang beroperasi pada 15 Agustus 1966.

Apa arti Sarinah itu sendiri?

BUMN Bakal Bangun Gedung 41 Lantai di Kawasan Sarinah Thamrin

Penamaan gedung ini diambil dari nama pengasuh Soekarno pada masa kecil. Saat itu, Soekarno menggagas pembangunan properti komersial ini, menyusul lawatannya ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern. Gagasan Soekarno juga sekaligus pencanangan berdirinya PT Sarinah (Persero) tepat pada 17 Agustus 1962.

Gedung Sarinah yang saat ini berdiri sejatinya dibangun dengan biaya pampasan perang pemerintah Jepang.

Pada awal berdirinya Sarinah, situasi makro ekonomi Indonesia dalam keadaan yang sangat buruk. Oleh sebab itu Sarinah diharapkan akan menjadi stimulan, mediator dan alat distribusi serta berfungsi sebagai stabilisator ekonomi.

Selain itu, Sarinah juga diharapkan menjadi pelopor dalam pengembangan usaha perdagangan eceran (ritel) serta berpartisipasi dalam perubahan struktur perekonomian Indonesia. Sesuai dengan namanya, Sarinah telah membantu kepentingan masyarakat kecil sebagai mitra usaha.

Peritel perdana Sarinah adalah Sarinah Department Store yang beroperasi pada 15 Agustus 1966. Department Store ini menyediakan berbagai kebutuhan wanita, anak, dan pria. Pada awal pembukaan, hanya tiga lantai saja yang diperkenalkan ke masyarakat.

Lantai I menyediakan perlengkapan wanita dan pria, perlengkapan listrik serta penerangan. Kemudian, lantai II tersedia barang-barang tekstil, konveksi, dan mainan anak. Sementara lantai III berisi perlengkapan rumah tangga dan alat tulis. Selain itu, Sarinah juga menyediakan barang makanan serta bumbu dapur. Dengan segala kelengkapannya, Soekarno pada waktu itu menyebutnya sebagai “Toko Serba Ada”.

Hingga saat ini cukup banyak mitra binaan Sarinah baik perorangan, perusahaan maupun koperasi. Dalam perjalanannya, Sarinah mengalami pasang surut. Bahkan pada tahun 1984 gedung Sarinah pernah mengalami kebakaran. Namun karena didorong oleh keinginan untuk melayani masyarakat, Sarinah yang telah menjadi aset nasional bangkit kembali.

Sebagai mitra usaha kecil, terutama pengrajin, Sarinah ingin berperan lebih besar dalam memperkenalkan produk nasional ke mancanegara lewat ekspor yang semakin ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Adapun peritel lain yang mengisi pusat perbelanjaan dan perkantoran Sarinah saat ini adalah 24 Dim Sum Resto, Abba Ties, Accent, Afterhour Restaurant, Alfalink, Alia Jewelry & Craft, Apple Green Shoes, Ariwani, Arnold Palmer, Bakmi Pertama, Ayam Goreng Fatmawati, Baraya, Batik Danar Hadi, Batik Keris, Beauty Style, By Ford. Kemudian, C2, Caribu Coffee, Chatime, Chilli’s Grill & Bar, Cintya, Citi Cuts, Clarks, Coco Thai, D’Place Steak & Beer House, Daisko Express, Demang Restaurant, Desoku, Dunkin Donuts, Elle, Esprit, Excelso, Executive Ladies, F Bar & Restaurant, Factor, Galeri Indosat, Galeri Halo, gerai HALOSarinah, Global Teleshop, Goldmart, Gossip, Guardian, Guess, Haikara Sushi, Harni Batik. Lalu, Hammer, Hero Supermarket, Hot Planner Restaurant, Hushpuppies, Inul Vizta, Iwan Tirta, Janji Jiwa & Jiwa Toast Sarinah Mall, Kabaya Kabaya, Kay Collection, Kerajinan, KFC, Kevi & Leiza, Kicker’s, Komala, Koper, Lee Cooper, Logo, Loreal, Marie Claire, Makeover, Masterpiece KTV Family, Max Factor, Maybelline, McDonalds, McKy, MG Sports, Miko Coffee, dan lain sebagainya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here