Home Merdeka Fakta Sejarah, Peran Santri dalam TKR dan Pertempuran 10 November

Fakta Sejarah, Peran Santri dalam TKR dan Pertempuran 10 November

256
0

SEJARAHONE.ID – Pada era pasca reformasi, banyak sekali distorsi sejarah yang dilakukan kelompok tertentu. Hal ini seolah meminggirkan peran ulama dan umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan. Padahal sejatinya, ulama dan umat Islam memegang peran terdepan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dipinggirkannya peran ulama dan umat Islam termasuk dalam sejarah Tentara Keamanan Rakyat (atau biasa disingkat dengan TKR) adalah sebuah nama angkatan perang pertama yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 

TKR dibentuk pada tanggal 5 Oktober 1945 berdasarkan maklumat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. TKR pertama, yang nanti menjadi TNI. Dan komandan divisi pertama TKR itu bernama Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih Kyai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat resimen Kyai juga yang memimpin.

 

Fakta sejarah mencatat, resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon pun banyak komandan Kyai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor KH. Iskandar. Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah NU Kabupaten Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada Sekretariat Negara dan TNI.

 

Tapi semua data itu tidak ada di buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran Kyai. KH. Hasyim Asy’ari yang ditetapkan pahlawan oleh Bung Karno pun tidak ditulis. Jadi jasa para Kyai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini.

 

Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Tidak ada dana untuk bayar tentara. Hanya para Kyai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Hanya para Kyai, dengan tentara-tentara Hizbulloh yang mau korban nyawa tanpa dibayar. Tentara  baru menerima gaji pada tahun 1950. Selama perjuangan 45 sampai di tahun 50-an itu, tidak ada tentara yang dibayar negara.

 

 

Sebelum pertempuran 10 November, ternyata ada perang 4 hari di Surabaya. Tanggal 26, 27, 28, 29 oktober 1945. Hal ini karena sebelum tanggal 26 Oktober, Surabaya bergolak, setelah ada fatwa resolusi jihad PBNU pada tanggal 22 Oktober. Kini diperingati sbg Hari Santri.

 

Tentara Inggris sendiri sebenarnya tidak pernah berfikir akan perang dan bertempur dengan penduduk Surabaya. Perang dunia telah usai 15 Agustus 1945, sehingga tentara Inggris pun berpikir tidak ada lagi peperangan. Namun, karena masarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad, mereka pun menyerang tentara Inggris yang menduduki Surabaya. Ketika itu tentara Inggris mendarat di Surabaya, dan mendirikan kantor perwakilan di Surabaya. Sejarah inilah yang selama ini ditutupi.

 

Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris tidak logis, karena untuk apa mereka membom Surabaya tanpa sebab. Namun jika melihat rangkaian dari resolusi jihad, baru masuk akal, bahwa mereka marah karena jenderal dan pasukannya dibunuh arek-arek Suroboyo.

 

Munculnya Fatwa Jihad

Fatwa Jihad muncul karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepadaPBNU. Bung Karno mempertanyakan,  apa yang harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai. Bung Karno juga menyatakan bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui dunia. Sejak diproklamasikan 17 Agustus, tidak ada satupun negara di dunia yang mau mengakui.

 

Oleh dunia, Indonesia diberitakan sebagai Negara boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Fatwa dan Resolusi Jihad lalu dimunculkan oleh PBNU. Dikarenakan atwa jihad tersebut, Inggris yang hendak datang 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap perang.

 

Ternyata sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilakan. “Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”. Ditunjukkanlah beberapa lokasi, kemudian mereka masuk. Tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang ditumpuk dan diisi senapan mesin. Penduduk Surabaya pun mempertanyakan langkah Inggris. Ternyata, tersiar kabar bahwa Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris. Sehingga pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan Inggris itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar melawan pasukan inggris. Para pelaku mengatakan, itu bukan perang mas, tapi tawuran. Kenapa? Karena tidak ada komandanya, serta tidak ada yang memimpin. Dasar mereka berperang adalah seruan jihad. Seruan jihad juga dilontarkan Kyai Hasyim. Warga Surabaya turun ke jalan berduyun-duyun menyerang tentara Inggris dengan semangat seruan jihad, dengan berteriak lantang ‘Allahu Akbar’. Serangan pada tentara Inggris itu berlangsung 27 Oktober 1945.

 

Mereka bergerak karena seruan jihad Kyai Hasyim itu disiarkan lewat mushola-mushola, masjid-masjid, dan spiker-spiker. Pada 28 Oktober, TKR pun mengikuti arus warga Surabaya melawan tentara Inggris. Kemudian, massa langsung dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini, 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh.

Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi. Inggris akhirnya mendatangkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta utk mendamaikan. Pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai untuk tidak saling tembak-menembak, kemudia kesepakatan damai ditanda tangani Gubernur Jatim.

 

Pada 30 Oktober, akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby digranat arek-arek Suroboyo. Mati mengenaskan di tangan pemuda Ansor. Ditembak, mobilnya digranat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh Indonesia. Inggris marah atas kematian Mallaby dan kekalahannya. Sebagai negara kolonial, Inggris malu dikalahkan masyarakat sipil yang tidak terlatih. Perang dunia sudah selesai, tapi pasukan Inggris terus diserang. Jendral tertinggi Inggris mengancam akan membumihanguskan Surabaya, jika sampai tanggal 9 Nopember 1945 jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan. Pada tanggal itu orang-orang surabaya masih yang memegang bedil, meriam dan tidak akan menyerahkan senjata kepada tentara Inggris.  Kemudian, datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak. Meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Diturunkan pula meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan. Satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Surabaya kala itu memang mau dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.

 

Pada 9 November jam setengah empat sore, Kyai Hasyim yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar arek-arek Suroboyo diancam Inggris. “Fardhu a’in bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilo dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya”. Maksud dari 94 kilo itu adalah jarak dibolehkannya solat qoshor. Kemudian warga dari wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek,Kediri, wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilo. Dari Kediri, Lirboyo ini datang dipimpin Kyai Mahrus. Seruan Kyai Hasyim langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilo datang- ke Surabaya ikut seruan jihad. Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama juga ikut berperang. Orang Konghucu, Kristen, dan Budha semua ikut jihad. Selain Mallaby, pertempuran di Surabaya menewaskan Brigadir jendral Loder Saimen. Perjuangan dan pengorbanan arek-arek Surabaya, para Kyai, dan santri sungguh luar biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here