Home Uncategorized Fakta Sejarah Kerajaan Demak

Fakta Sejarah Kerajaan Demak

33
0

SEJARAHONE.ID – Demak merupakan sebuah kesultanan (kerajaan) Islam di pesisir utara Jawa Tengah (Deliar, 1983). Terdapat beberapa pendapat tentang dari mana asal istilah Demak. Pertama, Demak berasal dari bahasa Kawi yang artinya pegangan atau pemberian. Kedua, Demak barasal dari bahasa Arab dama’, yang artinya air mata.

Pemberian nama tersebut dikaitkan dengan usaha susah-payah yang dilakukan untuk menegakan Islam di Jawa. Ketiga, Demak juga berasal berasal dari bahasa Arab dimyat. Banyak terdapat berita yang berlainan mengenai keberadaan Demak namun Demak seperti telah diketahui oleh para peneliti maupun masyarakat banyak merupakan salah satu tonggak keberhasilan awal Islam di Jawa.

Demak hadir ketika kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada tahun 1478, dengan ditandai candra sangkala, sirna ilang kertaning bumi yang berarti 1400 Jawa. Keturunan Majapahit ini membuat daerah pantai seperti, Tuban, Gresik, Panarukan, Demak, Pati, Yuwana, Jepara dan Kudus menyatakan diri lepas dari kekuasaan Majapahit. Setelah kerajaan Majapahit redup dari pangung sejarah Nusantara, kemudian muncul kerajaan baru, yaitu kesultanan Demak, yang rajanya masih keturunan dari Dinasti Majapahit.

Sultan Demak yang pertama bernama Raden Patah atau Sultan Syah Alam Akbar. Beliau adalah putra Prabu Brawijaya V, raja Majapahit terakhir (Purwadi, 2010). Sebelum mendirikan Kerajaan Demak, Raden Patah terlebih dahulu membina basis pesantren. Raden Patah dalam menjalankan pemerintahannya, terutama dalam persoalan-persoalan agama, dibantu oleh para ulama, yakni Wali Sanga (Badri, 1996). Peradaban Islam Jawa mulai berkembang lebih kukuh sejak berdirinya Kerajaan Demak.

De Graaf mengatakan bahwa peradaban Islam mampu mengganti peradaban Hindu Jawa kuno Majapahit. De Graaf mengatakan “baru setelah kemenangan politik dan budaya menyebabkan ajaran dan tatanan baru menurut Islam mudah diikuti oleh masyarakat di kepulauan Nusantara (Purwadi, 2010).” Ada dua pendapat tentang kejatuhan kerajaan Majapahit. Pertama perang dengan Demak dan kedua kejatuhan Majapahit diakibatkan karena kelemahan ekonomi serta keruntuhan dalam negeri sendiri.

Pergolakan-pergolakan yang terjadi antara kota perdagangan dan Majapahit pada dasarnya karena perbedaan agama. Kota-kota perdagangan di pesisir utara telah dipengaruhi Islam sedangkan Majapahit masih beragama Hindu. Perdagangan dengan luar negeri dikuasai oleh orang-orang asing seperti para saudagar muslim dari Persia, Gujarat (India Selatan), dan juga orang-orang Cina.

Pada akhir abad ke-14 kekuasaan Majapahit mulai mundur dan timbul perpecahan dari dalam (perang Paregreg), sedangkan di pesisir mulai tumbuh subur kota-kota perdagangan yang dikuasai oleh orang-orang Islam. Sekitar 1520 M. Kekuasaan Majapahit telah runtuh, dan beralih ke kesultanan Demak di daerah pantai utara Jawa Tengah. Demak adalah kesultanan atau kerajaan Islam pertama di pulau jawa. Kerajaan ini didirikan oleh raden Patah (1478-1518) pada tahun 1478, raden patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang menjabat sebagai adipati kadipaten Bintara Demak.

Pamor kesultanan ini didapatkan dari Walisanga, yang terdiri atas sembilan orang ulama besar, pendakwah Islam paling awal di pulau Jawa. Atas bantuan daerah-daerah lain yang sudah lebih dahulu menganut Islam seperti Jepara, Tuban dan Gresik, Raden Patah sebagai adipati Islam di Demak memutuskan ikatan dengan Majapahit saat itu, Majapahit memang tengah berada dalam kondisi yang sangat lemah. Dengan proklamasi itu, radeh Patah menyatakan kemandirian Demak dan mengambil gelar sultan Syah Alam Akbar.

Pada awal abad ke 14, kaisar Yan Lu dari Dinasti Ming di China mengirimkan seorang putri kepada raja Brawijaya V di Majapahit, sebagai tanda persahabatan kedua negara. Putri yang cantik jelita dan pintar ini segera mendapat tempat istimewa di hati raja. Raja Brawijaya sangat tunduk kepada semua kemauan sang putri jelita, hingga membawa banyak pertentangan dalam istana majapahit. Pasalnya sang putri telah berakidah tauhid. Saat itu, Brawijaya sudah memiliki permaisuri yang berasal dari Champa (sekarang bernama kamboja), masih kerabat raja Champa. Sang permaisuri memiliki ketidak cocokan dengan putri pemberian kaisar Yan Lu. Akhirnya dengan berat hati raja menyingkirkan putri cantik ini dari istana.

Dalam keadaan mengandung, sang putri dihibahkan kepada adipati Pelembang, Arya Damar. Nah di sanalah raden Patah dilahirkan dari rahim sang putri cina. Nama kecil raden patah adalah pangeran Jimbun. Pada masa mudanya raden Patah memperoleh pendidikan yang berlatar belakang kebangsawanan dan politik. 20 tahun lamanya ia hidup di istana Adipati Palembang. Sesudah dewasa ia kembali ke Majapahit. Raden Patah memiliki adik laki-laki seibu, tapi beda ayah. Saat memasuki usia belasan tahun, raden Patah bersama adiknya berlayar ke Jawa untuk belajar di Ampel Denta.

Mereka mendarat di pelabuhan Tuban pada tahun 1419 M. Raden Patah sempat tinggal beberapa lama di Ampel Denta, bersama para saudagar muslim ketika itu. Di sana pula ia mendapat dukungan dari utusan kaisar Cina, yaitu laksamana Cheng Ho yang juga dikenal sebagai Dampo Awang atau Sam Poo Tai-jin, seorang panglima muslim. Raden patah mendalami agama Islam bersama pemuda-pemuda lainnya, seperti raden Paku (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan raden Kosim (Sunan Drajat).

Setelah dianggap lulus, raden Patah dipercaya menjadi ulama dan membuat permukiman di Bintara. Ia diiringi oleh sultan Palembang, Arya Dilah 200 tentaranya. Raden Patah memusatkan kegiatannya di Bintara, karena daerah tersebut direncanakan oleh Walisanga sebagai pusat kerajaan Islam di Jawa. Di Bintara, raden Patah juga mendirikan pondok pesantren. Penyiaran agama dilaksanakan sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Perlahan-lahan, daerah tersebut menjadi pusat keramaian dan perniagaan. Raden Patah memerintah Demak hingga tahun 1518, dan Demak menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa sejak pemerintahannya.

Secara beruturut-turut, hanya tiga sultan Demak yang namanya cukup terkenal, yakni raden Patah sebagai raja pertama, Adipati Muhammad Yunus atau Pati Unus sebagai raja kedua, dan Sultan Trenggana, saudara Pati Unus, sebagai raja ketiga (1524-1546). Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, diantaranya adalah perluasan dan pertahanan kerajaan, pengembangan Islam dan pengamalannya, serta penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa).

Keberhasilan raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan majapahit. Selain itu, Patah juga mengadakan perlawan terhadap portugis, yang telah menduduki malaka dan ingin mengganggu Demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus atau pangeran Sabrang Lor (1511), meski akhirnya gagal.

Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang menggantikan ayahnya pada tahun 1518. Dalam bidang dakwah Islam dan pengembangannya, raden Patah mencoba menerapkan hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisanga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here