Home Ekonomi Fakta Dibalik Alasan Bung Karno Batal Pindahkan Ibu Kota ke Palangka Raya

Fakta Dibalik Alasan Bung Karno Batal Pindahkan Ibu Kota ke Palangka Raya

183
0
Keakraban Soekarno dan Hatta

Sejarahone.id – Presiden pertama RI, Soekarno pernah berkeinginan memindahkan Ibu Kota  atau pusat pemerintahan dari Jakarta ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Namun, hal itu pun tak kunjung terealisasi oleh Bung Karno.

Sejarahwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPIAsvi Warman Adam menyebutkan, pemilihan Palangka Raya dipilih Soekarno sebagai calon Ibu Kota sejalan dengan datangnya Bapak Proklamasi tersebut meresmikan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 1957. Menurut Asvi, Palangka Raya emiliki posisi di tengah-tengah Indonesia.

Penyelenggaraan Asian Games IV/1962 di Jakarta pun menggagalkan rencana Presiden Soekarno untuk memindahkan Ibu Kota negara dari Jakarta ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

“Persiapan Asian Games menyebabkan rencana pemindahan ibu kota terbengkalai. Hingga 1965 ada peralihan kekuasaan sehingga ide ibu kota tidak terdengar lagi,” katanya dalam diskusi Polemik soal “Gundah Ibu Kota Dipindah”, di Jakarta, dilansir dari Antara, Sabtu (24/8/2019).

Menurutnya, Bung Karno sangat serius untuk memindahkan Ibu Kota. Pasalnya, ketika itu sudah ada desain sederhana tentang Palangka Raya menjadi ibu Kota baru Indonesia.

Bung Karno pun meninjau langsung ke Palangkaraya untuk menindaklanjuti wacana tersebut. Namun menjelang 1960-an, niat Bung Karno  harus ditangguhkan karena ada tawaran Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV/1962.

Bung Karno kemudian fokus membangun di Jakarta,  dibangunlah Hotel (Indonesia), Gedung Sarinah, bahkan patung selamat datang di HI untuk ucapan selamat datang para atlet di Indonesia,” tuturnya.

Ia menyebutkan rencana pemindahan ibu kota egara karena ada faktor pendorong dan penarik. Dalam sejarah Indonesia, ketika pusat pemerintahan di pindah ke Yogyakarta ketika itu ada faktor pendorong di mana Jakarta dalam kondisi tidak aman.

“Yogyakarta ditawarkan jadi pusat pemerintah karena ada situasi genting yang menjadi faktor pendorongnya. Begitu juga ketika Presiden sempat mengirim surat pembentukan pusat pemerintahan darurat di Bukittinggi karena ada faktor darurat,” ujarnya.

Urgensi Pindah Ibu Kota

Rencana Jokowi untuk memindahkan ibu kota, menurut Asvi, sudah sangat diperlukan karena berbagai faktor pendorong itu sudah ada sekarang. “Kemacetan kita bisa bayangkan 40 tahun lagi. Banjir, tenggelamnya Jakarta Utara, belum lagi kemacetan dan lain-lain,” katanya.

Dengan dipindahkan Ibu Kota diharapkan akan mendorong pembangunan ekonomi ke arah timur. “Harapannya diletakan di tengah-tengah akan mendorong pembangunan ekonomi dan pembangunan ekonomi yang menoleh ke timur,” katanya.

Pada banyak negara yang memindahkan Ibu Kota negaranya, terjadi pemisahan peran benar-benar antara ibukota pemerintahan dan “Ibu Kota bisnis” alias pusat bisnis dan lain-lain.

Di antara negara itu adalah pemisahan antara Kuala Lumpur dengan Putrajaya di Malaysia, di mana Putrajaya benar-benar difungsikan sebagai Ibu Kota negara. Hal lain yang dicatat adalah posisi Ibu Kota baru itu tidak selalu ada di tengah-tengah negara bersangkutan. Canberra di Australia sebagai contoh, ada di pantai tenggara negara benua itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here