Home Merdeka Emmy Saelan, Kisah Pejuang Perawat Penantang Belanda

Emmy Saelan, Kisah Pejuang Perawat Penantang Belanda

190
0

Oleh: Hamzah Afifi

SEJARAHONE.ID – Pada 5 April 1946, Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi beserta enam stafnya yang anggota PNI ditangkap Belanda. Emmy Saelan termasuk di antara para perawat yang melakukan pemogokan sebagai protes atas penangkapan gubernurnya.

Belanda lalu mengirimkan pasukan yang terkenal sangat bengis pimpinan Westerling. Westerling pun memulai sebuah operasi pembersihan, yang sasarannya adalah para pejuang republik.

Inilah peristiwa yang dikenang sebagai korban 40 ribu jiwa itu. Sementara itu, Emmy Saelan dan kawan-kawannya terus melakukan gerilya. Akan tetapi, desakan pasukan Belanda sangat kuat.

Pada 23 Januari 1947 malam, dipinggir kota Makassar Emmy Saelan, memimpin sekitar 40 orang pasukan bertempur dengan Belanda. Pertempuran terjadi dalam jarak yang sangat dekat. Seluruh anak buah Emmy gugur dalam pertempuran itu. Tinggal Emmy sendirian.

Pasukan Belanda mendekat dan memerintahkan Emmy menyerah. Tetapi, ia menolak dan terus melawan. Dan, karena senjata ditangannya tinggal granat, maka dilemparkanlah granat itu ke pasukan Belanda. Pasukan Belanda pun bergelimpangan, tetapi Emmy turut gugur dalam pertempuran jarak dekat itu.

Emmy Saelan, perempuan cantik berkulit putih itu, telah memilih gugur dengan jalan sangat terhormat. Ia adalah salah perempuan Indonesia yang telah mengorbankan dirinya di usia sangat muda untuk revolusi nasional.

Jenazahnya kemudian dikuburkan oleh Belanda saat itu juga langsung di lokasi kejadian. Sesudah situasi pulih, jenazah itu digali kembali dan dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan Panaikang. Di sana dia dimakamkan secara layak dengan penghormatan besar.

Untuk mengenang kepahlawanannya, pernah diusulkan untuk membangun patung Emmy. Namun usul itu ditolak keluarga karena bertentangan dengan keyakinan agama yang dianut.

Sebagai gantinya, di lokasi gugurnya Emmy dibangun Monumen Emmy Saelan. Monumen ini terletak di kota Makassar di jalan Toddopuli. Sayang sekali keadaan monumen ini sekarang menyedihkan dan tak terawat.

Nama Emmy Saelan akan terus abadi. Di Makassar, ada sebuah jalan, yang dulunya rute gerilya Emmy, telah dinamai “Jalan Emmy Saelan”. Tidak hanya di Makassar, tetapi nama “Jalan Emmy Saelan” hampir terdapat di semua kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Emmy lahir di Malangke Barat, Luwu Utara, pada 15 Oktober 1924, sebagai putri sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Amin Saelan, adalah tokoh pergerakan taman siswa di Makassar dan sekaligus penasehat organisasi pemuda.

Salah seorang adiknya yang laki-laki, Maulwi Saelan, adalah tokoh pejuang dan pernah menjadi pengawal setia Bung Karno, sedangkan kakak perempuannya Elly Sailan adalah istri dari salah seorang tokoh Supersemar Jenderal M. Jusuf.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here