Home Ekonomi Kejahatan Ekonomi Liberal di Masa Kolonial Belanda

Kejahatan Ekonomi Liberal di Masa Kolonial Belanda

60
0
Tentara Belanda yang Menjajah Indonesia

SEJARAHONE.ID – Ketika penjajah Belanda berkuasa di nusantara, yakni selama 350 tahun mereka menguasai seluruh lini kehidupan nusantara, termasuk sistem ekonomi. Sistem Ekonomi Liberal digunakan pada Masa Kolonial, dan jaman itu disebut sebagai masa liberalisme. 

Sejarah mencatat, bahwa nusantara pada tahun  1870-1900 mengalami masa liberalisme. Di mana kaum pengusaha Belanda dan modal swasta diberikan peluang oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menanamkan modalnya dalam berbagai usaha kegiatan di Indoensia.

Ketika Belanda berkuasa, beberapa negara imperalis pun tengah melakukan penjajahan di beberapa negara lain, seperti Inggris yang menjajah India, Malaysia dan beberapa negara Asia. Kemudian, pada Abad 19 para pelaku usaha Belanda menanamkan modal terutama di industri-industri perkebunan besar baik di Jawa maupun luar Jawa.

Selama masa liberalisme ini, modal swasta dari Belanda dan negara-negara Eropa lainnya telah mendirikan perkebunan kopi, teh, gula, dan kina yang cukup besar. Pada masa liberalisme ini juga, sistem tanam paksa di Indonesia sudah dihapuskan. Dengan bebasnya kehidupan ekonomi dari pemerintah, mendorong perkembangan ekonomi Hindia-Belanda.

Pada masa liberal itu,  penetrasi ekonomi maju, terutama di Jawa. Penduduk pribumi di Jawa mulai menyewakan tanah-tanahnya kepada pihak swasta Belanda untuk dijadikan perkebunan besar.

 Adanya perkebunan-perkebunan tersebut, memberikan peluang bagi rakyat Indonesia untuk bekerja sebagai buruh perkebunan. Perkembangan pesat perkebunan teh, kopi, tembakau, dan tanaman perdagangan lainnya berlangsung antara 1870-1885.

Selama itu Penjajah Belanda meraup keuntungan besar. Krisis perdagangan Setelah tahun 1885, perkembangan tanaman perdagangan mulai anjlok. Jatuhnya harga gula dan kopi di pasar dunia, diakibatkan karena Eropa mulai menanam gula sendiri.

Sehingga mereka tidak memerlukan impor gula dari Indonesia. Krisis perdagangan ini mengakibatkan terjadinya reorganisasi dalam kehidupan ekonomi Hindia Belanda.  Perkebunan besar bukan lagi milik perseorang tetapi diorganisasi sebagai perseroan terbatas.

Rakyat Semakin Miskin

Pada akhir abad ke-19, terjadi perkembangan dalam ekonomi Hindia Belanda. Sistem ekonomi liberalisme murni ditinggalkan dan bergantung menjadi sistem ekonomi terpimpin.

Ekonomi Hindia Belanda, khususnya Jawa mulau dikendalikan oleh kepentingan finansial dan industriil di negeri Belanda dan tidak diserahkan kepada pemimpin perkebunan besar yang ada di Jawa. Pada masa liberalisme industri perkebunan di Jawa berkembang pesat, kondisi kesejahteraan rakyat Indonesia justru mundur, sementara pemilik Modal (Penjajah Belanda) terus mengeksploitasi sumber daya dan meraih banyak keuntungan

Hal ini karena penduduk di Jawa semakin bertambah, sehingga memperbesar tekanan terhadap sumber-sumber bahan pangan. Tanah dengan kualitas terbaik sudah digunakan untuk tanaman dagang, sehingga padi hanya ditanam di lahan yang tandus. Pembebasan tanam paksa, ternyata hanya memberikan sedikit perbaikan.

Pasalnya pajak tanah dan bentuk pembayaran lain masih harus dilakukan rakyat kepada pemerintah.eberapa faktor yang menyebabkan kemiskinan rakyat Indonesia khususnya Jawa, di antaranya: Kemakmuran rakyat ditentukan oleh perbandingan jumlah penduduk dengan faktor produksi lain, seperti tanah dan modal. Rakyat bermodal sedikit, sedangkan jumlah penduduknya banyak.

Rakyat semakin melarat, sehingga hanya dijadikan umpan bagi kaum kapitalis Penghasilan rakyat diperkecil dengan sistem verscoot (uang muka) Sistem tanam paksa dihapus, namun masih berlaku sistem batiq saldo. Krisis tahun 1885 mengakibatkan penciutan kegiatan pengusaha perkebunan gula, artinya menurunkan upah kerja dan sewa tanah bagi penduduk.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here