Home Pahlawan Dewi Sartika, Pahlawan Nasional Sekaligus Pejuang Pendidikan Perempuan

Dewi Sartika, Pahlawan Nasional Sekaligus Pejuang Pendidikan Perempuan

160
0

SEJARAHONE.ID – Raden Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pejuang emansipasi perempuan. Sama halnya dengan RA Kartini, perempuan yang dilahirkan di Cicalengka Jawa Barat, 4 Desember tahun 1884 ini, bercita-cita memajukan pendidikan para perempuan.

Dewi Sartika dibesarkan oleh seorang priyayi (kelas bangsawan) Sunda yaitu Raden Somanagara. Ibunya bernama Nyi Raden Ayu Rajapermas. Kedua orangtua Dewi Sartika juga merupakan pejuang Indonesia yang menentang pemerintah Hindia Belanda.

Akibatnya, mereka mendapat hukuman keras dari pemerintah Hindia Belanda, diasingkan ke Ternate dan terpisah dari Dewi Sartika. Setelah kedua orang tua Dewi Sartika meninggal, dia diasuh oleh pamannya yang merupakan kakak kandung dari Ibundanya, yang bernama Aria. Dia merupakan seorang patih di Cicalengka. Dari sang Paman, Dewi Sartika mendapatkan ilmu pengetahuannya terkait adat budaya sunda.

Selain itu, seorang Asisten Residen berkebangsaan Belanda juga mengajarkan Dewi Sartika tentang budaya dan adat bangsa Barat. Kedua orang tua Dewi Sartika sebenarnya sudah mengenalkannya tentang pendidikan sedari kecil, meskipun hal tersebut bertentangan bagi seorang perempuan. Dewi Sartika juga mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di Cicalengka.

Minat Dewi Sartika terhadap dunia pendidikan terlihat sejak masih anak-anak. Dia seringkali bermain guru-guruan dengan anak seusianya. Karena mahir membaca dan menulis, Dewi Sartika sering berperan sebagai guru. Dia mengaplikasikan kemampuannya dengan mengajarkan anak-anak di sekitarnya, khususnya anak perempuan pribumi.

Dewi Sartika juga memiliki kemampuan berbahasa Bahasa Belanda. Masuk usia remaja, Dewi Sartika mulai mengajarkan baca dan tulis kepada warga sekitar. Hal inilah yang menjadi cikal bakal Dewi Sartika agar anak-anak perempuan memperoleh pendidikan yang sama.

Dewi Sartika mulai mendirikan sekolah pada 16 Januari 1904. Hal ini mendapatkan dukungan dari Kakeknya, Raden Agung A Martanegara dan seorang Inspektur Kantor Pengajaran, Den Hamer. Dewi Sartika berhasil mendirikan sebuah sekolah untuk kaum perempuan yang bernama Sekolah Isteri.

Di sekolah itu, para wanita tidak hanya sekadar belajar membaca, menulis dan berhitung. Mereka turut belajar menjahit, merenda dan belajar agama. Dua tahun setelah mendirikan Sekolah Isteri, tepatnya pada 1906, Dewi Sartika menikah dengan salah seorang guru di Sekolah Karang Pamulang, yang menjadi Sekolah Latihan Guru. Kesamaan visi dan misi di antara mereka berdua menambah semangat Dewi Sartika.

Ternyata jumlah wanita yang ingin bersekolah terus meningkat. Alhasil, ruang kelas ditambah dengan meminjam sebagian ruang kepatihan Bandung. Namun, masyarakat yang mendaftar terus bertambah setiap harinya. Karena ruang kepatihan Bandung yang telah dipinjam sudah tidak cukup lagi, sekolah dipindahkan.

Perpindahan tempat turut mengubah nama sekolah menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Sejalan dengan kepindahan sekolah, pada tahun 1910, Sekolah Keutamaan Isteri resmi dibuka di gedung yang lebih luas. Sekolah keutamaan Isteri yang telah dibuka memiliki beberapa perbedaan dari sebelumnya.

Para wanita tidak hanya diajarkan keterampilan seperti menjahit saja. Namun, dididik untuk menjadi istri. Gadis-gadis yang nantinya akan menjadi istri mendapat pelajaran bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang baik, mandiri dan terampil.

Dua tahun setelah perpindahan Sekolah Keutamaan Isteri, perempuan-perempuan di tanah Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika mulai berani mendirikan sekolah-sekolah untuk perempuan. Hingga tahun 1912, jumlah sekolah isteri mencapai sembilan sekolah.

Tidak hanya itu, banyaknya sekolah perempuan di Sunda memunculkan kembali ide untuk mendirikan organisasi. Tahun 1913, berdiri Organisasi Keutamaan Isteri yang bertujuan untuk menaungi sekolah-sekolah yang telah didirikan di Tasikmalaya. Organisasi ini sengaja dibentuk, guna menyatukan sistem pembelajaran dari sekolah-sekolah yang telah dibangun Dewi Sartika.

Sekolah Keutamaan Isteri kembali berubah nama menjadi Sekolah Keutamaan Perempuan. Pada masa itu, seperempat wilayah Jawa Barat telah berdiri Sekolah Keutamaan Perempuan. Seorang wanita bernama Encik Rama Saleh, terinspirasi oleh Dewi Sartika. Dia juga mendirikan sekolah di wilayah Bukittinggi.

Tahun 1929, Sekolah Keutamaan Perempuan berubah nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Bahkan, Pemerintah Hindia Belanda memberikan apresiasi dengan membangunkan sebuah gedung sekolah baru yang lebih besar dari sebelumnya.

Dewi Sartika juga ikut banting tulang, untuk membayar pengeluaran operasional sekolah. Dia tak pernah mengeluh dan merasa terobati saat melihat kaumnya bisa memperoleh pendidikan.

Dewi Sartika hidup bersama warga dan pejuang di Sunda saat memasuki usia senja. Pada 1947, Belanda kembali melakukan serangan agresi militer. Dewi Sartika bersama seluruh rakyat pribumi dan pejuang lainnya ikut melawan untuk membela tanah air. Seluruh penduduk kemudian mengungsi untuk mempertahankan Indonesia.

Saat berada di pengungsian, pada 11 September tahun 1947, Dewi Sartika mengembuskan napas terakhirnya di Tasikmalaya. Karena masih dalam situasi perang, pemakaman dan upacara dilakukan secara sederhana. Pemakaman Cigagadon yang ada di Desa Rahayu, Kecamatan Cineam adalah makam dari Dewi Sartika.

Sekitar tahun 1950, makam Dewi Sartika dipindahkan ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jl Karang Anyar Bandung. Sesuai SK Presiden RI Nomor 152 Tahun 1966, Dewi Sartika mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional, tepatnya pada tanggal 1 Desember 1966. Saat itu juga, Sekolah Keutamaan Isteri berusia 35 tahun dan mendapat gelar Orde van Oranje-Nassau.

 

 

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here