Home Khasanah Cikal Bakal Lahirnya Serikat Dagang Islam

Cikal Bakal Lahirnya Serikat Dagang Islam

78
0

SejarahOne.id –Penjajahan Belanda terus berupaya menguasai nusantara. Ketika upaya tersebut berhasil dilakukan, Belanda  melakukan diskriminasi terhadap kaum pribumi. Dan kondisi terparah adalah melakukan sistem tanam paksa dan kerja paksa di nusantara. Kaum terdidik dan kaum agama (ulama) terus menentang penjajahan Belanda. Belanda menjadi risih terhadap Islam. Bahkan dalam bidang agama diterapkan pula sistem Nasranisasi melalui pengajaran-pengajaran di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda. Sejak tahun 1909 kegiatan misi Kristen semakin luas terutama dalam bidang pendidikan di mana sekolah-sekolah mendapat pengakuan pemerintah dan sering pula mendapat bantuan agar misi mereka dapat tercapai.

Hal ini dikarenakan, budaya dan keagamaan bangsa Indonesia yang sebelumnya telah memeluk agama Islam sebagai pedoman hidup, menjadikan penghalang bagi kelestarian kekuasaan Belanda, Islam menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi masyarakan untuk mengkritisi dan melawan kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan agama dan kemanusiaan. Seperti diskriminasi dan kekejaman yang dilakukan oleh pihak kolonial, telah banyak melahirkan perlawanan dari rakyat terutama oleh kelompok yang dipimpin oleh ulama-ulama Islam, seperti halnya Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Aceh dan perlawanan-perlwanan di daerah-daerah jajahan lainnya, yang mana itu semua lahir dari kesadaran beragama yang telah dianut oleh rakyat Indonesia yakni Agama Islam.

Pemerintah Kolonial Belanda, yang menghadapi rakyat Indonesia dengan mayoritas sebagai pemeluk Agama Islam, perlu memusatkan perhatian kepada politik terhadap Agama Islam. Sepanjang sejarah penjajahan, ideologi Islam ternyata merupakan kekuatan sosial yang besar sekali dalam mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan asing. Baik perang besar seperti Perang Padri dan Perang Aceh, maupun pemberontakan petani seperti peristiwa Cilegon dan Cimareme, kesemuanya dipimpin oleh pemuka Islam dan dijiwai oleh ideologi Islam. Karena pengetahuan penguasa kolonial mengenai Islam di Indonesia sangat kurang bahkan sering kali salah, politik yang mereka jalankan terlalu didasarkan atas perasan takut dan curiga dengan akibat bahwa setiap gerakan Kaum Muslimin dicap sebagai sangat membahayakan pemerintah.

Sarekat Islam Melahirkan Pergerakan Pemuda

Tekanan politik dan sosial-agama yang digencarkan oleh pihak kolonial di awal abad 20 telah menimbulkan reaksi perlawanan dari rakyat Bumi Putera, sehingga melahirkan pergerakan nasional dan salah satunya ialah Sarekat Islam yang sebelumnya bernama Sarekat Dagang Islam. Ada dua sebab yang melatarbelakangi didirikannya organisasi ini, pertama ialah adanya kompetensi yang meningkat dalam bidang perdagangan batik terutama dengan golongan Cina, dan sikap superioritas orang-orang Cina terhadap orang-orang Indonesia sehubungan dengan berhasilnya revolusi Cina dalam tahun 1911.

Disamping itu, dirasakan pula tekanan oleh masyarakat Indonesia di Solo ketika itu dari kalangan bangsawan mereka sendiri. Sarekat Dagang Islam dimaksudkan menjadi benteng bagi orang-orang Indonesia yang umumnya terdiri 36 dari pedagang-pedagang batik di Solo terhadap orang-orang Cina dan para bangsawan tadi. Pihak kolonial melakukan monopoli perdagangan terhadap para pedagang batik pribumi, yakni melalui orang-orang Timur asing dalam hal ini ialah orang-orang Cina. Mereka mendapat bahan-bahan batik langsung dari importir Eropa dengan harga yang murah, sementara orangorang pribumi harus membeli bahan-bahan tersebut melalui orang-orang Cina dengan harga yang lebih tinggi. Selain itu orang-orang pribumi kesulitan dalam hal pemasarannya, karena harga pasar dikuasai oleh orang-orang Cina yang menjual batik lebih murah ketimbang batik-batik yang dipasarkan oleh orangorang pribumi.

Hal ini dikarenakan mereka orang-orang Cina sudah mulai membuat batik melalui mesin cetak, yang mana harga produksinya lebih murah ketimbang batik-batik ukir yang dijual dan dibuat oleh orang-orang pribumi. Hal semacam itu banyak terjadi khususnya di pasar Solo, yang kemudian menyebabkan inisiatif dari Haji Samanhudi dan kawan-kawannya para pedagang batik lainnya untk melakukan suatu tindakan dengan mendirikan Sarekat Dagang Islam di Laweyan-Solo yang dipimpin langsung olehnya.

Didirikannya organisasi ini bertujuan untuk mencegah kehancuran ekonomi rakyat dan menumbuhkan jiwa nasionalisme sesuai dengan identitas semangat keislaman sebagai pemersatunya seperti yang tercantum dalam nama organisasi tersebut. Jadi tujuan awal dari organisasi ini ialah dalam hal peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat pribumi.

Adapun secara resmi organisasi Sarekat Dagang Islam mempunyai asas dan tujuan sebagai berikuit: 1. Mengutamakan sosial ekonomi

  1. Mempersatukan pedagang-pedagang batik
  2. Mempertinggi derajat bumiputera
  3. Memajukan agama dan sekolah-sekolah Islam

Sarekat Dagang Islam lahir di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905 yang didirikan oleh Haji Samanhudi, seorang saudagar batik di Laweyan-Solo. Adapun mengenai kelahiran dan pendiri Sarekat Dagang Islam ini terdapat beberapa pendapat yang berbeda-beda, seperti dalam Arsip Nasional Republik Indonesia tahun 1975, dikatakan bahwasannya Sarekat Dagang Islam didirikan oleh R.M Tirtoadisoerjo pada tahun 1911 dan sebelumnya telah ada perkumpulan Sarekat Dagang Islam tersebut di Batavia pada tahun 1909.

Kedua perkumpulan pedagang-pedagang itu bertujuan untuk menghadapi persaingan dagang dengan pedagang-pedagang Cina.34 Selain itu, dalam penerbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia, PERPORA Nomor 8 tahun 1951 dalam judul “Kepartaian di Indonesia”, juga dalam buku terjemahan Dunia Baru Islam edisi bahasa Indonesia dikatakan bahwasannya SDI lahir atas usaha RM. Tirtoadisoerjo pada tahun 1909 di Bogor kemudian berdiri di Solo dan berubah menjadi Sarekat Islam.

Pada 10 September 1912 atas prakarsa H.O.S Tjokroaminoto, hal senada dikatakan pula oleh Kyai Haji Saefuddin Zuhri (1979) dalam buku Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, juga oleh Dr. Mohammad Hatta dalam buku Permulaan Pergerakan Nasional (1977). Berbeda halnya dengan penjelasan di atas, Haji Samanhudi sebagai pelaku sejarah memberi penjelasannya dalam wawancara dengan Tamar Jaya di Jakarta pada tahun 1955, Haji Samanhudi memberikan keterangannya sebagai berikut.

Dengan ikhlas, untuk kemurnian sejarah pergerakan Indonesia, dengan ini saya terangkan bahwa SDI dilahirkan pada tanggal 16 Oktober 1905, di rumah saya di kampung Sandakan Solo dengan delapan orang teman yaitu: saudara Sumawardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suropranoto, Jarmani, Hardjosumarto, Sukir dan Martodikoro.

Kemudian setelah didapat kata sepakat mendirikan Sarekat Dagang Islam, maka dibentuk pengurus baru, yakni:

  1. Ketua : Haji Samanhudi
  2. Penulis I : Sumowardoyo
  3. Penulis II : Sukir
  4. Pembantu : Jamal Surodisastro
  5. Pembantu Keuangan : Sukir dan Haji Saleh
  6. Pembantu : Hajosumanto
  7. Pembantu : Wiryosutirto
  8. Pembantu : Atmo

Lalu perubahan Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam yang mana biasa disebut SI saja, Haji Samanhudi memberi penjelasan sebagai berikut: Waktu diadakan kongres pertama SDI di Solo tahun 1906, namanya ditukar menjadi Sarekat Islam (SI).

Berubahnya nama organisasi tersebut menjadi Sarekat Islam terjadi pada tanggal 16 Oktober 1905 yang bertempat di Solo sebagai awal lahirnya organisasi Sarekat Dagang Islam, sebagaimana telah dijelaskan oleh Haji Samanhudi melalui wawancara dengan Tamar Jaya pada tahun 1955. Akhirnya diakui secara resmi oleh Sarekat Islam dalam Anggaran Dasar 9 Maret 1980 disebutkan, bahwa Sarekat Islam adalah kelanjutan dari Sarekat Islam yang diaktekan pada tanggal 10 September 1912 sebagai penyempurna dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 di Solo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here