Home Ekonomi Cikal Bakal Kopi Menjadi Primadona

Cikal Bakal Kopi Menjadi Primadona

32
0
Pabrik Kopi Masa Hindia Belanda

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Kopi saat ini telah menjadi gaya hidup manusia modern. Sebelum menelusuri sejarah kopi, mari kita tinjau makna kopi secara bahasa. Kopi atau dalam bahasa inggris disebut coffee, berasal dari bahasa Arab “qahwa” yang lebih populer disamakan dengan terjemahannya dalam bahasa Turki “kahveh”.

Kata “qahwa” atau “kahveh” tersebut merujuk pada minuman yang terbuat dari biji yang diseduh dengan air panas. Selain itu, istilah “qahwa” juga berarti kuat, karena memang kopi dikenal sebagai minuman untuk meningkatkan energi dan stamina.

Kemudian, bagaimana asal mulanya kopi ditemukan oleh manusia. Ini ceritanya, jadi jauh 3000 tahun yang lalu, seorang pengembala kambing di dataran Afrika, negeri Ethiopia, melihat bagaimana kambing – kambingnya memakan beberapa biji buah menyerupai berry di pepohonan. Kambing-kambing tetap aktif serta terjaga karena kopi tersebut. Berawal dari situlah, sang pengembala mencoba untuk mengolah biji kopi tersebut dan memakannya dan akhirnya mendapatkan manfaat yang sama seperti yang dirasakan oleh kambing – kambingnya tersebut. Itulah awalnya kopi dikenal sebagai makanan yang bermanfaat untuk menambah energi dan mengusir rasa kantuk.

Hingga 500 tahun kemudian, alat penghancur dan pengolah biji kopi ditemukan serta menjadi awal mula kopi dinikmati sebagai minuman hingga saat ini. Lama berkembang di beberapa negara Afrika, Arab hingga Eropa dan Amerika, kopi kemudian merambah ke negara – negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Bibit Kopi Pertama

Bibit kopi pertama di Indonesia dikirim oleh Gubernur Belanda di Malabar, India, yakni berjenis Arabika yang berasal dari Yaman. Bibit kopi itu dikirim kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1696. Namun sayang, bibit itu gagal tumbuh akibat banjir di Batavia.

Kopi mulai dibawa ke Indonesia pada abad ke 17 oleh Belanda yang pada saat itu tengah menjajah Indonesia. Wajar, karena di negaranya, kopi sangat sulit dikembangkan karena faktor cuaca yang kurang mendukung.

Barulah di tahun 1711, kopi berhasil ditanam dan diekspor dari Jawa ke Eropa melalui perusahaan dagang Belanda, VOC (Verininging Oogst Indies Company).

Selama 10 tahun, budidaya kopi di Batavia terus berkembang pesat dan berhasil memberikan keuntungan yang sangat besar bagi Belanda.  Setelah sukses di Batavia, Belanda kemudian memperluas produksi kopinya di beberapa daerah di Indonesia, seperti di daerah Prenger, Jawa Barat, Sumatera Utara, Aceh, Bali, Sulawesi, hingga Papua.

Setetes Hikayat Kopi Toraja - Historia

Kopi Toraja, Sulawesi

Hampir semua kopi Indonesia ditanam di daerah dataran tinggi dengan tingkat kesuburan tanah dan cuaca yang baik. Itulah kenapa, hasil kopi di Indonesia berhasil menciptakan berbagai jenis Kopi Nusantara berkualitas terbaik dan menjadi favorit di dunia.

Pasca Kemerdekaan

Pasca kemerdekaan di tahun 1945, bekas – bekas perkebunan kopi milik Belanda itupun kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah. Sehingga, Indonesia secara berdaulat memiliki kendali penuh untuk menghasilkan dan mengekspor kopi di beberapa negara di dunia.

Termasuk Coffindo, yang saat ini memiliki perkebunan kopi milik swasta terluas di Indonesia, yakni sekitar 3.412 hektar. Adapun beberapa jenis Kopi Indonesia yang kini dikenal sebagai Indonesia Specialty Coffee (Kopi Khas Nusantara) di antaranya adalah Kopi Aceh Gayo, Kopi Sumatra Mandheling, Kopi Lintong, Kopi Kalosi Toraja, Kopi Lampung, Kopi Kintamani Bali, Kopi Jawa Prenger, dan Kopi Papua. Selain itu, Indonesia juga memiliki Kopi Luwak yang dikenal sebagai kopi termahal di dunia.

Pulau Jawa pernah menjadi juara dalam mensuplai kopi untuk Pemerintahan Belanda yang kemudian masuk ke pasar global. Namun, sejarah mencatat pada 1880, Jawa telah kehilangan potensi ekspor sekitar 120.000 ton  biji kopi sehingga menimbulkan kapanikan luar biasa di pasaran kopi dunia.Menurut Prawoto yang mengutip Fernando dalam karyanya Java, akibat serangan jamur putih itu, bisnis Kopi Jawa mengalami penurunan produksi.

Para pengamat industri kopi dunia mengungkap situasi yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) itu sebagai declining of Asian production yang turut mendorong kenaikan harga kopi di pasaran dunia.

Bencana yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) dimanfaatkan oleh para petani Brazil. Mereka lantas menanam kopi secara besar-besaran. Perlahan namun pasti, Brazil kemudian menggantikan posisi Hindia Belanda sebagai pemasok utama kopi dunia. Bahkan hingga kini.

Sejak diserang jamur hamileia vastatrix,penyebab karat daun kopi, usia Kopi Jawa sendiri mulai menuju senjakala. Kejayaannya sekarang hanya tersisa di pelosok-pelosok Jawa. Itu pun dalam bentuk yang tidak sekualitas dan sebanyak dulu lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here