Home Khasanah Cikal Bakal Kemunculan Dinasti Islam Turki

Cikal Bakal Kemunculan Dinasti Islam Turki

34
0

Oleh. Hana Wulansari

Peradaban Islam di Turki merupakan peradaban fenomenal, sebab selama kurang lebih seribu tahun peradaban Turki dapat bertahan. Peradaban pendidikan di Turki  diawali dari Peradaban Khilafah Abbasiyah. Dan, peradaban Islam berkembang di Turki ketika dipimpin Khilaf Utsmaniyah. Namun, jauh sebelum Khilafah Utsmaniyah memimpin Turki, orang-orang Turki belum mengenal Islam.

Ketika belum mengenal Islam orang-orang Turki menganut Shamanism (kepercayaan kepada kehidupan). Bangsa Turki mayoritas memeluk Islam setelah tahun 200 H. Awalnya, orang-orang Turki mengenal Islam secara intens pada tahun 750 M atau 130 H, yakni periode Khilafah Abbasiyah. Tepatnya saat perang Talas. Sebuah perang antar dua kubu, dari Islam diwakili oleh pasukan Abbasiyah dan lawannya adalah negara Cina. Perang ini terjadi sebab sejak lama Dinasti Tang Cina ingin mengalahkan Islam.

Di perang tersebut masyarakat Turki membantu Abbasiyah melawan Cina. Singkat cerita, perang Talas dimenangkan oleh Abbasiyah. Sebelumnya, Cina sering mendzalimi masyarakat Turki sehingga tak heran orang-orang Turki dengan sukarela membantu Abbasiyah dalam peperang Talas.

Ada dua suku yang sejak awal menjadi pribumi Turki, pertama kaum pendatang yang pindah dari Timur Cina dan Cina Utara (Mongolia), kedua orang Turki asli yaitu sebuah suku yang bernama Uighur yang saat ini sedang mengalami berbagai bentuk kedzaliman oleh otoritas Cina.

Para pimpinan Khilafah Abbasiyah melihat orang Turki memiliki perawakan fisik yang kuat. Mengetahui hal itu, Khalifah Mu’tashim Billah berencana untuk meneruskan kerjasama dengan orang Turki di sektor pertahanan. Imbalan yang diberikan khalifah kepada pasukan militer Turki tidak tanggung-tanggung, mereka diberi sebuah daerah Sammarah, Baghdad. Di Sammarah semua penduduknya adalah orang Turki.

Kemudian pada tahun 850an M secara resmi diumumkan keluarga Abbasiyah menjadi pemimpin dan pengelola negara dan militernya harus dari orang-orang Turki. Seiring berjalannya waktu, orang-orang Turki semakin akrab dengan Islam dan puncaknya pada tahun 900 M seluruh orang Turki memeluk agama Islam. Jika di tempat asal mereka di Cina biasa menggunakan kemah setelah mengenal Islam kehidupan mereka menjadi lebih beradab.

Peradaban Ilmu Masuk Turki

Era Khilafah Abbasiyah merupakan salah satu periode peradaban ilmu yang sangat pesat, salah satunya banyaknya ilmuan Islam yang menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Buku-buku hasil terjemah tersebut tentu sampai kepada orang-orang Turki yang sudah sejak lama menjadi bagian dari Khilafah Abbasiyah. Kemudian akan muncul cendikiawan-cendikiawan yang berasal dari suku Turki, seperti Ibnu Sina. Inilah awal orang Turki belajar ilmu dan semangat dasar mengelola Khilafah Utsmani di masa depan.

Namun, ketika terjadi penaklukkan Khilafah Abbasiyah, Mongol menghancurkan peradaban ilmu di Turki. Tepatnya, pada 1200 M yang merupakan tahun kesedihan bagi umat Islam khususnya Khilafah Abbasiyah, sebab kerajaan Mongol secara mendadak menyerbu lokasi Kekhilafahan Abbasiyah. Masjid, rumah sampai perpustakaan pun ikut dihancurkan oleh pasukan mata sipit ini.

Menurut para ilmuan, jika dulu perpustakaan atau peradaban ilmu pada era Abbasiyah yang berpusat di Baghdad tidak dihancurkan oleh Mongol maka dunia akan selangkah lebih maju 600 tahun dari sekarang. Sekitar 2 juta buku dibakar, dihancurkan dan dihanyutkan ke sungai oleh pasukan Mongol.

Munculnya Dinasti Islam

Kehancuran Khilafah Abasiyah oleh Mongol membuat umat Islam yang bertempat tinggal di Barat Turki, yang biasa disebut orang-orang Utsmani terpicu kembali untuk membangkitkan pemerintahan Islam. Secara resmi, orang-orang Utsmani menguumumkan pada dunia bahwa negara Utsmani telah berdiri, yakni pada tahun 1299 M. Dari Khilafah Utsmani inilah pemerintahan Islam selanjutnya dibangkitkan, dan berhasil eksis hingga 600 tahun.

Khilafah Utsmani dikenal luas ketika Sultan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Berbulan-bulan Al Fatih mengepung benteng Konstantinopel dan mempersiapkan strategi dengan matang.

Bahkan pengepungan tersebut sempat mengalami kegagalan dan ratusan pasukan Al fatih mati syahid. Setelah memperbaiki strategi, menarik mundur pasukan dan memutar kapal-kapal, Al Fatih kemudian berhasil menaklukan benteng konstantinopel.   Al Fatih bersama pasukannya tidak menghancurkan bangunan di dalam benteng dan tidak membunuh masyarakat sipil dan tentara musuh yang sudah menyerah. Hal pertama yang dilakukan Al Fatih setelah berhasil masuk ke benteng Konstantinopel adalah merubah gereja terbesar, Hagia Sophia menjadi masjid agung.

Berjalan ratusan tahun Kekhilafahan Utsmani menjadikan setiap masjid jami’ di tiap kota sebagai pusat kajian ilmu atau universitas. Dan Al Fatih dengan misi menyebarkan Islam terus memperluas wilayah hingga ke Bulgaria dan beberapa wilayah Eropa.

Setelah Al Fatih wafat, kekhalifan mengalami beberapa pergantian pemimpin. Dan, tahun 1923 merupakan fenomena sejarah menyakitkan tiada tara yang dialami oleh kaum muslimin khususnya Khilafah Utsmaniyah. Sebab di tahun itu Kekhilafahan Islam ditumbangkan oleh Mustafa Kamal At Taturk. Pada tahun 1923 saat Mustafa Kemal At Taturk menduduki Turki merupakan kehancuran terbesar kedua setelah Mongol menghancurkan Khilafah Abbasiyah. Tapi dampaknya lebih besar yang dilakukan oleh Mustafa Kemal At Taturk sebab yang dia lakukan adalah menghapus Islam.

Revolusi At Taturk ini turut menginspirasi Tunisia, Mesir, Iran dan negara lainnya untuk memberontak kepada pemimpin negaranya. Berikut ini adalah tahapan penghapusan nilai-nilai Islam:

  1. Undang-undang tentang unifikasi dan sekularisasi pendidikan tanggal 3 maret 1924. Di tahun yang sama Khilafah Islamiyah dihapus;
  2. Undang-undang tentang kopiyah, tanggal 25 november 1925;
  3. Undnag-undang tentang pemberhentian petugas jamaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman, tanggal 30 november 1925;
  4. Peraturan sipil tentang perkawinan, tanggal 17 februari1926;
  5. Undang-undang pemakaian huruf latin untuk abjad turki dan penghapusan tulisan arab, tanggal 1 november 1928;
  6. Undang-undang tentang larangan menggunakan pakaian tradisional, tanggal 13 desember 1934.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here