Home Ekonomi Cerita tentang Koran Pertama di Hindia Belanda

Cerita tentang Koran Pertama di Hindia Belanda

72
0

SEJARAHONE.ID – Oleh Priyantono Oemar

Perlu waktu lebih dari enam bulan untuk merealisasikan larangan penerbitan Bataviase Nouvelles en Politique Raisonnementen sejak surat perintahnya dikeluarkan. Surat perintah berasal dari De Heeren Zeventien (17 orang pimpinan VOC di Belanda) tertanggal 20 November 1745. Bataviase Nouvelles di Batavia masih bisa terbit hingga 20 Juni 1746.

Halaman pertama Bataviase Nouvelles edisi 12 Oktober 1744.
Selama tak ada koran, bagaimana orang-orang Eropa di Hindia Timur (menjadi Hindia Belanda setelah VOC bangkrut) mendapatkan informasi? Tak ada gambaran kecemasan orang-orang menunggu kabar. Orang-orang tetap bisa tidur nyenyak meski keingintahuan mereka tak terpenuhi ketika kapal dari Eropa tak membawa kabar.

“Orang-orang menunggu dengan apatis untuk melihat apakah ada sesuatu yang akan diketahui publik tentang keadaan di Eropa,” tulis Oud Batavia (Tweede Deel). Oud Batavia merupakan buku kenangan yang direncanakan penyusunannya oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia) pada 1915 untuk Peringatan 300 Tahun Kota Batavia pada 1919. Namun, baru terbit pada 1922 untuk buku pertama dan kedua. Buku ketiga bahkan baru terbit pada 1935.

Penguasa VOC di Batavia tentu peduli dengan kabar dari Eropa, sehingga selalu meminta koran yang dibawa kapal yang singgah di Anyer dan Batavia. Di masa kritis, bahkan keluar perintah untuk menanyakan laporan dari Eropa kepada kapal-kapal negara sahabat yang lewat Selat Sunda.

Informasi benar-benar berjalan sangat lambat. Kapal perang Spanyol yang lewat Selat Sunda pada April 1788 tak bisa memberikan informasi tentang invasi Prusia ke Belanda pada 7 Agustus 1787. Informasi dari Batavia tentu juga sangat lambat berjalan menuju Belanda.

Karenanya, ketika Bataviase Nouvelles dicetak ulang di Belanda, disambut dengan sangat antusias. Koran ini tak hanya menyampaikan kabar kelahiran-kematian, kedatangan-keberangkatan kapal, pengangkatan pejabat, melainkan juga hal-hal lain. Kadang juga ada iklan, biasanya tentang rencana balas dendam.

Bataviase Nouvelles juga merupakan corong pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Ketika van Imhoff membangun gereja di Kali Besar untuk tentara bayaran Lutheran dari Jerman, menurut HJ de Graaf di buku Geschiedenis van Indonesie (1949), Bataviase Nouvelles juga menulisnya. Kisah Samuel van de Putte —penjelajah Belanda yang dimakamkan di Batavia pada 1745– juga ditulis di Bataviase Nouvelles.

Namun, mencetak ulang Bataviase Nouvelles di Belanda adalah menggali kubur. Kopi Bataviase Nouvelles bisa sampai di Belanda karena ada Kees Bliek, penggali kubur di makam orang Portugis, yang rutin mengirimkannya ke anggota keluarganya di Amsterdam yang memiliki toko buku.

Di Amsterdam, Tjeert Bliek menyimpan 35 edisi Batavia Nouvelles yang ia terima dari Kees Bliek. Iklan di Haerlemsche Courant edisi 2 Agustus 1746 menyebut Tjeert Bliek lalu menyalin ringkas untuk diterbitkan ulang di Oostindische Nouvelles sampai 19 Oktober 1745. Informasinya ia susun ulang secara geografis.

Penerbitan ulang ini berakibat fatal bagi keberlangsungannya di Batavia. De Heeren Zeventien membacanya, lalu pada 20 November 1745 mengeluarkan perintah kepada van Imhoff untuk menyetop pencetakan dan penerbitannya di Batavia.

“Pencetakan dan penerbitan surat kabar di Batavia, konsekuensi yang merugikan telah dirasakan di sini, di negeri ini (Belanda).” Demikian salah satu isi surat itu seperti dikutip Soerabaijasch Handesblad edisi 13 November 1888.

Surat itu tiba di Batavia jauh di kemudian hari, sehingga van Imhoff baru menjalankan perintah “segera setelah menerima surat ini, pencetakan dan pendistribusian surat kabar itu dilarang” pada Juni 1746:. Bataviase Nouvelles disebut Soerabaijasch Handelsblad edisi 24 Oktober 1936 terbit terakhir pada 20 Juni 1746.

Tak ada keterangan detail soal alasan penerbitannya telah merugikan di Belanda. Beberapa analisis menyebutkan karena publisitas berbahaya bagi monopoli bisnis VOC di Hindia Belanda, seperti tergambar di De Hollandsche Reveu (1921) dan De Krant door Alle Tijden (1938).

Di Belanda, “koran” sudah menjadi bagian masyarakat sejak awal abad ke-17. Coen Europeesche pada 1615 memulainya, dengan menyalin berita untuk disebarkan. Belanda mulai rutin menyalin berita untuk diterbitkan secara berkala sejak 1619 di Amsterdam.  Ada pula yang menyalin dalam bahasa Inggris kemudian dikirim ke London, sehingga menjadi perintis koran di Inggris.

Namun,  VOC “membiarkan” Hindia Timur tanpa koran. De Heeren Zeventien  melihat publisitas membayakan perusahaan, sehingga tak mengizinkan adanya koran di Hindia Timur. Sebelum ada larangan itu, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen telah memerintahkan penyalinan berita. Yang melakukan adalah staf sekretariat jenderal di bawah pengawasan kerani pertama.

Salinan berita-berita itu kemudian disebar ke berbagai pabrik terpencil milik VOC. Berita-berita yang disalin itu berasal dari koran-koran di Belanda dan kota-kota negara lain seperti London, Frankfurt, Milan yang dimintakan kepada kapal yang datang di Batavia. “Kadang selebaran ini disebut Memorie der Nouvelles,” tulis Oud Batavia.

Pada 1644, seperti dicatat di Oud Batavia, pemerintah di Ambon masih rutin menerima kiriman selebaran tertulis salinan berita itu dari Batavia. Pada 1668, pernah ada upaya mencetak salinan berita itu di Hindia Timur. De Heeren Zeventien menentangkan dan pada 1672 keluar larangan pencetakan. Oud Batavia melaporkan, selebaran tertulis untuk staf resmi, tetap dibolehkan.

Lebih dari 70 tahun kemudian, yaitu pada 1744, masyarakat Eropa di Hindia Timur bisa menikmati berita mirip sajian Memorie der Nouvelles, tetapi lebih padat dan menarik. Namanya Bataviase Nouvelles en Politique Raisonnementen, dalam bentuk kertas folio dengan dua kolom. Di bagian atas ada logo Batavia diapit dua singa yang berdiri mengacungkan pedang dan memegang anak panak.

Atas persetujuan dari Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, Jan Erdman Jordens, melakukan uji coba penerbitan Bataviase Nouvelles pada Jumat, 7 Agustus 1744. Edisi perdana yang diterbitkan saudagar muda –juga kerani pertama di sekretariat jenderal kegubernurjenderalan– itu pada Senin 10 Agustus 1744 yang kemudian menjadi rutin terbit tiap Senin.

Pimpinan VOC di Belanda tidak hu ada rintisan penerbitan di Batavia ini. “Awalnya disebut pembuktian, namun ketika Jordens berhasil, ia diizinkan melanjutkan pekerjaannya. Ia diberi hak paten selama tiga tahun untuk pencetakan dan penerbitan Bataviase Nouvelles en Politique Raisonnementen,” tulis De Hollandsche Revue (1921). Hak paten itu dikeluarkan pada 9 Februari 1675.

Setelah Bataviase Nouvelles tak terbit, perlu waktu sekitar 90 tahun untuk terbit koran baru. Menurut catatan Dr K Baschwitz di De Krant door Alle Tijden pada 1837 terbitlah koran swasta, Soerabaya Courant, yang kemudian disusul koran-koran lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here