Home Khasanah Catatan Perjalanan ke Negeri Islam yang Hilang

Catatan Perjalanan ke Negeri Islam yang Hilang

508
0

Oleh Ustadz Umaeir Khaz, Lc

Sejarahone.id – Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain”. Dan beliau merekatkan jari-jemarinya.

Ustadz Umaeir mengisahkan pengalaman perjalanan Beliau di bulan Januari 2020 bersama sahabatnya untuk menemukan langsung jawaban atas berita mengenai muslim di China, baik fakta kehidupan muslim suku Hui dan khususnya muslim suku Uighur di daerah Xinjiang. Xinjiang adalah salah satu propinsi di China, dahulu namanya adalah Turkistan timur.

Sejarah

Turkistan raya di Asia tengah adalah negeri Islam yang berjaya, orangnya cerdas-cerdas, dan memiliki peradaban yang kokoh. Beberapa tokoh Islam dari Turkistan Raya misalnya Imam Bukhori, Iman Al Buyuni, Al Baihaqi, Ad Darini, Ibnu Sina dan lainnya.

Negeri ini kemudian lenyap dijajah negara komunis dunia, Uni Soviet dan China. Setelah khilafah Turki Utsmani runtuh, maka Turkistan Barat dijajah oleh Uni Soviet, sedangkan Turkistan Timur masih merdeka. Dan di tahun 1933 Turkistan Timur merdeka, tetapi kemudian di tahun 1934 direbut China.

Tahun 1944 Turkistan Timur kembali merdeka untuk kedua kalinya, tetapi kemudian di tahun 1949 kembali dijajah oleh China. Lalu diubah namanya menjadi Xinjiang, yang berarti perbatasan baru (new border). Dan mulai saat itu etnis Uighur terus tertindas. Bahkan di tahun 90 an Ulama Mesir telah membuat buku novel non fiksi mengenai penindasan etnis muslim Uighur ini, yang sebenarnya adalah kisah yang nyata.

Tahun 1991 Uni Soviet bubar, Turkistan Barat merdeka. China ingin terus menguasai Turkistan Timur karena Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, seperti cadangan minyak dan gas yang ada di bagian selatan, Tarim nasib.

Ibukota Xinjiang: Urumci

Uighur memiliki peradaban yang sangat maju, bangsa ini berbeda ras dengan etnis China. Uighur telah menggunakan skrip tulisan, menggunakan tulisan irkgun. Yang menunjukkan kemajuan peradaban bangsa ini. Karena induknya suatu negeri adalah bahasa, jika bahasanya bagus maka peradabannya pun bagus. Masyarakat Uighur juga dikenal sebagai ahli pengobatan. Ahli di kemampuan arsitektur, seni dan percetakan. Ketika muslim Uighur ditindas, Masjid pun diubah sebagai pasar atau diratakan.

Masuknya Islam ke Turkistan Timur

Sejak jaman Bani Umayyah tahun 91 Hijriah. Secara sempurna tahun 934 Masehi saat pemerintah Datuk Bukhara Khan. Turkistan Timur menjadi negeri sejuta masjid dan dilewati jalur sutra. Dari Arab sampai ujung Sian di China. Disana terdapat masjid tertua dari tahun 900 Masehi.

Kondisi Muslim China Saat Ini

Wilayah Xinjiang dijaga ketat, untuk masuk atau mendapat kabar tidak ada akses, tidak ada pemberitaan tentang Uighur. Narasi China untuk menyesatkan opini dunia adalah mereka mem-framing bahwa Uighur adalah teroris, mereka memerangi radikalisme, tidak ada terkait dengan Islam dalam hal Uighur ini. Pemerintah komunis China mengangkat argumen bahwa etnis Hui tidak dilarang untuk beribadah walau mereka Islam.

Apakah etnis Hui baik-baik saja, ada apa dengan Xinjiang? Jika membahas Uighur maka harus membahas etnis Hui.

Perjalanan ustadz dari Indonesia ke Lanco (tidak ada syiar Islam) terus lanjut ke daerah Xining (etnis Hui) dan menemukan masjid Dongguan di Provinsi Qinghai dan rombongan menemukan ada syiar Islam disini. Di daerah ini, Ustadz Umaer mengikuti shalat zuhur berjamaah yang dihadiri sekitar 1000 jamaah dan wanitanya berkerudung.

Di sekelilingnya masjid banyak tulisan tentang Islam cinta damai dan ada tanda palu arit di depan masjid-masjidnya. Bahkan di hari Jumat, jamaah bisa mencapai 10 ribu orang dan di hari Raya Ied jamaah shalat masjid bisa mencapai 100 ribu orang.

Fakta

Setiap orang muslim Hui jika ditanya tentang Uighur, maka mereka akan diam takut dikaitkan dengan Uighur. Perjalanan dilanjutkan ke pesantren belajar bahasa Arab di Linxia, parameter muslim Hui, the little Mecca of China, banyak masjid besar semua muslim dan banyak pondok pesantren. Kotanya tidak terlalu besar.

Dulu di pesantren ini santrinya sebanyak 200-300 orang, tapi sekarang hanya diperbolehkan maksimal 50 orang dan ulamanya ditangkapi. Rombongan melanjutkan perjalanan 3 selama jam dari lanco, menggunakan bus menuju pondok pesantren 4 lantai, dengan kapasitas masjid bisa menampung 5 ribu jamaah, namun kondisinya mencekam dan tidak bisa mendapatkan informasi.

Fakta

Kini, santri tidak bisa lagi belajar bahasa Arab karena kurikulum telah dihapus. Kubah-kubah masjid dan menaranya dipotong, anak mudanya baik muslimin dan muslimah di bawah usia 45 tahun tidak boleh shalat di masjid, kecuali shalat Jumat dengan tema khutbah yang telah ditentukan pemerintah.

Alasan pemerintah memotong kubah dan menara, agar sesuai tradisi China dan doktrin untuk cinta tanah air di atas semua. Selanjutnya rombongan mengunjungi pondok pesantren lainnya, yang khusus qiroah, 2 lantai. Pengasuh ponpes adalah orang Han, seorang muallaf, ex Komunis yang telah memeluk Islam.

Fakta

Dari penjelasan pengasuh pesantren suku Han ini banyak yang ditutupi pemerintah China, faktanya adalah telah terjadi gelombang masuknya orang-orang suku Han. Mereka berbondong-bondong masuk Islam. Dan mereka yang masuk Islam ditekan, dibatasi hak-haknya.

Informasi yang di dapat dari pengurus pesantren ini (orang Han), mereka sangat tertarik untuk masuk Islam karena: (1) Konsep thoharoh (bersuci) nya org Islam yaitu berwudhu, (2) akhlak dari orang Islam (3) tujuan hidup dalam Islam, hanya kepada Allah SWT. Yang tidak ada dalam kehidupan komunis mereka yang materialistis dan invidualis.

Fakta

Sejak tahun 2016 adzan sudah tidak diperbolehkan dengan speaker luar, wanita tidak boleh pake hijab (jilbab) misal muslimah yang bekerja di pemerintahan. Jubah untuk sholat hanya boleh dipakai dalam masjid. Inilah kenyataannya, Islam ditindas di negeri China, khususnya di Xinjiang dengan camp penyiksaannya.

• Ribuan masjid diratakan, 500 masjid di bongkar dalam semalam
• Syariat Islam dilenyapkan:
• Penyebab orang dimasukkan ke Camp adalah :
– Sahur (tertangkap makam sebelum subuh)
– Tidak mau minum alkohol
– Tidak mengizinkan pejabat untuk tidur, makan di rumah muslim
– Tidak mau merokok
– Mengenakan jilbab untuk usia kurang dari 45 tahun.
– Pergi ke masjid
– Puasa Ramadhan
– Sholat
– Pemakaman tradisional

Tidak ada lagi amar ma’ruf, mendengar ceramah agama, memiliki konten islami di gadget atau berpenampilan islami seperti berjenggot. Dilakukan juga sterilisasi alat reproduksi muslimah Uighur dan organ tubuh dipanen secara paksa.

Camp penyiksaan berbalut re-edukasi.
1. Dipaksa bersumpah setia
2. Dipukuli, ditendang dan lainnya
3. Disetrum, ditelanjangi dan lainnya

Trip ke Kashgar

Interogasi pendatang bukan di imigrasi tetapi saat discreening hotel.

Fakta

Masjid tinggal tersisa dua. Hampir setiap 3 meter ada cctv, dalam taxi ada cctv, tidak ada sopir yang berani bicara dengan penumpang.

Kunjungan ke Masjid tertua di Kashgar

Bangunan kubah dipotong, dilarang sholat, masuk masjid bayar 45 Yuan dan di dalam masjid dijaga orang Han.

Fakta

Masjid banyak yang digembok, di desa banyak cctv, orang-orang tidak ada yang berani diajak bicara.

Ke Urumqi, ibu kota Xinjiang

Jika lihat di peta ada 42 titik masjid, tetapi hanya ada 2 masjid yang ditemukan. Sisanya dengan kondisi, yaitu: dihilangkan, kumuh tidak dipakai, ada masjid tapi dijaga aparat, masuk masjid ada screening wajah dan grand bazar of Urumqi aslinya adalah masjid, kini jadi pasar.

Akhirnya Ustadz dan rombongan bertemu dengan seorang muslim Uighur di mobil pribadinya dan menawarkan tumpangan kepada rombongan Ustadz.

Fakta di Uighur

Dulu di Xinjiang ada 200 ribu masjid, namun kini warga tidak bisa sholat ke masjid, jika ketahuan di rumah pun maka akan dimasukkan camp, dipaksa makan babi, minum khamr dan lainnya.

Pesan Ustadz Umaeir Khaz

1. Bersyukur atas keadaan kita di Indonesia yang penuh kelapangan dalam menjalankan ibadah saat ini
2. Pembelaan untuk muslim Uighur, bacakan doa kepada mereka dalam doa-doa kita.

Cara memerangi orang-orang musyrik dengan cara berjihad melalui: harta, nyawa dan lisan (doa).

:: ditulis ulang oleh Ratna dan Citra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here