Home Pahlawan Bung Tomo, Pahlawan Pembangkit Semangat Rakyat Indonesia

Bung Tomo, Pahlawan Pembangkit Semangat Rakyat Indonesia

283
0

Oleh Hamzah Syahid Afifi

SejarahOne.id – Sutomo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Tomo adalah seorang tokoh pahlawan nasional asal Surabaya, Indonesia. Bung Tomo lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920. Orang tua Bung Tomo adalah Kartawan Tjiptowidjojo dan Subastita.

Bung Tomo beristrikan Sulistina dan memiliki satu anak bernama Bambang Sulistomo. Bung Tomo wafat di Arafah, Arab Saudi pada 7 Oktober 1981. Diketahui, Bung Tomo adalah anak laki-laki pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang kepala keluarga dari kelas menengah.

Bung Tomo pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Bung Tomo mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro. Sedankan ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda dan Madura.

Bung Tomo suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan agar menjadi lebih baik. Pada saat usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Bung Tomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Lalu, ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Di usia muda, Bung Tomo aktif dalam organisasi kepanduan atau Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan bergabung di dalamnya. Bung Tomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya.

Di usianya yang ke-17 tahun, Bung Tomo menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Ia memiliki minat pada dunia jurnalisme atau kewartawanan. Ia pernah bekerja sebagai wartawan lepas pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada tahun 1937.

Setahun kemudian, ia menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa; Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939. Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, bagian Bahasa Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya pada tahun 1942-1945.

Meski bekerja pada kantor berita penjajah, semangat perjuangan dan nasionalisme Bung Tomo tentu tidak padam. Pada tahun 1944, beliau bergabung menjadi aktivis Gerakan Rakyat Baru dan didapuk menjadi pengurus Pemuda Republik Indonesia. Saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan, beliau memberitakannya dalam bahasa Jawa bersama wartawan senior Romo Bintarti untuk menghindari sensor Jepang.

Secara sembunyi-sembunyi berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disampaikan Bung Tomo kepada masyarakat, sehingga tersiar dari mulut ke mulut. Berkat usaha Bung Tomo pula, Teks Proklamasi dimuat secara lengkap dalam harian Asia Raya esok harinya. Tanpa mengindahkan larangan pihak Jepang, ia juga menempelkan Teks Proklamasi di depan Kantor Domei (kini Antara), sehingga semakin banyak orang yang mengetahuinya.

Pada bulan-bulan pertama sesudah Proklamasi, Bung Tomo melibatkan diri secara intensif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Antara lain ikut dalam proses pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan perebutan senjata dari pasukan Jepang. Bung Tomo juga membentuk badan perjuangan, yakni Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Para anggotanya diberi pelatihan kemiliteran.

Dalam kunjungan ke Jakarta pada awal Oktober 1945, Bung Tomo berhasil meyakinkan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin agar memanfaatkan siaran radio untuk mengobarkan semangat rakyat. Bung Tomo kemudian membangun pemancar radio sendiri, yakni Radio Pemberontakan yang ternyata memegang peranan penting dalam pertempuran menghadapi pasukan Inggris di Surabaya bulan November 1945.

Pertempuran 10 November 1945

Ultimatum Inggris tanggal 9 November 1945 yang menuntut agar semua orang Indonesia yang memiliki senjata api menyerahkan senjata mereka dan menandatangani surat pernyataan menyerah, dijawab Bung Tomo melalui pidato berapi-api melalui pidatonya yang juga disiarkan via saluran radio

Wahai tentara Inggris! Selama banteng-banteng Indonesia, pemuda Indonesia, memiliki darah merah yang bisa menodai baju putih menjadi merah dan putih, kita tidak akan pernah menyerah. Para teman, para pejuang dan khususnya para pemuda Indonesia, kita harus terus bertarung, kita akan mengusir para kolonialis ini keluar dari tanah air Indonesia yang sangat kita cintai. Sudah terlalu lama kita menderita, kita dieksploitasi, kita diinjak oleh bangsa asing. Kini saatnya kita mempertahankan kemerdekaan negara ini. Teriakan kita adalah merdeka atau mati. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!

Pidato itu didengar bukan hanya di Surabaya saja, tetapi juga di kota-kota lain. Berkat pidato itu, bantuan mengalir ke Surabaya, tidak hanya tenaga manusia, tetapi juga logistik. Pidato itu menggugah pula para kiyai dari berbagai tempat sehingga mereka dan para santrinya datang ke Surabaya untuk memberikan dukungan kepada para pejuang.

Waktu itu Indonesia sebenarnya menderita kekalahan dalam Pertempuran 10 November itu. Tapi berkat kobaran semangat Bung Tomo, rakyat Surabaya berhasil menahan serangan pasukan Inggris dan bahkan memukul mundur mereka. Kejadian ini sangat dikenal dan menjadi catatan penting sebagai salah satu peristiwa paling epik dan heroik dalam sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia melawan bangsa Eropa.

Selain itu, perjuangan kemerdekaan di Indonesia ini juga mendapat dukungan dari dunia internasional. Setelah menjadi sosok penting dalam Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo sebagai pejuang tidak luput dari perhatian pemerintah. Sebagai pemimpin badan perjuangan yang cukup berpengaruh, ia pun diikutsertakan dalam pembinaan angkatan perang.

Pada bulan Juli 1947 ia diangkat sebagai salah satu anggota Pucuk Pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sesudah perang kemerdekaan berakhir, Bung Tomo berjuang di bidang politik dengan mendirikan Partai Rakyat Indonesia (PRI). Melalui partai ini, sesudah pemilihan umum tahun 1955, ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Di bidang pemerintahan, Bung Tomo pernah diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran dan Menteri Sosial Ad Interim. Jabatan lain ialah Ketua II (Bidang Ideologi Sosial Politik) Markas Besar Legiun Veteran. Bung Tomo dikenal sebagai tokoh idealis dan kritis. Walaupun tidak lagi memegang jabatan di pemerintahan, ia selalu mengikuti dan mencermati perkembangan bangsa.

Bung Tomo tidak dapat membiarkan terjadinya tindakan-tindakan pemerintah yang menyimpang dari tujuan perjuangan. Karena itulah ia sering mengirim surat yang bernada kritik tetapi sekaligus koreksian, baik kepada Presiden Soekarno maupun kemudian kepada Presiden Soeharto. Bahkan, pada tahun 1960 ia mengadukan Presiden Soekarno ke Mahkamah Agung sehubungan dengan tindakan Soekarno membubarkan DPR hasil pemilihan umum tahun 1955.

Bung Tomo meninggal pada 7 Oktober 1981, empat hari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-61. Beliau meninggal saat menjalankan ibadah haji di Mekkah. Jenazah beliau dibawa pulang ke Indonesia lalu dimakamkan di Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya.

Gelar pahlawan nasional baru disandangnya pada tahun 2008, meski beliau meninggal tahun 1981. Hal tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008. Selain itu, Bung Tomo juga menerima beberapa tanda jasa lain yakni; a. Satyalencana Kemerdekaan; b. Bintang Gerilya; c. Bintang Veteran Republik Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here