Home Merdeka Bulak Kapal, Lapangan Udara di Bekasi

Bulak Kapal, Lapangan Udara di Bekasi

105
0

Oleh: Endra Kusnawan

SEJARAHONE.ID – Ternyata Bekasi pernah punya lapangan udara. Jauh ada dari lapangan udara Kemayoran yang dibangun tahun 1934 dan mulai diresmikan penggunaannya pada 8 Juli 1940. Apalagi lapangan udara Sukarno-Hatta di Tangerang yang secara resmi dibuka pada 1 April 1985.

Buktinya kita bisa lihat dari koleksi Perpusatakaan Universitas Leiden di Belanda dengan nama arsip 05270-02, pada peta topografi wilayah Bekasi yang dibuat ulang oleh Topografische Dienst, Batavia tahun 1924.

Dalam peta tersebut terlihat terdapat simbol sejenis pesawat yang di dalam garis kotak warna merah dan tertulis Vliegsterrein Meester Cornelis dan Vliegsterrein Bekasi. Vliegsterrein atau Vliegvelden merupakan Bahasa Belanda, yang kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia artinya bandara atau lapangan udara.

Kedua lapangan udara tersebut dibangun hampir bersamaan di masa Belanda masih berkuasa. Awalnya yang dibangun lapangan udara Meester Cornelis terlebih dahulu di tahun 1920. Tidak lama kemudian baru yang ada di Bekasi. Pembangunan seluruh infrastruktur kedua bandara selesai pada 1924.

Pada awal pendirian Bulak Kapal, sempat dijadikan sebagai hulu pelayanan surat pos udara (vliegpost) dengan trayek Bekasi – Plered. Kemudian berdasarkan peta buatan tahun 1932 oleh Tropographical Service, Batavia, dengan nama arsip 04776 terlihat terdapat dua simbol yang berbeda dari kedua lapangan udara tersebut.

Jika pada Lapangan Udara Cililitan (sekarang), merupakan lapangan udara yang memiliki hanggar, sedangkan di Bekasi merupakan lapangan udara darurat dan tidak memiliki hanggar. Ini berarti di Bekasi pesawat hanya berfungsi untuk mengangkut atau menurunkan penumpang saja.

Kapal Bekasi dijadikan sebagai bandara pembantu (hulplandingsterrein), baik untuk sipil maupun militer. Setelah Bandar Udara diresmikan pada tahun 1934, status Bulak Kapal tetap sebagai bandara pembantu. Hal ini terkait dengan minimnya fasilitas dan dianggap berbahaya pada saat tertentu, terutama saat musim hujan.

Di tahun 1938, Bulak Kapal Bekasi mendapatkan aliran listrik. Dengan demikian, fungsinya bertambah seiring fasilitas yang dimiliki. Seperti radio komunikasi, lampu landasan, radar, dan lainnya. Peningkatan tersebut menjadikan Bulak Kapal dipakai oleh pihak militer.

Dalam koleksi Perpusatakaan Universitas Leiden di Belanda dengan nama arsip 05120-059-B, pada peta topografi wilayah Bekasi yang dibuat ulang oleh Topografische Dienst, Batavia ditahun 1930 dengan nomer arsip Blad 37/XXXVII-D (oud No. 23 D), terlihat lebih presisi skalanya.

Kalau disesuaikan dengan kondisi saat ini, lokasi lapangan udara di Bekasi masuk di daerah Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur. Atau tepatnya di daerah yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Bulak Kapal.

Kata Bulak Kapal sendiri berasal dari bahasa warga setempat yaitu Bulak yang artinya lapangan dan Kapal yang artinya pesawat. Jadi bisa dikatakan bahwa Bulak Kapal merupakan penamaan oleh warga setempat karena ditempat tersebut terdapat lapangan udara. Kalau pada peta di sebelah lapangan udara ditulis “Landingsterrein Bekasi”.

Mengenai posisinya saat ini tidak jauh dari gerbang tol Bekasi Timur. Sebelah timur berbatasan dengan Jalan H.M. Joyomartono, sebelah baratnya Kali Ciketing, selatan hingga Jalan Juanda/rel kereta, dan sebelah utaranya hingga Jl. Chairil Anwar atau Kali Tarum Barat/Kali Malang.

Titik pertemuan antara Jalan H.M. Joyomartono, Jalan Juanda, dan Jalan Pahlawan biasa dikenal dengan nama perempatan Bulak Kapal, atau cukup Bulak Kapal saja. Saat penjajahan Jepang, lapangan udara Bekasi sempat digunakan. Sejumlah pesawat perang Jepang lalu lalang melalui Bulak Kapal.

Selepas menyerah kepada sekutu, lapangan udara Bekasi tersebut kerap menjadi perebutan dalam perang revolusi. Baik oleh pejuang maupun sekutu/Belanda. Sebab itu merupakan salah satu tempat vital bagi negara.

Setelah perang revolusi berakhir, semua aset asing menjadi milik Republik Indonesia (RI) dan kemudian diserahkan kepada yang sesuai bidangnya. Dalam hal ini lapangan udara Bekasi menjadi aset Angkatang Udara RI.

Lapangan udara Bekasi sempat digunakan kembali saat upaya merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda pada awal tahun 1960-an. Waktu itu Kompleks Depsos di Jalan HM Joyomartono menjadi salah satu tempat para relawan melakukan latihan sebelum berangkat ke Irian Barat.

Melalui lapangan udara Bekasi, dikirim sejumlah logistik untuk kebutuhan relawan. Dan terakhir digunakan saat terjadi peristiwa G30S/PKI, dengan menurun-naikkan tentara.

Tidak diketahui persis kapan resminya lapangan udara di Beksai tersebut ditutup. Namun seiring konsep Jabodetabek digulirkan, pada 1973 lapangan udara buatan Belanda tersebut dialihfungsikan.

Dibangunlah perumahan untuk para pensiunan TNI Angkatan Udara Halim Perdana Kusuma. Perumahan tersebut diberi nama Kompleks TNI Angkatan Udara Jaladhapura. Lalu seiring ditutupnya lapangan udara Kemayoran pada 1 Januari 1983, areal Bulak Kapal Bekasi menjadi semakin ramai dengan hadirnya warga.

Perlahan tapi pasti, landasan terbang dan sekitarnya berubah menjadi pemukiman dan tempat komersil. Dalam dunia penerbangan nasional, sepertinya keberadaan lapangan udara di Bekasi tidak diketahui keberadaannya. Dari sudut pandang sejarahpun, sangat jarang dibahas.

Tetapi setidaknya dari peta buatan Belanda ini menjadi bukti bahwa di Bekasi pernah ada lapangan udara. Jejak-jejaknya pun masih terlihat hingga kini, meskipun sudah ditutupi oleh bangunan maupun semak belukar.

Lapangan udara Cililitan dipergunakan secara resmi pada 1 November 1928. Pengguna pertamanya adalah Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNI-LM), maskapai milik kolonial Belanda di Indonesia yang didirikan 16 Juli 1928.

Rute penerbangan yang dijalani maskapai ini dari Batavia-Bandung dan Batavia-Semarang.[5] Namun sejak lapangan udara Kemayoran hadir, fungsinya dibagi dua. Lapangan udara Cililitan untuk militer dan lapangan udara Kemayoran untuk sipil. Jenis pesawat yang saat itu lalu-lalang di langit Bekasi dan Cililitan adalah jenis Fokker.

Oleh Angkatan Darat Amerika Serikat, menurut koleksi Perpustkaan Universitas Texas di Amerika Serikat Series T722 US Army Map Servie 1942, peta Meester Cornelis di copy pada tahun 1943. Dalam peta mereka, lapangan udara Cililitan di tulis dengan Boelakkapal.

Dari keterangan yang telah dijabarkan, menegaskan bahwa Lapangan Udara di Bekasi didirikan bukan saat pendudukan Jepang dan menggunakan tenaga romusha dalam pembuatannya, sebagaimana informasi yang beredar selama ini. Melainkan saat Belanda masih berkuasa dan memerintah di negeri yang begitu indah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here