Home Pahlawan Brigjen KH Syam’un, Pahlawan Nasional yang Juga Komandan Batalion PETA

Brigjen KH Syam’un, Pahlawan Nasional yang Juga Komandan Batalion PETA

289
0

SEJARAHONE.ID – KH Syam’un adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan. Gelar Brigjen diterimanya saat menjadi pimpinan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kalimantan.

Sementara gelar Kiai Haji diberikan oleh masyarakat setempat karena ketokohannya yang besar di dunia pendidikan dan ajaran Agama Islam. KH. Syam’un lahir di Kampung Beji, Cilegon, Banten, 15 April 1883 dan wafat di Gunung Cacaban, Anyer, 2 Maret / 28 Februari 1949. Brigjen KH Syam’un juga pernah mendirikan pesantren di Banten.

Ia mempunyai kontribusi besar terhadap dunia pendidikan. Di pesantren yang ia dirikan, ia membuat sistem pendidikan dengan melakukan kolaborasi antara ilmu agama dengan ilmu murni.

Brigjen KH Syam’un lahir di Kampung Beji, Cilegon, Banten, pada 15 April 1883. Ibunya bernama Siti Hadjar dan ayahnya bernama H. Alidjan. Syam’un mempunyai kakek (dari ibu) bernama KH Wasid, yaitu seorang tokoh perlawanan petani Banten terhadap pemerintahan Hindia Belanda pada 1888. Makam dan silsilah Syam’un masih belum diketahui dengan jelas hingga kini.

Pada masa remaja KH Syam’un memperoleh pendidikan di pesantren Dalingseng milik KH Sa’i pada 1901. Kemudian ia pindah ke pesantren Kamasan, asuhan KH Jasim di Serang pada 1904. Tahun berikutnya, KH Syam’un belajar ke Mekkah, tepatnya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dari 1910 hingga 1915.

Setelah lulus dari Al-Azhar, KH. Syam’un kembali ke Mekkah untuk mengajar di Masjid al-Haram. Murid dari KH Syam’un berasal dari aneka suku bangsa. Murid KH Syam’un yang terbanyak berasal dari Jawa. Meskipun cuma setahun mengajar, nama KH. Syam’un mulai sohor sebagai “Ulama Banten yang besar”.

KH Syam’un selanjutnya pulang ke Hindia Belanda pada tahun 1915. KH Syam’un menempatkan ilmu pada tingkatan atas dalam kehidupan manusia. Selain itu ia juga mempunyai gagasan tentang hubungan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

“Bahwa pendidikan merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengatasi segala persoalan hidup,” dalam tesis Universitas Indonesia berjudul “Kiai Haji Sjam’un: Gagasan dan Perjuangannya,” yang dikutip Hendaru Tri Anggoro di Historia yang berjudul ‘KH Syam’un, Pahlawan Nasional dari Banten“.

Manifestasi gagasan KH Syam’un terlihat dari pendirian pesantren di Citangkil, Cilegon, pada 1916. Pada satu dasawarsa pendirian pesantren, materi ajarnya masih terbatas pada ilmu agama seperti tata bahasa Arab, fikih, hadits, tafsir, dan akidah. Selain itu, santrinya pun hanya berjumlah puluhan.

Namun demikian, perlahan pesantren Citangkil berkembang. Tidak hanya dari jumlah santri, melainkan juga materi ajar dan metode pembelajaran. Dalam konsep pendidikan Islam, KH Syam’un menggabungkan pola pendidikan tradisional pesantren dengan sekolah modern pada 1926.

“KH Syam’un berusaha mengembangkan rasionalitas Islam dengan seruan kembali kepada ajaran Islam yang pokok,” dalam buku Abdul Malik dkk., Jejak Ulama Banten Dari Syekh Yusuf Hingga Abuya Dimyati dikutip Hendaru Tri Anggoro di Historia yang berjudul ‘KH Syam’un, Pahlawan Nasional dari Banten“.

Pada tahun 1926, KH Syam’un bergabung dengan Nahdlatul Ulama. Pada persoalan sistem pendidikan, KH Syam’un membuat kurikulum baru dengan memasukkan mata pelajaran sekolah modern seperti matematika, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu bumi, kosmografi, sejarah, bahasa Inggris, bahasa Belanda.

Ia juga memasukkan kegiatan ekstrakurikuler seperti kepanduan, kesenian, dan olahraga. Selanjutnya, ia juga mulai menerapkan pembelajaran dalam ruang kelas secara berjenjang, sesuai tingkatan umur santri.

Perubahan corak pesantren Citangkil yang ia dirikan berkembang dan berubah nama dari pesantren menjadi Perguruan Islam Al-Khaeriyah. Cabang-cabang pesantren yang ia dirikan juga bermunculan di sejumlah wilayah Banten pada 1929. Tidak hanya pesantren yang ia dirikan.

Pada tahun 1936, KH Syam’un Hollandsch Inlandsch School (HIS) atau mendirikan sekolah dasar umum. Selain mendirikan lembaga pendidikan, KH Syam’un juga mengabadikan pemikirannya lewat kitab. KH. Syam’un menulis kitab tentang akidah, fikih, akhlak, dan sejarah.

Publikasi karya-karyanya hanya terbatas pada kalangan pesantren. Kitab-kita yang ia buat mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter santri-santrinya. Setelah kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda berakhir pada 1942, KH Syam’un menjadi salah satu tokoh yang didekati oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk merebut simpati rakyat Banten.

Peran KH Syam’un di ranah pendidikan terekam oleh pemerintah pendudukan Jepang. Nama KH Syam’un juga muncul dalam buku Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa terbitan Gunseikanbu tahun 1944.

Riwayat kegiatan militer KH Syam’un bermula saat pasukan Jepang di Indonesia mengajak KH Syam’un bergabung bersama PETA pada November 1943 sebagai daidanco atau komandan batalion. Hal ini dikarenakan pasukan Jepang di Indonesia selalu mengincar tokoh rakyat seperti pemimpin partai, agama, kiai, dan pamong praja untuk duduk sebagai daidanco.

KH Syam’un sebenarnya terpaksa menerima ajakan itu disebabkan pihak Jepang mewanti-wanti jika KH. Syam’un menolak, maka perguruan Al-Khaeriyah akan ditutup. Disinilah KH Syam’un kemudian melihat keputusannya bergabung ke PETA ada gunanya juga.

Di PETA, KH. Syam’un kemudian mempelajari taktik dan strategi militer. “Bahwa pendidikan Islam sesuai dengan kemiliteran. Ini baik bagi pemuda-pemuda kita. Dan saya sering menceritakan pada mereka tentang penghidupan dan perjuangan pahlawan-pahlawan Islam,” kata KH Syam’un dalam Asia Raja No. 35, 8 Februari 2604 (1944) dikutip Hendaru Tri Anggoro di Historia yang berjudul ‘KH Syam’un, Pahlawan Nasional dari Banten“.

KH Syam’un bahkan juga mendorong santri-santrinya di Citangkil untuk turut ikut PETA. Pilihan KH Syam’un untuk menjadi anggota PETA tak mengurangi kadar wibawanya di Banten. Penghormatan terhadapnya justru semakin bertambah. Anak buahnya mematuhi perintahnya tidak hanya sebagai seorang komandan, namun mematuhinya layaknya guru dan bapak.

Meski terdapat sentimen anti-pamong praja dan anti-Priangan yang merebak di Banten, dalam organisasi militer, KH Syam’un memakai wibawa dan kecakapan militernya untuk memulihkan keadaan Banten setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Sentimen anti-pamong praja sering mengakibatkan pembunuhan terhadap pejabat setempat.

Hal ini menyebabkan pejabat yang masih hidup banyak yang mengungsi. Posisi Residen Banten pun kosong. Untuk mengisi kekosongan tersebut, perwakilan golongan masyarakat Banten (jawara, pemuda, dan wanita) menggelar pertemuan di rumah Raden Dzoelkarnaen Soeria Karta Legawa, Dewan Penasehat Karesidenan Banten, pada akhir Agustus 1945.

“Pertemuan secara aklamasi memilih KH Tb Achmad Chatib sebagai Residen Banten yang menangani pemerintahan sipil. Untuk itu, mereka mendesak Pemerintah Pusat agar segera mengangkatnya dan untuk menangani urusan militer diserahkan kepada KH. Syam’un,” tulis Suharto, disertasi di Universitas Indonesia yang berjudul Banten Masa Revolusi 1945-1949, dikutip Hendaru Tri Anggoro di Historia yang berjudul ‘KH Syam’un, Pahlawan Nasional dari Banten“.

Artinya KH Syam’un diberi tanggung jawab dalam pendirian Badan Keamanan Rakyat (BKR) di seluruh wilayah Banten. Setelah KH Syam’un berhasil menyusun struktur militer Banten, ia kemudian memperoleh tugas dari KH Tb. Achmad Chatib untuk menghantam gerakan Tje Mamat yang juga seorang tokoh perlawanan kolonial yang menolak dipimpin oleh orang-orang baru.

KH Syam’un berhasil menaklukkan gerakan Tje Mamat pada awal Januari 1946. Setelah berurusan dengan Tje Mamat, KH Syam’un berhadapan dengan tentara NICA dan Sekutu.

Pada masa peperangan melawan tentara NICA dan Sekutu, ia bertindak sebagai Panglima Divisi 1000/ 1 (kelak menjadi Divisi Siliwangi) sampai Maret 1947 dengan tugas menahan infiltrasi NICA dan Sekutu ke Banten.

KH Syam’un wafat di Gunung Cacaban Anyer pada 2 Maret 1949, tak lama setelah bertemu dengan gerilyawan. Atas peran dan jasanya kepada bangsa dan negara, KH Syam’un ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi pada 8 November 2018.

 

 

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here