Home Pahlawan Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

431
0

SEJARAHONE.ID – Biografi Ki Hajar Dewantara adalah seorang pahlawan nasionla yang punya jasa sangat besar untuk Indonesia. Alih-alih berjuang melalui jalur perang, Ki Hajar Dewantara justru mengambil jalur sebagai aktivis dan memperjuangkan kemerdekaan pendidikan di Indonesia.

Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang melakukan revolusi pendidikan di Indonesia, sehingga ia dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara yang bernama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat, lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889. Ia berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, yang merupakan anak dari GPH Suryaningrat dan merupakan cucu dari Pakualam III.

Lalu, ia mengenyam pendidikan dasar di ELS atau sekolah dasar Eropa/Belanda. Selanjutnya, ia bersekolah di STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera walaupun tidak tamat lantaran sakit.

Setelah selesai dengan pendidikannya, Ki Hajar Dewantara mulai bekerja sebagai seorang penulis dan wartawan untuk beberapa surat kabar. Ia juga tergolong penulis yang handal. Profesinya sebagai wartawan muda, mendorongnya masuk kedalam aktivitas sosial dan politik bersama Budi Utomo.

Dalam organisasi tersebut, Ki Hajar Dewantara mengisi seksi propaganda untuk mensosialisasi dan menyadarkan masyarakat Indonesia tentang persatuan dan kesatuan.

Kemudian, ia juga berkiprah sebagai anggota dari organisasi multietnik Insulinde, yang berjuang untuk pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Saat disana, ia berkolaborasi dengan Ernest Douwes Dekker, yang kemudian mereka tergabung dalam Indische Partij, partai pertama di Hindia Belanda.

Pada tahun 1913, pemerintah hinda belanda mengumpulkan sumbangan dari warga untuk merayakan kemerdekaan Belanda dari Prancis. Hal itu dengan keras di kritisi oleh para kaum nasionalis termasuk Ki Hajar Dewantara. Ia pun menulis karya berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda”.

Tulisan yang kritis nan pedas ini membuat Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan untuk menangkap Ki Hajar Dewantara, untuk diasingkan ke Pulau Bangka. Hal itu pun dengan segera ditentang oleh Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda. Disinilah awal mula mereka dijuluki “Tiga Serangkai”.

Meski diasingkan, Ki Hajar Dewantara tidak mengendurkan perjuangannya, dengan segera ia langsung aktif dalam organisasi pelajar Indonesia, Indische Veereniging. Kemudian ia juga mendirikan Indonesisch Pers-bureau atau Kantor Berita Indonesia di tahun 1913. Ini juga untuk pertama kalinya sebutan formal Indonesia digunakan.

Ia juga melanjutkan pendidikannya disana hingga memperoleh Europeesche Akta, yang merupakan sebuah ijazah bergengsi dalam dunia pendidikan. Dalam masa didiknya ini, Ki Hajar Dewantara memiliki minat terhadap ide-ide para tokoh pendidikan barat, seperti Froebel dan Montessori.

Setelah hampir 6 tahun di Belanda, akhirnya Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia pada tahun 1916. Selepas pulang ia langsung mengajar di sekolah binaan saudaranya. Berbekal pengalaman pendidikan yang tinggi, ia mantap mendirikan sekolahnya pada 3 Juli 1922 yang bernama, Perguruan Nasional Tamansiswa.

Saat usianya 40 tahun, ia mengganti namanya dari RM Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia melepas gelar kebangsawanannya agar bisa dekat dengan rakyat.

Ia juga memberi sebuah semboyan yang terus digunakan oleh pendidikan Indonesia, yaitu “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Arti dari semboyan tersebut adalah “di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”.

Pengabdian untuk Indonesia

Saat masa kemerdekaan Indonesia ia diangkat menjadi Menteri Pengajaran oleh Presiden Sukarno dalam masa jabatan 2 September 1945 hingga 14 November 1945.

Ia juga diberi gelar sebagai Maha Guru pada Sekolah Polisi Republik Indonesia, yang ditetapkan oleh Presiden Sukarno di hari kemerdekaan pertama Indonesia, 17 Agustus 1946. Kemudian ia juga mendapat gelar doktor kehormatan atau doktor honoris causa dari Universitas Gajah Mada di tahun 1957.

Tepatnya pada 26 April 1959 di Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara menghembuskan nafas terakhirnya. Berkat jasanya terhadap pendidikan Indonesia, Presiden Sukarno memberikan gelar Bapak Pendidikan Nasional Indonesia terhadap Ki Hajar Dewantara. Kemudian hari wafat mendiang, juga dinyatakan sebagai Hari Pendidikan Nasional, yang terus diperingati hingga sekarang.

Kiprah seorang pahlawan nasional tak hanya lewat perang, tapi lewat jalur pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara sangat berpengaruh terhadap perkembangan Indonesia. Karena itu, kita harus terus menghormati jasa beliau dan juga meneruskan perjuangannya di masa-masa mendatang.

 

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here