Home Pahlawan Biografi Jendral Sudirman, Berjuang Hingga Akhir Hayat

Biografi Jendral Sudirman, Berjuang Hingga Akhir Hayat

39
0

SEJARAHONE.ID – Sudirman atau Soedirman atau Pak Dirman adalah salah seorang Jenderal yang terpandang dan sangat disegani oleh pasukannya dalam sejarah Indonesia dan salah satu dari sekian banyak Pahlawan Revolusi Nasional yang dimiliki Indonesia dan berjasa sangat besar pada masa revolusi kemerdekaan. Ia adalah Panglima pertama dan Jendral RI pertama dan termuda pada usia 31 tahun. Ia juga dikenal sebagai pejuang yang gigih dan sangat teguh dalam memegang prinsip, memiliki tutur kata yang tenang dan mampu memecahkan masalah dengan cara yang solutif. Jarang diketahui bahwa beliau sudah berkecimpung secara aktif di dunia pendidikan sebelum menjadi tentara dan menjadi seorang Jenderal besar di dunia militer. Ia adalah seorang pejuang yang tangguh. 

 

Jenderal Besar Soedirman

Biografi Jenderal SudirmanJenderal yang bernama asli Raden Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916 dari orang tua bernama Karsid Kartawiraji dan Siyem, memiliki seorang saudara bernama Muhammad Samingan. Istrinya bernama Alfiah dan memiliki 7 orang anak. Tempat kelahirannya tepatnya berada di Bodas Karangjati, Rembang. Ia tidak dibesarkan oleh orang tua kandungnya melainkan diadopsi oleh pamannya yang seorang camat bernama Raden Cokrosunaryo, agar mendapatkan kehidupan yang lebih mapan.

Dalam biografi Jenderal Sudirman ini, ia memang mendapatkan pendidikan layak sejak kecil dimulai pada usia tujuh tahun di HIS (Hollandsch Indlandsche School) dan pada tahun ke tujuh pindah bersekolah ke Taman Siswa. Pada tahun berikutnya ia pindah ke Sekolah Wirotomo karena pemerintah Belanda menganggap Taman Siswa Ilegal. Ia adalah anak yang taat beribadah dan belajar mengenai agama Islam dari Raden Muhammad Kholil hingga mendapatkan julukan Haji karena sering berceramah.

Pamannya wafat pada tahun 1934 dan hal itu menjadi pukulan berat karena keluarganya menjadi jatuh miskin setelahnya, namun ia dibolehkan untuk tetap bersekolah tanpa bayaran di Wirotomo. Ketika remaja ia ikut mendirikan organisasi Islam bernama Hizbul Wathan milik organisasi Muhammadiyah dan setelah lulus memimpin cabang Cilacap. Sejak muda Sudirman memang sudah tampak memiliki bakat kepemimpinan. Masyarakat segan dan hormat kepadanya. Setelah lulus ia kemudian belajar kembali di Kweekschool yaitu sekolah khusus calon guru Muhammadiyah, tetapi masalah biaya membuatnya berhenti. Ia kembali ke Cilacap dan menjadi guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah, bertemu dengan Alfiah dan menikah, tinggal di rumah mertuanya yang merupakan pengusaha batik kaya bernama Raden Sosroatmodjo.

Biografi Jenderal Sudirman mencatat bahwa selama mengajar ia juga tetap aktif untuk berorganisasi di organisasi pemuda Muhammadiyah. Setelah masa penjajahan Jepang di Indonesia pada 1942, kegiatannya mengajar dibatasi bahkan sekolahnya diubah menjadi pos militer oleh Jepang. Ia berunding dengan Jepang dan akhirnya tetap diperbolehkan mengajar dengan perlengkapan yang terbatas. Di tahun 1944 ia menjabat sebagai ketua dewan karesidenan bentukan Jepang, dan menjadi awal mulanya memasuki dunia militer setelah diminta bergabung dengan PETA dan menempuh pendidikan di Bogor. Perjuangan Soedirman juga tidak kalah dengan riwayat biografi Bung Tomo dan biografi W.R. Soepratman yang berjuang di masa yang berdekatan.

Setelah tamat pendidikan PETA, ia langsung menjadi komandan batalyon Kroya. Ketika proklamasi kemerdekaan, Sudirman bertemu dengan Soekarno Hatta dan diberi tugas untuk mengawasi proses penyerahan diri para tentara Jepang di Banyumas setelah mendirikan divisi lokal dari Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya kemudian dijadikan bagian dari Divisi V oleh Oerip Soemohardjo, panglima sementara. Sudirman menjadi Panglima Divisi V/Banyumas berpangkat Kolonel setelah terbentuknya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) atau BKR.

Kemudian melalui Konferensi TKR pada tanggal 2 November 1945, Sudirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selama menunggu pelantikan sebagai panglima, ia memerintahkan agar dilakukan serangan kepada pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa, yang membuat rakyat semakin kuat mendukung Sudirman. Pada tanggal 18 Desember 1945 Sudirman diberikan pangkat Jenderal dan dilantik oleh Presiden.

Perjuangan Jenderal Sudirman dalam Kemerdekaan Indonesia

Biografi Jenderal Sudirman juga mencakup ketika dirinya menjadi saksi dari berbagai upaya diplomatik Indonesia yang gagal dengan tentara Belanda yang ingin kembali menjajah. Kegagalan pertama adalah Perjanjian Linggarjati dimana Sudirman ikut menyusunnya, dan juga sejarah Perjanjian Renville yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambil pada Agresi Militer belanda I kepada Belanda, dan Indonesia harus menarik 35 ribu tentaranya dan Perundingan Roem Roijen.

Sudirman mengatakan kepada Soekarno untuk melanjutkan perang gerilya karena tidak percaya Belanda akan memenuhi janjinya, namun Soekarno menolak. Sudirman terpukul dan menganggap hal itu turut menyumbang andil pada penyakit tuberkulosis (TBC) yang dideritanya, mengakibatkan paru – paru kanannya dikempeskan karena infeksi pada November 1948. Ketika itu Sudirman yang juga terpukul karena kematian Oerip pada 1948 sempat mengancam mengundurkan diri, namun Soekarno juga mengancam untuk melakukan hal sama sehingga Sudirman menyadari bahwa pengunduran dirinya akan membawa ketidak stabilan bagi perjuangan.

Beberapa hari setelah Sudirman keluar dari rumah sakit, tepatnya pada 19 Desember 1948, Belanda melakukan Agresi Militer belanda 2. Sudirman bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya mengarah ke Selaran dan memulai gerilya selama tujuh bulan dalam keadaan sakit parah, ditandu dan kekurangan fasilitas medis. Mereka kabur dari kejaran pasukan Belanda dan mendirikan markas sementara di Sobo, dekat Gunung Lawu. Ia memimpin kegiatan militer di Pulau Jawa dari sini termasuk mengomandoi Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, dipimpin oleh Letkol Soeharto. Kondisi fisiknya yang terus menurun akhirnya memaksa Jenderal Sudirman untuk mundur dari medan perang dan tidak bisa memimpin pasukannya secara langsung.

Wafatnya Jenderal Sudirman

Penyakitnya semakin parah namun semangatnya untuk sembuh tidak berkurang. Beliau terus kontrol kesehatan secara rutin ke RS. Panti Rapih Yogyakarta, pada masa ketika pengakuan akan kedaulatan Indonesia sedang dirundingkan dengan Belanda. Pada 27 Desember 1949, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia melalui Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada waktu itu Sudirman sedang dirawat di sanatorium Pakem dan pindah ke Magelang pada Desember 1949. Kurang lebih satu bulan setelah kedaulatan Indonesia diakui Belanda, Jenderal Sudirman wafat pada tanggal 29 Januari 1950. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta dengan diiringi konvoi empat buah tank dan 80 buah kendaraan bermotor, dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Ketahui juga cerita para pahlawan lainnya dalam biografi Pangeran Diponegoro, biografi Ki Hajar Dewantara, dan biografi Ahmad Yani.

Ribuan rakyat berkumpul hingga sepanjang dua kilometer mengiringi prosesi pemakamannya dan mengibarkan bendera setengah tiang pada hari kematiannya. Taktik gerilyanya kemudian ditetapkan sebagai esprit de corps untuk tentara Indonesia, dan rute perang gerilya sepanjang 100 kilometer yang dulu ditempuh Jenderal Sudirman harus dijalani oleh para taruna Indonesia sebelum lulus dari akademi militer. Wajahnya juga kerap ditampilkan pada uang kertas rupiah yaitu pada tahun 1968, dan namanya kerap diabadikan sebagai nama jalan, universitas, museum, juga monumen. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 10 Desember 1964. Sudirman dianugerahi gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta pada 1997 dengan bintang lima, dimana pangkat tersebut hanya dimiliki oleh tiga orang Indonesia hingga sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here