Home Opini Hikmah dari Mengkaji Sejarah

Hikmah dari Mengkaji Sejarah

241
0

Oleh. Prof. Dr. Taufik Abdullah

Sejarahone.id – Mempelajari sejarah ibarat membaca sebuah buku. Prosesnya harus dimulai dari halaman pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya hingga halaman terakhir. Sama halnya ketika mengawali perbincangan dengan sosok sejarawan dan peneliti, Prof Dr Taufik Abdullah. Banyak hal diungkap dari masa ke masa. Rasanya tidak ada habisnya kata-kata kritis dilontarkannya.

Sekadar mengingatkan kembali ingatan kita, Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno pernah berkata dalam pidato HUT Proklamasi RI pada tahun 1966 bahwa janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta. Masa yang lampau berguna sekali untuk menjadi kaca benggala untuk masa yang akan datang.

Itu pula yang ditegaskan Taufik. Menurutnya, mengolah negara ini ibarat memadukan puisi dan prosa. Menjalani masa kini dengan terpaku masa lampau atau sekadar puisi tidaklah cukup. Prosa yang dibangun justru harus belajar dari masa lampau, agar masa kini punya kisahnya sendiri yang lebih konstruktif.

Pria kelahiran Bukittinggi, 3 Januari 1936 itu merupakan sosok sejarawan dan peneliti yang sudah menghabiskan lebih dari 50 tahun terjun dan terus berpegang pada etika ilmiah. Hingga akhirnya ia pun pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2000-2002.

Kini selain masih membaktikan diri di LIPI, di usianya yang 74 tahun, ia pun mengemban tugas menjadi Ketua Komisi Sosial Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Taufik yang hijrah dari Sumatera ke Pulau Jawa saat usianya 18 tahun ini, mengaku membuat keputusan menjadi seorang sejarawan setelah lulus sekolah menengah atas. Keputusan itu berawal dari impian di atas kapal dalam perjalanan dari Sumatera menuju Jawa.

Teman-teman saya juga berkhayal, ada yang ingin menjadi ekonom, dokter, dan hakim. Saat tiba giliran saya, saya bilang ingin menjadi sejarawan, tutur pria yang membuat skripsi sejarah satu-satunya berbahasa Inggris, kepada SP, di Jakarta, Minggu (15/8).

Kiprahnya mulai matang di dunia akademisi dan peneliti ketika di usia 20 tahun. Ia diajak ke Jakarta oleh Prof Sartono Kartodihardjo, orang pertama di Indonesia yang lulus studi sejarah. Hingga akhirnya, Taufik produktif menulis jurnal ilmiah, buku yang diterbitkan di 16 negara. Bahkan pada tahun 1977, ia berhasil mengumpulkan poinnya sebagai peneliti sebanyak 1.600.

Sampai akhirnya pada tahun 1964, ia mengambil program master dan doktornya di Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat. Di sanalah akhirnya ia merasa terpanggil untuk mempelajari sejarah Indonesia, setelah sebelumnya ia mendalami sejarah Eropa.

Analogi Topi Bundar

Baginya, Indonesia bisa dianalogikan dengan lagu kanak-kanak Topi Saya Bundar. Dalam pembukaan UUD 1945 jelas diarahkan ke mana Indonesia harus dibawa.

Negara Republik Indonesia adalah negara yang berdaulat dan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi jika tidak berdaulat dan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa berarti bukan Indonesia. Contohnya, kenapa sesama umat Islam saling serang, Ahmadiyah yang diserang contohnya. Mirip dengan lagu Topi Saya Bundar. Dan kalau tidak bundar bukan topi saya, papar peraih Mahaputra Utama Presiden RI tahun 1999 ini.

Sejak masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto sebagai presiden RI, Indonesia mengalami lika-liku sejarah yang panjang. Hingga kini pun cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 itu masih jauh dari harapan.

Taufik menyayangkan sebuah cita-cita lama itu dihinggapi munculnya berbagai penyakit baru. Demokrasi yang identik dengan uang dan berapa banyak yang harus dibayar untuk meraih jabatan tertentu. Padahal, lanjutnya, jelas dikatakan di pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan itu hak semua bangsa. Tujuan bangsa ini meningkatkan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menciptakan perdamaian dunia. Yang selalu terlupakan adalah bagaimana cara mencerdaskan bangsa ini. Apakah era reformasi sudah berhasil mencerdaskan bangsa ini, imbuhnya.

Banyak pula pekerjaan rumah yang belum berakhir, di antaranya integrasi nasional dan kemiskinan yang belum beres, tambahnya. Taufik yang mengaku ayahnya seorang pedagang ini kembali mengingat kata-kata Bung Karno bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas. Masa lalu gemilang, masa kini gelap gulita dan masa depan penuh harapan. Nah, dalam jembatan emas itu, lanjutnya, masih ada tonggak yang belum selesai dari bangsa ini. Banyak pelaksanaan sistem kekuasaan yang memicu kesalahan administratif.

Sebut saja, tiba-tiba Kapolri menghilang, atau ada juga orang yang dijanjikan menjadi wakil menteri, tapi tidak jadi dilantik, ujarnya.

Baginya perlu untuk menelaah bagaimana membuat skala prioritas anggaran negara. Cita-cita demokrasi diimplementasikan dan semangat otonomi daerah yang harus menjamin kian dekatnya hubungan negara dengan rakyat melalui tangan kabupaten. Hingga akhirnya semangat pembukaan UUD 1945 itu bukan lagi sekadar impian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here