Home Pahlawan Bagindo Azizchan, Perlawanan Tak Kenal Kompromi Kepada Sekutu dan NICA

Bagindo Azizchan, Perlawanan Tak Kenal Kompromi Kepada Sekutu dan NICA

170
0

SEJARAHONE.ID – Bagindo Azizchan merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Padang. Bagindo Azizchan lahir pada 30 september 1910. Bagindo Azizchan aktif di berbagai organisasi dan merupakan seorang yang ditakuti oleh penjajah.

Pemikiran-pemikiran Bagindo Azizchan banyak dipengaruhi oleh Muhammad Roem dan Haji Agus Salim, dua tokoh perjuangan dari Sumatera Barat. Pengetahuan Bagindo Azizchan yang luas ditambah dengan pribadi yang jujur dan religius mendorong Bagindo Azizchan menjadi pemimpin yang berani dan tidak kenal kompromi menghadapi Sekutu dan NICA.

Perjuangan Bagindo Azizchan banyak dilakukan melalui perundingan, surat-surat diplomatis dan juga melalui media cetak surat kabar perjuangan, Republik Indonesia Jaya.

Atas jasa- jasa yang telah diberikan Bagindo Azizchan kepada Indonesia, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI. No. 082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 November 2005.

Pada tahun 1940 dalam sebuah tabligh agama Bagindo Azizchan dinyatakan melanggar spreek delict sehingga dihadapkan ke landraak (pengadilan) dan dijatuhi hukuman 50 hari. Pada 23 Agustus 1946 sekutu melakukan operasi militer sengit untuk menghancurkan Perlawanan tentara RI di Gunung Pengilir.

Sedangkan pada tanggal 27 dan 28 Agustus 1946 bertepatan malam Idul Fitri, pasukan tentara Indonesia membalas pertempuran dengan sengit di seluruh kota yang mengakibatkan marahnya sekutu dan melakukan penggeledahan di tiap-tiap rumah.

Para lelaki ditangkap, sehingga membuat Bagindo Azizchan tersinggung dan segera mendatangi kembali markas besar sekutu untuk memprotes secara tegas dan menuntut agar Belanda segera memebaskan mereka.

24 September 1946 NICA memasuki rumah-rumah penduduk di Parak Kerambil, Ujung Pandang Olo dan sebagian Kampung Jawa. Pemilik rumah diusir dan rumah-rumah tersebut dikuasai Belanda. Bagindo Azizchan segera menyampaikan telegram protes sebagai berikut:

1. Protes terhadap pengusiran penduduk di Parak Kerambil dan perbuatan tersebut di luar prikemanusiaan.
2. Negara Indonesia mempunyai peraturan-peraturan yang sehat dan diharapkan NICA menunjukan prikemanusiaan yang lebih tinggi.
3. Bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan mengancurkan pihak-pihak yang berlaku tidak adil.

Pada saat hubungan dengan Belanda semakin memburuk, Belanda merencanakan penangkapan sejumlah tokoh-tokoh pimpinan RI.
Pada Juli 1947 Bagindo Azizchan melaporkan perkembangan terakhir Kota Padang kepada Dewan Eksekutif Sumatera Barat dan juga melakukan pembicaraan-pembicaraan dengan tokoh-tokoh pemimpin perjuangan lainnya.

Dua hari kemudian Bagindo Azizchan pulang kembali ke Padang, namun di tengah perjalanan seorang menginformasikan bahwa polisi menangkap tokoh-tokoh Republik yang masih berada di kota Padang dan disarankan agar Azizchan jangan memasuki kota tersebut, namun karena sesuatu hal beliau tidak dapat memenuhi seruan tersebut dan tetap kembali ke kota Padang.

19 Juli 1947 saat Bagindo Azizchan hendak meninggalkan Kota Padang namun di tengah perjalanan, tepatnya di jembatan Ular Karang mobil yang ditumpanginya ditahan oleh pengawal Belanda.

Setelah terjadi pembicaraan yang tak lama kemudian seorang Komandan Belanda bernama Letkol Van Erp meminta Bagindo Azizchan kembali ke kota untuk menentramkan kekacauan dengan menumpangi kendaraan jeep milik Van Erp. Namun semua itu hanyalah siasat Belanda karena tidak lama kemudian terdengar berita bahwa Bagindo Azizchan terbunuh.

Tahun 1934 Bagindo Azizchan kembali ke Padang, namun saat itu belum dapat melakukan kegiatan politik karena dibelenggu oleh pemerintah Hindia Belanda. Satu-satunya peluang yang Bagindo Azizchan lakukan adalah mengajar di Moderne Islamische Kweek School.

Pada 1935 ia mengajar di Islamic College, kemudian bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Pendidikan Pergerakan Umum bagi rakyat dari tingkat tinggi sampai rendah dengan nama Volks Universalitir.

Bagindo Azizchan juga menjadi tenaga pengajar di Normaal Islam Padang, Balai Pendidikan PSII Batu Hampar, dan MIK Bukit Tinggi. Pada November 1945 Bagindo Azizchan terpilih sebagai salah seorang utusan PRI (Pemuda Republik Indonesia) untuk menghadiri Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta.

Setelah kembali ke Padang Bagindo Azizchan membentuk organisasi Pemuda Muslim Indonesia. Tanggal 15 Agustus 1946 Bagindo Azizchan diangkat sebagai Walikota Padang dan sehari kemudian melakukan kunjungan dinasnya yang pertama sebagai Walikota ke markas besar sekutu untuk melakukan pembicaraan masalah keamanan terutama di kota Padang yang kondisinya semakin gawat.

Berikut pendidikan Bagindo Azizchan:

1. HIS
2. MULO di Surabaya (1926)
3. AMS di Jakarta (1929)
4. Recht Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta, sampai Tingkat II.

Bagindo Azizchan telah dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005. Bagindo Azizchan mendapat gelar Pahlawan Nasional (SK Presiden Republik Indonesia no. 082/TK/Tahun 2005, tanggal 7 November 2005. Bagindo Azizchan juga menerima penganugerahan gelar Bintang Mahaputra Adiprana yang merupakan penghargaan tertinggi di negara kita.

Akibat perlawanan Bagindo Azizchan kepada sekutu, pada tanggal 19 Juli 1947 ia mengembuskan napas terakhir saat diserang tentara Belanda. Hasil visum menunjukkan Bagindo Azizchan karena serangan benda tumpul dan terdapat 3 bekas tembakan di bagian wajah. Beliau dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Bahagia Bukittinggi.

Bagindo Azizchan meninggal pada usia 36 tahun. Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI. No. 082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 November 2005.

 

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here