Home Opini Aya Sofya dan Hukum Perang

Aya Sofya dan Hukum Perang

301
0

Oleh: Salim A Fillah

SejarahOne.id – Apa yang terjadi di masa lalu memang tidak bisa diukur dengan takaran masa kini. Mari cerdik menelisik dan cerdas menyimpulkan. Barangkali ada yang bertanya, mengapa Sayyidina Umar enggan shalat di Gereja Makam Suci di Jerusalem meski disilakan Patriark Sophronius.

Alasan beliau, khawatir kelak ada yang akan mengubah gereja itu menjadi Masjid dengan alasan Umar pernah shalat di situ; sedangkan Muhammad Al Fatih malah mengubah Aya Sofya (Hagia Sophia) menjadi Masjid.

Iya. Kalau sebuah kota menyerah damai; maka pemimpin pasukan muslim wajib melindungi dan menjaga hak seluruh kota tersebut, termasuk hak milik dan tempat ibadah. Inilah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar.

Adapun Al Fatih sudah memberi pilihan damai kepada Kaisar Konstantin XI Palaiologos. Sang Kaisar melawan dan kotanya jatuh oleh pertempuran. Beda dengan penyerahan damai; menurut hukum perang masa itu seluruh milik pihak kalah adalah hak pemenang.

Beliau sebagai pemegang hak lalu mewakafkannya dan menuliskan ancaman bagi sesiapa yang mengubahnya. Fakta penting lainnya, ketika Al Fatih mengubah Aya Sofya menjadi Masjid, Gereja Agung itu sebenarnya telah terbengkalai dan ditutup seabad lebih karena tak ada anggaran untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa pada 1344 dan penjarahan Pasukan Salib 1204.

Bandingkan Aya Sofya dengan Masjid Agung Toledo.

Kota ini jatuh pada Kerajaan Castillia pada 25 Mei 1085 setelah pengepungan 1 tahun membuat kaum muslimin kelaparan. Amirnya, Yahya II Al Qadir, menyerahkan Toledo secara damai pada Alfonso VI setelah Raja Katolik itu berjanji akan menjaga keamanan kaum muslimin dan membiarkan Masjid-masjid tetap jadi tempat ibadah Islam.

Alfonso VI mengingkari janjinya. Dia membiarkan Masjid Agung Toledo dirampas oleh ummat Katolik atas perintah Uskup Agung Bernardo dari Sedirac. Masjid itu pun dijadikan Katedral. Masjid Agung Cordoba, Masjid Agung Sevilla dan begitu banyak Masjid lainnya di Andalusia, Yunani dan Balkan mengalami nasib serupa di kurun berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here