Home Merdeka Awal Reformasi, Peran Umat Islam Sangat Ditunggu

Awal Reformasi, Peran Umat Islam Sangat Ditunggu

135
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Masyarakat Indonesia mengalami titik kulminasi jenuh pada pemerintahan Orde Baru tahun 1998. Masyarakat luas mengiginkan perubahan kepemimpinan nasional, bahkan sebagian di kalangan ABRI pun dan dunia internasional yang dulu sebagai pendukung dana dan politik Orde Baru, mulai kendor dan meninggalkan dukungannya.

Dalam kondisi seperti ini, Presiden Soeharto mendekati umat Islam melalui tokoh-tokohnya, namun tidak berhasil, sehingga beliau terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden dan digantikan wakilnya yaitu BJ Habibie.

Era pemerintahan BJ Habibie yang hanya kurang dari setahun, berhasil menekan inflasi yang sebelumnya nilai rupiah terpuruk hingga Rp15.000 setiap satu dolarnya, dapat ditekan menjadi Rp6.000 setiap dolar AS. Namun, adanya epouria politik yang terus bergelora, akhirnya pada sidang MPR peratanggunganjawabnya tidak diterima, maka BJ Habibie tidak mencalonkan jadi presiden.

Pada awal Reformasi ini umat Islam pun terimbas adanya euphoria politik, sehingga ramai-ramai mendirikan partai, antara lain lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan (PK) kini PKS, Partai MASYUMI Baru, Partai ABULYATAMA, Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII), Partai Persatuan Pembagunan (PPP) yang juga masih eksis dan punya masa.

Pada Pemilu 1999 PDIP berhasil unggul disusul Golkar dan baru partai-partai Islam dan partai yang basis pendukungnya Islam. Meski PDIP unggul dalam pemilu, namun dalam pemilihan presiden tidak berhasil, MPR memilih suara terbanyak Abdurrahman Wahid, sedangkan wakilnya baru Megawati.

Abdurrahman wahid tidak mulus jadi presiden RI, dengan adanya berbagai persoalan akhirnya diberhentikan oleh MPR, kemudian digantikan oleh Megawati dengan mengambil wakil Hamzah Haz dari PPP.

Pada Pemilu 2004, partai-partai Islam dan yang berbasiskan Islam belum meraih kemenangan. Pada pemilu 2004, Golkar pewaris orde baru berhasil menang, sedangkan dalam pemilihan presiden dimenangkan SBY dan Jusuf Kalla, sedangkan calon-calon lain dari tokoh umat Islam belum berhasil menang. Dengan keadaan seperti ini sudah semestinya umat Islam perlu mengevaluasi dan menyusun langkah-langkah yang lebih baik terkait masa depannya.

Selain politik, juga terjadi euphoria liberalisme yang semakin menjadi, pornografi dan pornoaksi, yang merajalela dengan bebas melalui mass media, sehingga menjadi petaka rusaknya moral bangsa. Mereka menggunakan senjata HAM untuk kebebasannya. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi tak kunjung diputuskan, karena terkendala para pendukung gerakan perusak moral itu.

Perjuangan melawan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) berjalan lamban, stagnan, karena tidak ada ketegasan dari pemerintah, sehingga kasus BLBI yang memakan uang rakyat Rp 90 Trilyun belum dituntaskan. Komunisme berusaha hidup kembali, melalui berbagai nama seperti PRD, PAPERNAS dan mungkin akan lahir Partai Kemerdekaan Indonesia (PKI). Mereka juga menggunakan senjata HAM untuk berlindung. Menghadapi komunisme pun tidak ada tindakan tegas dari pemerintah.

Tingkat keadaan ekonomi masyarakat Indonesia masih tidak seimbang, yang kaya semakin kaya, yang miskin bertambah miskin. Masyarakat lapisan menengah ke bawah hidup semakin sulit dan perlu diupayakan kesejahteraannya secara serius.

Namun, ada hal yang dapat jadi hiburan, yakni berkembangnya perekonomian syari’ah yang diharapkan menjadi alternatif untuk mengobati ketimpangan kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia. Sudah waktunya ekonomi syari’ah berpihak pada masyarakat kurang mampu, untuk ikut berusaha mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here