Home Khasanah Asal Usul Nama Israel dari Masa Kenabian

Asal Usul Nama Israel dari Masa Kenabian

431
0

SEJARAHONE.ID – Palestina pada mulanya adalah bagian dari Daulah Islamiyah di bawah Turki ‘Utsmani. Tetapi dengan dikuasai wilayah ini oleh Inggris (1917), seterusnya dicaplok sebagian besar (48 %) oleh Yahudi, Palestina yang mayoritas penduduknya Muslim menjadi tidak merdeka.

Zionis Israel menguasai Palestina karena mendapat sokongan dari sekutu utamanya yaitu Amerika Serikat, Inggris dan Prancis. Sementara Palestina berjuang sendiri, karena negara-negara Islam sekitarnya sudah pernah ingin membantu pada tahun 1968, tetapi mengalami kekalahan dalam peperangan enam hari. Akibatnya, Mesir, Suriah, Yordania dan Palestina lepas sebagian wilayahnya.

Terakhir, Palestina semakin terpuruk, dan jika disahkan RUU Yahudi yang diajukan oleh Benyamin Netanyahu ke Parlemen Israel, Palestina dan Arab Islam akan semakin terdesak. Padahal harus diakui bahwa sekitar dua juta dari 8.2 juta jiwa warga negara Israel adalah terdiri dari orang-orang Arab-Muslim.

RUU perubahan nama negara Israel menjadi Negara Yahudi berhasil disahkan, RUU yang diajukan pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan telah mendapat persetujuan kabinetnya dimaksud, mengantarkan Yahudi sebagai bangsa dan agama, memiliki semangat dan solidaritas baru di dunia internasional. Yahudi lebih luas maknanya dari Israel dan Ibrani. Hal itu karena istilah Yahudi selain disematkan kepada kaum Ibrani, juga bermakna dan dapat disematkan kepada orang-orang non-Ibarani yang memeluk agama Yahudi. Sementara orang-orang keturunan Arab yang Islam semakin terdesak dengan kebijakan-kebijakan mengikat dan akan mengurangi atau ada kemungkinan akan hilang haknya di negerinya sendiri sebelumnya.

Negara Israel Sejarah dan Nama Israel

Dalam sejarah, nama Israel atau Bani Israel dikenal juga dengan Ibrani dan Yahudi. Dalam riwayat, sebutan Israel, orang atau Bani Israel (Israiliyin), adalah sebutan yang dinisbatkan kepada nama bapak mereka, yaitu Ya‘qûb ibn Ishâq ibn Ibrâhîm as. Israel adalah kalimat yang terdiri dari dua kata, Isra yang artinya hamba atau teman dekat, dan el artinya Tuhan.

Dengan demikian Israel artinya hamba Tuhan atau teman dekat Tuhan. Kemudian mereka disebut Ibrani, karena dinisbatkan kepada nama Ibrâhîm as. Hal ini ditemukan dalam Kitab Kejadian, Ibrâhîm as disebut dengan nama “Ibrahim Sang Ibrani” atau maksudnya Ibrâhîm Sang Penyeberang, karena ia menyeberangi (‘abara) sungai Eufrat dan sungai-sungai lainnya. Atau ada juga riwayat lain, mereka dinamakan kaum Ibrani karena dinisbatkan kepada Ibr, kakek kelima Ibrâhîm as. Akan tetapi para sejarawan sepakat bahwa penamaan Bani Israel dengan kaum Ibrani karena peristiwa penyeberangan Ibrâhîm as melintangi sungai Eufrat, yang diperkuat dengan ungkapan dalam kitab Joshua.

Adapun dinamakan mereka dengan Yahudi, muncul ketika mereka bertaubat dari menyembah anak sapi. Mereka berkata, yang diabadikan oleh Allah dalam Q.S. al-A‘râf/7: 156, “sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.” Riwayat lain mereka dinamakan Yahudi karena mereka bergerak-gerak (yatahawwad) ketika membaca Taurat. Riwayat lain lagi bahwa mereka dinamakan Yahudi karena dinisbatkan kepada Yehuda, anak keempat Ya‘qûb as., yang nama asli atau dasarnya Yehuza, pemimpin bagi sebelas anak Ya‘qûb as.

Asal usul nenek moyang mereka berasal dari keturunan seorang nabi, yaitu nabi Ya‘qûb as. merupakan kemuliaan dan gengsi tersendiri dalam berhadapan dengan manusia lainnya. Karenanya sikap-sikap arogan yang ditunjukkan orang Israel dewasa ini kelihatan ada hubungan sedikit banyaknya dengan kesadaran-memori kolektif sejarah dan asal usul keturunan mereka.

Negara Israel dalam Sejarah Jauh sebelum negara Israel Modern, di sana sudah pernah berdiri negara Israel pada zaman klasik, yaitu ketika negara Israel digagas dan dikembangkan oleh Syaul atau alQur’an menyebutnya dengan Thalut pada tahun 1025 SM. Ia menjadi pemimpin untuk seluruh Bani Israel yang bersuku-suku tersebut. Pada masanya banyak terjadi peperangan, seperti perang menakluk bangsa Amun di wilayah Timur Yordania; peperangan melawan bangsa Palestina yang ketika itu dipimpin oleh Goliath (al-Quran menyebutnya dengan raja Jalut). Konon rupanya dalam pasukan Syaul atau Thalut ikut serta Dâwûd as. yang ketika itu masih sangat muda dan ia pula yang berhasil membunuh Jalut dalam peperangan tersebut. Ketika itu, sebagian kecil Palestina dapat dikuasi pasukan Syaul/Thalut.

Pasca Thalut, Dâwûd as. yang menjadi pemimpin Bani Israel

Palestina dengan demikian sudah berada di bawah kepemimpinan Dâwûd as. Ia pula yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Bani Israil di Palestina yang sesungguhnya. Pada masa pemerintahannya dakwah Tauhid menyebar ke seluruh Palestina yang dijuluki dengan “Tanah yang Diberkati”.

Keadilan, kedamaian dan kejujuran dijunjung tinggi, dan sebagai Nabiyullah, Dâwûd as. dengan kitab Zabur, dikarunia pula oleh Allah ilmu dan kebijaksanaan. Gunung dan burung-burung ikut bertasbih ketika ia membaca kitab Zabur dengan suaranya yang merdu dan khusyuk (Q.S. Shad/18-20). Dâwûd as. juga dikarunia mukjizat yang mencengangkan, yaitu di samping burung-hewan bertasbih bersamanya dan dapat pula melunakkan besi dengannya (Q.S. Sabâ’/34: 10). Daud meninggal dunia pada tahun 963 SM, dan menurut satu riwayat kuburannya terletak di gunung Zion, di tempat yang sekarang disebut dengan “al-Nabi Daud”.

Pasca Dâwûd as. meninggal, kepemimpinan Bani Israel diteruskan oleh anak/ putranya, Sulaiman as. yang berhasil menikahi puteri Fir‘aun. Pada masa Sulaiman, Bani Israel mencapai puncak masa kedamaian dan kemakmurannya. Hal itu karena kerajaan tersebut sudah dibina sebelumnya oleh Daud dengan maksimal, sehingga tidak ada lagi rintangan politis apapun lagi. (Q.S. al-Nahl/16: 112; Q.S. al-Anbiyâ’/21: 78-82). Sulaiman membangun Kuil, yang memperkerjakan banyak ahli bangunan dan pemahat. Ia mengirim kapal mengharungi Samudera hingga ke selatan Spanyol. Pemerintahan Sulaiman

Masa kepemimpinan Sulaiman yang berpusat di seluruh tanah Palestina, dianggap masa kejayaan industri dan teknologi canggih ukuran zamannya, di mana berhasil membangun bangunan yang indah, istana yang megah, kota-kota yang banyak dan megah serta benteng-benteng yang kokoh serta tentara yang terdiri dari pasukan jin, manusia dan burung-burung.

Berkaitan dengan kesuksesan dan kejayaan Bani Israel di Palestina di bawah kepemimpinan Sulaiman as., Allah abadikan dalam Q.S. al-Naml/27: 17 dan 37; serta Q.S. al-A‘râf/7: 27. Sejarah Bani Israel di Palestina Pasca-Nabi Sulaiman Pasca kepemimpinaan Dâwûd as. dan Sulaiman as. yang memerintah Palestina sekitar 80 tahun, maka sejak tahun 923 SM kerajaan Sulaiman tersebut terbelah menjadi dua negara dan antara keduanya saling bertikai. Pertama, Kerajaan Yehuza (Judah) di Selatan dengan ibukotanya Yerusalem (al-Quds). Negara/kerajaan ini dipimpin oleh Rehoboam ibn Sulaiman. Ia dibaiat dan didukung oleh dua suku Bani Israel, yaitu Yehuza dan Benyamin yang tinggal-berdomisili di wilayah Selatan dan di sekitar Yerusalem. Akan tetapi di daerah lain, Syakim atau Syakin tidak mau membaiatnya sebagai raja Bani Israel, karena kekasar-annya dan karena mengancam masyarakat di sana jika tidak mau membaiatnya, suku Bani Israel yang ada di sana menolak membaiat dan malah mereka membaiat Rehoboam, dari suku Ephraem (salah satu suku Bani Israel) dan inilah kerajaan kedua Bani Israel yang berada di sebelah utara. Mereka menamakan kerajaan mereka dengan “Israel” dan menjadikan ibu kota kerajaan mereka berturut-turut di Syakim, Terzah dan terakhir di Samirah. Kerajaan ini diperkirakan hidup berkembang antara 923-722 SM dan menempati 72 % wilayah Bani Israel. Kerajaan ini runtuh dan hilang setelah diserbu oleh Sargon II, raja Assyria, dengan rajanya yang terakhir adalah Hosea ibn Elah. Dengan demikian berakhirlah semua kerajaan Bani Israel dan raja Sargon II membuat kebijakan agar seluruh suku bani Israel diasingkaan dan ditempatkan di lembah sungai Eufrat dengan menunjukkan seorang gubernur Assyria untuk mereka. Begitu juga dengan nasib kerajaan Bani Israel di Selatan yaitu Yehuza, dengang ibukota Yerusalem (al-Quds), pada tahun 606 SM diserbu pula oleh Nebukhadnesar. Banyak penduduk yang terbunuh dalam serangan tersebut dan Rajanya yang terakhir di sana Yahwakin ibn Bawakim dan keluarganya juga diasingkan ke Babilonia, Irak. Akan tetapi di tempat pengasingan ini para bekas pimpinan kerajaan Yehuza memberontak pula, sehingga menyebabkan diserbu lagi ke Babilonia oleh Sargon II, raja Assyria, sehingga tahun 586 SM sudah berakhirlah semua kerajaan bani Israel.

 

Yahudi di Palestina Pasca-Kehancuran

Disebutkan bahwa tahun 586 SM adalah tahun kehancuran dan kelenyapan pertama kerajaan-kerajaan Bani Israel di Palestina pada tangan Nebukhadnesar. Kemudian setelah Nebukhadnesar, Palestina dikuasai oleh beberapa kerajaan dari luar, yaitu kerajaan Babilonia antara tahun 586-538 SM, kerajaan Persia antara 538-330 SM, kerajaan Yunani antara tahun 330-200 SM, Dinasti Seleucid antara tahun 200-167 SM, Dinasti Seleucid dan Maccabee antara tahun 167-63 SM, dan Imperium Romawi antara tahun 63 SM sampai 638 M.

Pada masa Imperium Romawi berkuasa, terutama masa Kaisar Romawi Konstantin yang sudah memeluk Nasrani pada tahun 325 M, Palestina umumnya sudah dinasranikan. Di al-Quds Yerusalem dibangun gereja Makam Suci sebagai gereja teragung. Di puncak gunung Zaitun dibangun pula gereja Langit dan di kota Bethlehem dibangun pula gereja Kiamat. Adapun orang-orang Yahudi ketika itu terutama para pedagangnya sudah menyebar ke negara-negara Eropa.

Adapun di Palestina sendiri orang Yahudi terdesak dengan berkembangnya Nasrani yang didukung langsung pula oleh penguasanya yang Nasrani. Karenanya, Yahudi dimana pun mereka berada, termasuk di Eropa tetap menghalanghalangi orang Nasrani. Hal itu karena Nasrani yang umat Nabi Isa as. membawa agama Tauhid dan terdesak keberadaan ajaran Yahudi yang sudah menyembah patung. Orang Yahudi atau Bani Israel mendustakan nabi terakhir mereka dengan menuduhnya melakukan sihir dan berusaha membunuh Nabi Isa AS.

Bani Israel melakukan itu karena diasumsikan bahwa Nasrani telah menghancurkan prinsip-prinsip ketuhanan dan syariat Talmud tentang keagungan Yahudi sebagai bangsa pilihan Allah. Pertentangan orang Yahudi dengan Nasrani tidak lagi di sekitar Palestina, Irak dan Timur Tengah umumnya, tetapi sudah pernah merambah-melebar ke seluruh Eropa dan malah ke benua Amerika, karena Nasrani juga mulai berkembang luas di sana. Hanya saja Sifat Yahudi yang ingin memonopoli, terutama perdagangan, maka sejumlah komoditas, seperti gandum, wol, emas dan perak dikuasainya. Dengan begitu mereka bisa menguasai pasar dan malah dapat mengontrol ekonominegara dunia pada umumnya. Mereka bertindak rentenir, yaitu meminjamkan uang kepada orang Nasrani dengan bunga yang tinggi. Keinginan memonopoli ini pula kemudian yang menyebabkan orang-orang Eropa (yang Nasrani utamanya), membenci orang-orang Yahudi di manapun mereka berada.

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here