Home Khasanah Asal Usul Halalbihalal

Asal Usul Halalbihalal

19
0
KH Wahab Chasbullah disebut sebagai penggagas halalbihalal di Indonesia oleh warga NU

SejarahOne.id – Sebenarnya belum ada sumber sahih yang mengupas sejarah tradisi halalbihalal. Sebagian cerita menyebutkan bahwa halalbihalal merupakan kreasi kolaborasi Kiai Wahab Hasbullah dengan Bung Karno pada 1948. Keduanya berembuk untuk mencari solusi ancaman disintegrasi bangsa oleh kelompok DI/TII dan PKI. Kiai Wahab mengusulkan silaturahmi nasional. Bung Karno menganggap ide itu bagus, namun istilahnya harus dimodifikasi agar bisa menjadi ekstravaganza. Kiai Wahab mengusulkan istilah ‘halalbihalal’.

Halalbihalal bukan berakar dari struktur gramatika bahasa Arab. Istilah ini lahir dari spontanitas Kiai Wahab Hasbullah. Maksud dan arti yang ingin dirujuk adalah masing-masing pribadi saling memberikan kehalalan atas kesalahan-kesalahan yang terlanjur sudah diperbuat.

Menurut Abdul Gaffar Ruskhan dalam Kompas Bahasa Indonesia (2003: 23-24), makna lebih modern dari halalbihalal adalah kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama selepas bulan puasa dalam suasana Idulfitri sebagai sarana bermaaf-maafan antarsesama.

Bermula Dari Anak Muda Kauman

Sumber lain ada yang berpendapat bahwa asal usul halalbihalal itu bermula ketika anak-anak muda masjid Kauman Yogyakarta kebingungan mencari tema untuk mewadahi dua momen istimewa. Satu sisi perayaan Idul Fitri sebagai wujud kemerdekaan spiritual dan sisi lain baru saja dilakukan proklamasi kemerdekaan RI. Seperti diketahui, proklamasi kemerdekaan RI bertepatan dengan sayyidul ayyam, Jumat, dan sayyidus syahr, Ramadan. Bagaimana supaya kedua peristiwa ini terangkum menjadi satu, lalu diadakanlah sayembara kecil-kecilan untuk menemukan tema yang akan ditulis di dalam spanduk.

Saat itu muncul berbagai kreasi untuk memaknai suasana batin Idul Fitri. Salah seorang seniman mengusung tema halalbihalal yang intinya saling memaafkan, saling merelakan, dan saling menghalalkan.

Warga yang pernah dikucilkan masyarakat karena terlibat mata-mata Belanda atau pengkhianat bangsa diserukan untuk dimaafkan. Momentum Idul Fitri digunakan untuk menggalang persatuan dan kesatuan dalam mengisi kemerdekaan.

Sejak itu, halalbihalal menjadi populer dan diterima semua pihak karena berisi pesan integrasi bangsa. Melalui acara halalbihalal, jangan lagi ada dendam satu sama lain. Lapangkan dada dan hilangkan warna-warni perbedaan lokal di hadapan kebesaran Allah SWT. Semuanya harus bersatu membangun bangsa Indonesia yang bermartabat dan tetap menjunjung tinggi religiositas bangsa.

Halalbihalal kemudian menjadi salah satu produk budaya Islam Indonesia dan sekaligus menjadi salah satu ‘produk ekspor’ Indonesia ke mancanegara, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Akar Tradisi Halalbihalal

Jika yang dimaksud esensi halalbihalal adalah siturahmi, maka tradisi ini sudah mengakar jauh dari leluhur Nusantara. Setidaknya hal ini sudah terjadi semenjak Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I bertakhta. Tradisi raja kala itu selepas salat id mengumpulkan para punggawa dan prajurit di istana untuk saling meminta maaf satu dengan yang lainnya.

Sebagai sebuah isitilah yang tidak dilahirkan dari induknya, istilah halalbihalal melahirkan tradisi unik yang juga hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara Timur tengah, termasuk di Saudi Arabia, tahniah atau ucapan selamat yang didengungkan untuk merayakan Idulfitri adalah kulla am wa antum bi khair (semoga sepanjang tahun kau dalam keadaan baik-baik saja). Ucapan ini semukabalah dengan kalimat yang diucapakan untuk menyambut tahun baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here