Home Ekonomi Asal Mula KELAPA SAWIT Menjadi Primadona

Asal Mula KELAPA SAWIT Menjadi Primadona

25
0

Oleh. Hana Wulansari

Sejarahone.id – Perekebunan kelapa sawit saat ini telah menyingkirkan ribuan hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra, ini karena permintaan kelapa sawit terus meningkat di tingkat global.

Kelapa sawit punya julukan yang mentereng, yakni buah emas. Ini dikarenakan nilai ekonomi tinggi miyak sawit, sejak dinobatkan dapat menjadi biofuel, atau bahan bakar nabati.

Minyak yang diperoleh dari pengolahan biji sawit merupakan bahan baku minyak nabati yang lazim digunakan untuk mengolah berbagai bahan makanan. Saat ini kelapa sawit Indonesia telah mendunia. Indonesia boleh berbangga karena sekarang tercatat sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Dari Mamitius ke Kebun Raya Bogor

Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848. Bermula dari empat bibit sawit yang didatangkan Pemerintah Hindia Belanda. Dua bibit berasal dari Bourbon (Mauritius, Afrika tengah) sedangkan dua bibit lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam, Belanda. Bibit-bibit sawit tadi ditanam di Kebun Raya Bogor yang direkturnya kala itu dijabat oleh Johanes Elyas Teysman.

Pada 1853, keempat tanaman sawit berbuah. Bijinya disebarkan secara gratis. Meski demikian, pohon-pohon sawit pada saat itu hanya diperuntukan sebagai penghias taman atau jalanan.

Pada 1895, produksi minyak kelapa sawit justru tercatat dari perkebunan di Banten. Seiring dengan perkembangan revolusi industri, permintaan akan minyak nabati meningkat.

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai dibudidayakan secara komersial. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia). Budidaya yang dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang.

Hallet membuka lahan perkebunan sawitnya di Sungai Liat, Aceh Timur di bawah bendera perusahaan Sungai Liput Cultuur Maatschappij. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan ketika itu mencapai 5.123 Ha.

Sejak itu, perkebunan sawit skala besar untuk kepentingan dagang mulai menjamur di pesisir timur Sumatra. Tanah Deli menjadi sentra produksi dengan varietas sawitnya yang terkenal Dura Deli.

Pengusaha sawit asal Sumatra Utara Derom Bangun dalam memoarnya Derom Bangun: Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia, mengungkapkan meroketnya kelapa sawit, boleh dikata keadaannya from zero to hero, dimulai dari bukan apa-apa menjadi pemain terbesar dalam percaturan bisnis minyak nabati dunia. Beberapa tempat atau desa di Jawa sudah ada yang menggunakan nama sawit.

Pada tahun 1919, minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dari kawasan Pesisir Timur Sumatra diekspor untuk kali pertama.Dalam pengolahan minyak sawit, tandan buah segar diambil terlebih dahulu dengan menjolokkan pisau bertiang panjang. Pemanenan sawit ini disebut dengan istilah mendodos.

Pada tahun 1923 mengekspor minyak inti sawit sebesar 850 ton. Pada masa pendudukan Belanda, perkebunan kelapa sawit maju pesat sampai bisa menggeser dominasi ekspor Negara Afrika waktu itu.

Namun demikian, rakyat Hindia Belanda ketika itu tidak begitu menaruh minat terhadap kelapa. Sebabnya, kelapa sawit masih terasa asing. Mereka lebih suka memakai kelapa yang dapat diolah dalam berbagai ragam makanan ataupun bahan untuk keperluan rumah tangga. Sementara itu, pemerintah kolonial giat melakukan percobaan penanaman kelapa sawit di berbagai wilayah Hindia.

Belanda Terus Mengembangkan Kelapa Sawit

Pada 1930 pengolahan komoditas kelapa sawit di Hindia Belanda masih mengalami perkembangan terus-menerus. Semula pengemasan ekspor minyak sawit mengalami kendala pengemasan. Masalah itu terpecahkan dengan pengiriman minyak secara borongan, yaitu dengan kapal tanker.

Sampai tahun 1940, telah berdiri sekira 60-an perkebunan sawit di Hindia Belanda meliputi luas areal 100.000 hektare. Tidak diragukan lagi bahwa Hindia Belanda menjadi pemain penting eksportir minyak sawit mentah terbesar di dunia. Kapal-kapal dagang hilir mudik membawa minyak sawit dari Aceh, Asahan, dan Lampung menuju Rotterdam, Belanda. Di masa ini, permintaan cukup banyak berasal dari pabrik-pabrik margarin dan sabun di Eropa.

Sempat tumbuh pesat di masa kolonial, budidaya sawit mengalami masa suram pada pendudukan Jepang. Pasalnya, pemerintah Jepang lebih melirik tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan perang. Akibatnya, sejumlah lahan perkebunan sawit terlantar dan produksi minyak sawit pun turun drastis. Hal yang sama juga terjadi di era revolusi kemerdekaan. Baru di masa setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda, industri sawit ditata ulang kembali.

Produksi Menurun Masa Perang Dunia

Namun, memasuki masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami kemunduran. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawit pun di Indonesia hanya mencapai 5 56.000 ton pada tahun 1948 / 1949. Padahal pada tahun 1940 Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit.

Menurut penelitian Pieter Creutzberg dan J.T.M van Laanen, sampai Perang Dunia I, produksi sawit agak lamban. Kemajuan pesat terjadi pasca depresi ekonomi pada 1921. Pada 1924, lahan yang ditanami kelapa sawit di pesisir timur Sumatra sebesar 18.801 hektare dari yang semula hanya 414 hektare.

“Pada waktu yang hampir bersamaan, di Jawa muncul sejumlah kecil perusahaan minyak kelapa sawit. Mereka berproduksi untuk pabrik-pabrik sabun dalam negeri, dan kemudian untuk pabrik mentega,” tulis Creutsberg dan van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi di Indonesia.

Kelapa Sawit Era Kemerdekaan

Pada tahun 1957, setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, pemerintah mengambil alih perkebunan (dengan alasan politik dan keamanan). Untuk mengamankan jalannya produksi, pemerintah meletakkan perwira militer di setiap jenjang manajemen perkebunan.

Pada 1957, Presiden Sukarno menasionalisasi perusahaan Belanda di Indonesia. Begitu pula dengan perkebunan sawit warisan era kolonial yang ikut dinasionalisasi jadi milik negara. Kendati demikian, kebijakan nasionalisasi itu belum dapat menggenjot pertumbuhan produksi sawit secara signifikan. Beberapa pemberontakan di daerah bergolak dan kemampuan petani lokal yang terbatas membuat pertumbuhuan produksi sawit jalan ditempat.

Industri sawit mulai bangkit lagi pada paruh kedua 1970. Hal ini tidak terlepas dari temuan baru dalam pengolahan minyak sawit. Para pegiat industri berhasil menetralkan minyak sawit dari kandungan asam lemak bebas yang membuat minyak teroksidasi dan jadi tengik. Setelah melewati proses netralisasi, sebagian minyak membeku dalam suhu ruang dan sebagian lagi tetap cair. Minyak yang cair digunakan sebagai minyak goreng sedangkan yang beku untuk bahan baku margarin, sabun, dan industri olekimia.

“Sejak diproduksi menjadi minyak goreng, kelapa sawit dengan cepat menjadi idola warga dunia, terutama penduduk negara berkembang. Minyak sawit lebih disukai penduduk negara berkembang karena harganya lebih terjangkau,” tulis tim peneliti Sawit Watch dalam Raja Limbung: Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia suntingan Mardiyah Chamim dan  Dwi Setyo Irawanto.

Perkebunan Inti Rakyat

Pemerintah juga membentuk BUMIL (Buruh Militer) yang merupakan kerja sama antara buruh perkebunan dan militer. Perubahan manajemen dalam perkebunan dan kondisi sosial politik serta keamanan dalam negeri yang tidak kondusif, menyebabkan produksi kelapa sawit menurun dan posisi Indonesia sebagai pemasok minyak sawit dunia terbesar tergeser oleh Malaysia.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sektor penghasil devisa negara. Pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan.

Sampai pada tahun 1980, luas lahan mencapai 294.560 Ha dengan produksi CPO (Crude Palm Oil) sebesar 721.172 ton. Untuk menggalakkan produktivitas, pemerintah menerbitkan sejumlah kebijakan. Pada 1980, pemerintah mencanangkan program Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Sejak itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat. Hal ini didukung oleh kebijakan Pemerintah yang melaksanakan program Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN)

Melalui PIR terjalin kemitraan antara Perkebunan Besar Negara dengan Perkebunan Rakyat. Menurut Derom Bangun itulah cikal bakal petani mengenal kelapa sawit. Program PIR dikembangkan secara simultan ke 12 provinsi meliputi daerah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.  Pemerintah  kemudian melibatkan para transmigran untuk dikaryakan dalam program PIR-Trans. Selain itu, pemerintah juga memberi kesempatan terhadap pengusaha swasta merambah bisnis sawit lewat program Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN).

Memasuki dekade 1990, industri sawit tanah air memasuki masa ekspansi. Perkebunan kelapa sawit membentang di berbagai pulau besar dari ujung Sumatra sampai Papua. Dari tahun ke tahun nilai ekspor minyak sawit mentah dari Indonesia terus meningkat. Sudah barang tentu geliat sawit ini berdampak besar dalam mendongkrak perekonomian. Ia menjadi salah satu komoditas penyumbang devisa terbesar bagi negara. Produksi sawit Indonesia bahkan telah menjadi yang tertinggi di dunia setelah menggeser Malaysia pada 2006.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here