Home Ekonomi Angpau Tionghua Menjadi Asal Muasal Suap dan Korupsi di Indonesia

Angpau Tionghua Menjadi Asal Muasal Suap dan Korupsi di Indonesia

153
0
Para Pembesar VOC

SEJARAHONE.ID – Oleh. Hana Wulansari

Pada awal 2020 Kasus suap dan korupsi di Indonesia termasuk paling parah di dunia. Fakta ini direlease Transparency International, yang menyebutkan Indonesia termasuk Negara yang Indeks Pembayaran suap atau pengembalian uang korupsi termasuk  yang terbawah .

Indeks tersebut dibuat berdasarkan survei terhadap 3.016 pebisnis eksekutif dari 30 negara-negara maju dan berkembang. Artinya, praktek suap menyuap kepada pejabat publik yang dilakukan oleh para pebisnis di Indonesia adalah hal yang sering dan lazim terjadi.

Tulisan ini akan membahas lebih lanjut tentang bagaimana suap dan korupsi mulai terjadi dan seolah menjadi budaya di Indonesia. Menurut Dosen Sejarah Universitas Indonesia, Bondan Kanumayoso, budaya suap- menyuap sudah terjadi sejak masa kerajaan berjaya di Indonesia. Hal itu dimulai saat rakyat diwajibkan membayar upeti. Upeti adalah kebiasaan tradisional yang terjadi sejak zaman kerajaan-kerajaan. Dapat dikatakan upeti menjadi cikal bakal suap dan korupsi.

Awalnya upeti merupakan pungutan terhadap hasil kekayaaan. Saat ini dikenal dengan istilah pajak. Namun, dalam praktiknya, banyak pemimpin daerah yang memanfaatkan kekuasaannya untuk meminta upeti kepada rakyat kecil.

Seiring berjalannya waktu, upeti kerap dianggap sesuatu yang biasa oleh masyarakat di masa kerajaan. Masyarakat memberikan upeti sebagai “hadiah” untuk para penguasa setempat. Kemudian, ketimpangan terjadi ketika tak ada mekanisme untuk mengontrol pemberian upeti dari orang kecil kepada penguasa. Upeti yang diberikan tidak ada standar.

Jadi pada zaman kerajaan, rakyat, pedagang dan bangsawan  berlomba saling menunjukkan kesetiaan terhadap raja-raja atau pemimpin dengan memberi upeti.

Si sisi lain, para pemimpin di daerah banyak yang merampas harta warganya, serta menyalahgunakan uang pajak. Alih-alih menggunakan uang pajak demi kepentingan rakyat, mereka malah menumpuk harta masing-masing.Ini kemudian menjadi embrio bagi kelahiran suap dan korupsi. Hal ini juga berlanjut sampai masa penjajahan Belanda.

Korupsi Jaman VOC

Berdirinya VOC pada 1602 kemudian menjadi babak baru bagi sejarah Indonesia. Timbul kebiasaan membayar sejumlah uang untuk memuluskan bisnis maupun jabatan. Ada peraturan untuk membatasi para pedagang dari Barat untuk membawa barang atau komoditas. Mereka yang jabatannya tinggi bisa membawa lebih banyak. Dengan demikian, timbul cara-cara tertentu mereka melakukan suap agar bisa mengangkut banyak.

Di samping itu, ada pula etnis Thionghua yang aktif memberikan angpaou pada Belanda untuk mempermudah langkah bisnisnya. Pebisnis Thionghua tidak hanya memberi angpau pada Belanda, tapi juga untuk para antek pribumi agar mendapat kemudahan membeli hasil bumi untuk stok dagangannya.

Abad ke-17,  merupakan puncak kejayaan VOC di antara para pemain dagang dunia. Praktik korupsi yang besar tidak terangkat ke publik, karena pembagian merata. Masalah muncul ketika abad ke-18, VOC mengalami kemunduran akibat korupsi. VOC mengalami kemunduran. Ada ketimpangan, dan kesengsaran rakyat terjadi di seluruh penjuru negeri.

Seperti ditulisan Multatuli dalam Max Havelaar. Terjadi kesengsaraan di tanah air ini, akibat para penguasa korup dan berlindung di bawah penjajah. Pada awal abad ke-20, barulah muncul gerakan-gerakan pemuda terpelajar di Indonesia. Perjuangan lambat-laun dilakukan melalui panggung intelektual. Meski demikian,  praktik suap dan korupsi terus terjadi.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here