Home Opini Ari Shavit: Hembusan Terakhir Negara Israel

Ari Shavit: Hembusan Terakhir Negara Israel

43
0

Oleh: Ali Farkhan Tsani

SEJARAHONE.ID – Surat kabar Ibrani Haaretz edisi 13 Mei 2021 menerbitkan sebuah artikel oleh penulis Zionis terkenal, Ari Shavit. Shavit yang juga penulis di media New York Times mengatakan, “Sepertinya kita menghadapi masa yang paling sulit dalam sejarah. Tidak ada solusi dengan Palestina kecuali pengakuan hak mereka dan diakhirinya pendudukan.”

Sebagai penulis kritis, Shavit memulai artikelnya dengan mengatakan bahwa ‘Negara Israel’ sebenarnya sedang melewati titik tidak bisa kembali, dan ada kemungkinan bahwa ‘Negara Israel’ tidak dapat lagi mengakhiri pendudukan, menghentikan permukiman dan mencapai perdamaian.

‘Negara Israel’ juga tampaknya tidak mungkin lagi untuk mereformasi Zionisme, tidak sanggup lagi menyelamatkan demokrasi dan hanya akan memecah belah rakyatnya sendiri di negerinya sendiri saat ini.

Jika demikian, tidak ada lagi selera warga negaranya untuk hidup di ‘Negara Israel’. Warga pun harus melakukan apa yang disarankan Rogel Alpher, penulis Haaretz, dua tahun lalu, yaitu meninggalkan negara itu.

Jika ‘Negara Israel’ dan Yudaisme bukan merupakan faktor vital dalam identitas, dan jika setiap warga ‘Negara Israel’ memiliki paspor asing, tidak hanya dalam arti teknis, tetapi juga dalam arti psikologis. Maka semuanya sudah berakhir. Ucapkan selamat tinggal kepada teman-teman mereka dan berpindahlah mereka ke San Francisco, Berlin, atau Paris.

Dari sanalah, dari negara-negara ultra-nasionalisme baru Jerman, atau negara-negara ultra-nasionalisme Amerika Serikat yang baru itu, mereka akan melihat dengan tenang dan menyaksikan “Negara Israel” menghembuskan nafas terakhirnya.

“Kita harus mundur tiga langkah untuk menyaksikan negara demokratis Yahudi tenggelam. Masalahnya mungkin belum ditetapkan,” ujar Ari Shavit, yang pernah ditugaskan dalam wajib militer tentara Israel ke Lebanon.

Menurutnya, yang akan mengakhiri Negara Israel bukanlah Netanyahu, Lieberman dan neo-Nazi. Bukan pula Trump, Kushner, Biden, Obama atau Clinton. Bukan pula Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa yang akan menghentikan aktivitas pemukiman.

Satu-satunya kekuatan di dunia yang mampu menyelamatkan ‘Negara Israel’ dari dirinya sendiri, adalah ‘Negara Israel’ itu sendiri, dengan menciptakan bahasa politik baru yang mengakui kenyataan bahwa Palestina berakar di tanah ini.

‘Negara Israel’ perlu menemukan cara agar dapat bertahan hidup di sini dan tidak mati. Warga ‘Negara Israel’ sejak mereka datang ke Palestina, telah menyadari bahwa negara mereka adalah hasil dari kebohongan yang ditemukan oleh gerakan Zionis, di mana semua tipu daya digunakan dalam karakter Yahudi sepanjang sejarah.

Dengan mengeksploitasi dan memperkuat apa yang disebut Hitler sebagai Holocaust, gerakan tersebut dapat meyakinkan dunia bahwa Palestina adalah “Tanah Perjanjian”, dan bahwa kuil yang dituduhkan berada di bawah Masjid Al-Aqsa.

Gerakan Zionis telah mengubah serigala negara-negara kuat di dunia itu menjadi domba pembayar pajak hingga menjadikan ‘Negara Israel’ sebagai monster nuklir.

Arkeolog Barat dan Yahudi terkemuka, Israel Felinstein dari Universitas Tel Aviv, menekankan bahwa “kuil itu juga bohong dan dongeng yang tidak ada. Semua penggalian itu juga telah terbukti tidak ada sama sekali bahkan hingga ribuan tahun yang lalu sekalipun”. Ini secara eksplisit dinyatakan dalam sejumlah besar referensi Yahudi itu sendiri.

Pada tahun 1968, arkeolog Inggris, Dr Kathleen Cabinos, ketika dia menjadi direktur penggalian di Sekolah Arkeologi Inggris di Yerusalem, dia melakukan penggalian di Yerusalem dan diusir dari Palestina karena dia mengekspos mitos “Israel”, tentang keberadaan jejak Kuil Sulaiman di bawah Masjid Al-Aqsa. “Saya memutuskan berdasarkan penelitian bahwa tidak akan pernah ada jejak dari kuil Sulaiman,” ujar Cabinos.

Dia menekankan bahwa kutukan berbohong itulah yang menganiaya orang-orang Israel. Kutukan itu hari demi hari menampar wajah mereka sendiri dalam bentuk pisau di tangan orang-orang Maqdisi, Khalili dan Nabulsi, atau dengan lemparan batu kolektif atau sopir bus dari Jaffa, Haifa dan Acre.

Orang-orang “Israel” sebenarnya menyadari bahwa mereka tidak memiliki masa depan di Palestina, karena itu bukan tanah tanpa orang, karena mereka berbohong. Gideon Levy, penulis yang juga seorang Zionis sayap kiri, pun mengakui, problematikanya bukan pada keberadaan rakyat Palestina, tetapi superioritas “Israel”.

Ia menyebutkan, orang-orang Palestina berbeda dari umat manusia lainnya. Ketika tanah mereka diduduki, para pemuda mereka dipenjara, wanita-wanitanya juga dinistakan. Lalu dikatakan kepada mereka beberapa puluh tahun lalu agar melupakan tanah airnya. Namun mereka tidak akan pernah melupakan tanah air mereka.

Beberapa tahun kemudian yang terjadi justru mereka kembali kepada dengan pemberontakan bersenjata Intifadah pada tahun 2000. Ketika pasukan Israel mengancam akan menghancurkan rumah-rumah mereka dan memblokade mereka selama bertahun-tahun. Mereka orang-orang Palestina justru semakin berani melawan.

Mereka bahkan mendatangi pasukan Israel melalui bawah tanah dan melalui terowongan. Ketika pasukan Israel menyerang mereka. Aksi perlawanan justru memasukkan teror ke setiap rumah-rumah di “Israel”. Mereka malah menyebarkan ancaman dan intimidasi, seperti yang terjadi ketika pemuda mereka berhasil merebut saluran media “Israel 2”.

“Singkatnya, tampaknya kita menghadapi orang-orang yang paling sulit dalam sejarah, dan satu-satunya solusi dengan mereka adalah pengakuan atas hak-hak mereka dan diakhirinya pendudukan,” ujar Gideon Levy.

Sistem pertahanan tercanggih ‘Iron Dome’ pun sudah tak kuasa menahan gempuran roket-roket rakitan dari para pejuang Palestina dari Jalur Gaza. Serangan roket-roket walau dalam jumlah relatif kecil dari Suriah dan Lebanon, semakin memusingkan pasukan Israel.

Belum lagi aksi-aksi konfrontasi berani mati warga di Tepi Barat, aksi menabrakkan mobil ke pasukan Israel, hingga perlawanan pilitik dari warga Negara Israel-Arab Muslim di Tel Avivi. Belum lagi demo dari warga Negara Israel sendiri yang menuntut mundurnya Netanyahu.

Dunia tinggal menunggu lolongan terakhir mencekik leher para pemimpin ‘Negara Israel’ yang tak berperikemanusiaan itu. Kita tinggal waktu saja, sambil ditimpa dengan doa-doa mustajab kita di penghujung malam. (A/RS2/P1/MINA)

Sumber: Haaretz, surat kabar Ibrani

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here