Home Khasanah Abu Ishaq dan Julukan ‘Syekh’ dari Rasulullah

Abu Ishaq dan Julukan ‘Syekh’ dari Rasulullah

12
0

Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf al-Fairuzabadi asy-Syirazi asy-Syafi’i merupakan seorang ulama terkemuka dari abad ke-11. Abu Ishaq asy-Syairazi lahir di Firuzabad, Fars (kini Iran). Pada masa puncak kariernya, ia mengajar di Sekolah Nizamiyah, Baghdad. Karya-karyanya kerap menjadi rujukan, terutama dalam disiplin keilmuan fikih mazhab Syafii.

Di antara karya-karya pentingnya adalah Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i. Kitab tersebut begitu berpengaruh, baik pada masa kehidupan Abu Ishaq maupun sesudahnya. Banyak ulama yang kemudian menuliskan syarah terhadap kitab tersebut. Selain itu, ia juga menulis banyak karangan. Untuk menyebutkan beberapa di antaranya, yakni At-Tanbih, An-Nukat, Al-Luma’, At-Tabshirah, Al-Mulakhkhash, dan Thabaqat Al-Fuqaha’.

Ia dikenal sebagai pribadi yang zuhud, tawadhu, dan dermawan. Abu Ishaq juga pernah bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Mimpi itu sangat berkesan baginya. Penyebabnya, antara lain, Rasulullah SAW memanggilnya dengan sebutan syekh.

Ia menuturkan pengalamannya itu. Suatu malam, ia tertidur. Dalam mimpinya, ia menjumpai Rasulullah SAW beserta dua orang sahabat terkemuka, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Betapa bahagia Abu Ishaq melihat sang insan mulia itu dan para kekasihnya.

Abu Ishaq kemudian berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, aku telah memperoleh banyak riwayat hadis yang bersumber dari engkau. Aku mengambilnya dari banyak ulama yang kepada mereka aku belajar. Maka, aku ingin sekali mendengarkan langsung sabda dari engkau, yang membuatku bahagia, baik di dunia maupun akhirat kelak.”

Rasulullah SAW pun berwasiat kepada Abu Ishaq. Dalam pada itu, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Abu Ishaq dengan julukan syekh. Mendengar itu, hati Abu Ishaq menjadi teramat bersuka cita. Ia sangat bahagia.

Begitu bangun dari tidurnya, ia bersujud syukur. Keesokan harinya, di tengah majelis, ia menuturkan mimpi menakjubkan itu kepada para muridnya. “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memanggilku dengan sebutan ‘syekh’,” katanya.

Sebelum menjadi seorang alim besar, ia pernah menuntut ilmu pada banyak ulama. Mula-mula, Abu Ishaq belajar di Syiraz. Sebagai pemuda berusia belasan tahun, ia sangat bersemangat dalam menuntut ilmu-ilmu agama. Di antara guru-gurunya pada masa itu adalah Muhammad bin Abdullah al-Baidhawi dan Abdul Wahab bin Muhammad bin Ramain. Pengembaraannya berlanjut ke Kota Basrah, Irak. Beberapa tahun kemudian, ia hijrah ke Baghdad, jantung peradaban Islam di bumi belahan timur kala itu.

Selama belasan tahun, Abu Ishaq menimba ilmu kepada sejumlah alim ulama setempat. Sebut saja, Abu Thay yib at-Thabari, Hasan bin Ahmad bin Syadzan, dan Ahmad bin Muhammad al-Birqani. Dengan ketekunan dan doa, ia terus bertransformasi menjadi ulama panutan. Akhirnya, kaum Muslimin kerap menjadikannya rujukan dalam mendapatkan jalan tengah atas berbagai persoalan agama. Ia kemudian dijuluki sebagai ulama mazhab Syafii terbesar pada abad itu.

Sebagai seorang yang amat mencintai Rasulullah SAW, ia menjalankan laku kehidupan yang meniru beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia hidup bersahaja dan selalu mengutamakan akhlak mulia. Kesan kesederhanaannya diungkapkan banyak kalangan alim ulama. Abu Abbas al-Jurjani, misalnya, pernah menuturkan, “Suatu hari, kami bertandang ke rumah beliau. Syekh Abu Ishaq setengah berdiri ketika menyambut kedatangan kami. Sementara, ia sedang mengenakan pakaian yang begitu sederhana. Bila ia berdiri tegak, sebagian auratnya akan tampak.”

Syekh Abu Ishaq memuliakan ilmu. Baginya, dakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu agama adalah jalan kebajikan. Menurut Abu Wafa bin Uqail al-Hanbali, sang alim tersebut selalu membaca ta’awudz terlebih dahulu sebelum menguraikan pendapatnya tentang suatu masalah keagamaan. Hal ini dilakukannya untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT sehingga niatnya menjadi lurus demi memperoleh ridha Ilahi, bukan perhatian manusia, saat dirinya mengajarkan ilmu.

Ia (Syekh Abu Ishaq) tak pernah menulis kitab kecuali terlebih dahulu mendirikan shalat empat rakaat. “Dengan sebab keberkahan keikhlasan itulah, kitab-kitab karyanya masyhur di belahan bumi barat dan timur,” sambung Abu Wafa.

Kesederhanaan bahkan membuatnya tak sempat pergi haji ke Baitullah. Padahal, Syekh Abu Ishaq dapat saja meminta para muridnya, yang banyak di antaranya kaya raya, untuk mengongkosinya naik haji.

Bahkan, dalam penuturan Muhammad bin Umar al Qadhi, seandainya sang syekh mau para muridnya bersedia untuk menggendongnya dari Irak hingga ke Makkah. Akan tetapi, sikap tawadhu Syekh Abu Ishaq membuatnya tidak ingin merepotkan orang lain. Ia selalu bersyukur dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah karuniakan kepadanya.

Iman, Islam, dan ilmu –itulah tiga nikmat yang berkali-kali disyukurinya. Di antara jalan syukur itu adalah pengamalan ilmu. Syekh Abu Ishaq pernah berpesan, “Seorang yang berilmu pasti akan diikuti pendapatnya oleh orang awam. Jika seorang alim tidak mengamalkan ilmunya, maka orang pun tak akan mengindahkan perkataannya.”

Tokoh ini berpulang ke rahmatullah di Baghdad pada 476 H. Lautan manusia mengiringi pemakamannya.

Shalat jenazahnya bahkan harus dibagi menjadi dua gelombang. Yang pertama dipimpin khalifah. Adapun yang kedua diimami seorang sahabatnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here