Home Merdeka 9 Ramadhan 1364 H, Proklamasi Kemerdekaan RI Dikumandangkan

9 Ramadhan 1364 H, Proklamasi Kemerdekaan RI Dikumandangkan

198
0
Sumber : Kompas.com

SejarahOne.id – Pada 1945, Ramadan dimulai pada 9 Agustus. Itu berarti, kaum muslimin baru sehari menjalani ibadah puasa ketika Enola Gay, pesawat B-29 Superfortress dengan nomor seri B-2945-MO milik Amerika Serikat, melepaskan bom atom “Fat Man” ke kota Nagasaki. Tiga hari sebelumnya, 27 Sya’ban 1364 H, Hiroshima telah kebagian “Little Boy”, yang meski tak secanggih “Fat Man”, tentu tak seimut namanya.

Dua kota penting Kekaisaran Jepang itu luluh lantak. Beton, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan dibalut api. Bangkai bergelimpangan. Bau busuk dan penderitaan ada di mana-mana. Jepang tak butuh banyak waktu untuk minta ampun kepada sekutu.  Kabar bahwa Jepang menyerah tanpa syarat itu pun tersiar di Indonesia lewat Radio BBC London pada 14 Agustus 1945, tepat pada hari keenam orang-orang Islam Indonesia menjalani puasa Ramadan.

Berita kekalahan Jepang dari pasukan Sekutu menjadi angin segar bagi Indonesia. Golongan muda yang bersifat agresif-progresif segera bergerak dengan “menculik” Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia.  Mereka tak mau kalau terlalu lama menunggu malah menjadi permasalahan yang panjang. Dengan membacakan proklamasi kemerdekaan, maka posisi Indonesia akan lebih kuat di mata dunia.

Setelah peristiwa ini, Soekarno dan Hatta harus segara menyiapkan segala sesuatu terkait proklamasi. Mereka harus menyiapkan rumusan teks untuk menandai kemerdekaan Indonesia.  Ketika itu, 16 Agustus 1945, bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 Hijriah atau dalam suasana bulan suci penuh berkah.

Segera dari Rengasdengklok, Achmad Soebardjo membawa kedua pemimpin negara itu menuju rumah Laksamana Maeda. Di sinilah akan dirumuskan naskah proklamasi kemerdekaan.  Dalam buku Kilas Balik Revolusi karya Abu Bakar Loebis disebutkan jatuhnya pilihan pada rumah Laksamana Maeda karena rumah tersebut punya hak imunitas terhadap Angkatan Darat Jepang, sehingga kedua pemimpin itu tetap aman.  Di ruang makan Laksamana Maeda dirumuskan naskah proklamasi kemerdekaan yang merupakan pemikiran tiga tokoh, yaitu Soekarno, M Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Menurut Ahmad Subarjo pukul 3 pagi waktu sahur ramadan teks proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta dan ditulis dengan tangan Bung Karno Kalimat pertama diambil dari preambule atau Piagam Djakarta 22 Juni 1945 : Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Semula Bung Karno merasa cukup dengan teks tersebut. Atas usul Bung Hatta ditambahkan dengan kalimat kedua : Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dan lain-lain selenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Setelah selesai, teks proklamasi ditawarkan kepada hadirin apakah setuju atau tidaknya. Ternyata secara serentak menyatakan setuju. Oleh karena itu, ditawarkan pula agar seluruh yang hadir ikut serta menandatanganinya, seperti proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat. Penandatanganan teks proklamasi juga ditawarkan kepada enam pemuda.

Namun atas usul Sajoeti Melik, agar teks proklamasi hanya ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta dan usul ini diterima secara aklamasi. Kemudian teks proklamasi yang akan dibacakan, diketik terlebih dahulu oleh Sajoeti Melik dan selanjutnya ditandatangani oleh kedua Proklamator.

Setelah selesai pada jam 5 pagi para peserta saksi penulisan teks proklamasi meninggalkan rumah Laksamana Maeda. Pada paginya, sekitar jam 7 sudah terkumpul rakyat yang bersenjata bambu runcing dan senjata tajam lainnya, menunggu dibacakannya teks proklamasi, di depan kediaman Bung Karno, jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Garnisun Tentara Pembela Tanah Air (PETA), sejumlah 70 prajurit, dan 5 perwira, siap menghadapi segala kemungkinan, kalau Balatentara Jepang mencoba menggagalkannya. Oleh karena itu, ditutuplah jalan yang menuju Pegangsaan Timur 56.

Bung Karno menjelang pembacaan teks proklamasi kondisi kesehatan fisiknya terganggu.  Terbaring di kamarnya ditunggui oleh Ibu Fatmawati dan Dr. R. Soeharto. Pagi itu, bung Hatta belum datang juga. Bung Karno didesak oleh para pemuda untuk segera membacakannya. Namun Bung Karno menolaknya karena sangat kenal dengan sikap Bung Hatta selalu tepat waktu. Ternyata benar, bung Hatta hadir pukul sepuluh kurang lima menit.

Perjuangan membebaskan Indonesia dari imperialis barat : Kerajaan Katolik Portugis dan Kerajaan Protestan Belanda serta imperialis Timur Kekaisaran Shinto Jepang akhirnya sampai pada puncak keberhasilannya. Tepat pukul 10 pagi 17 Agustus 1945 jumat Legi 9 Ramadan 1364 H, teks Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno di hadapan para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan rakyat di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Dengan upacara yang sangat sederhana tanpa ada protokoler. Bendera merah putih hasil penyambungannya dengan mesin jahit tangan oleh Ibu Fatmawati dan dikibarkan di tiang bambu oleh Chudancho Latief Hendraningrat yang berseragam tentara Pembela Tanah Air (PETA), kemudian diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Setelah selesai dibacakan, Bung Karno menjelaskan ada seorang mahasiswa menggunakan roneo milik Jepang, memperbanyak teks proklamasi. Kemudian disebarkan ke seluruh penjuru Kota Jakarta. Terutama ditempelkan pada media transportasi umum kereta api, trem, dan kendaraan lainnya di sebarkanlah berita Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada teks proklamasi diatas masih menggunakan tahun Jepang 2605 atau 05.

Berita ini juga disiarkan melalui pemancar radio Malabar, pemancar yang berkekuatan tinggi dan mampu tersiar ke luar negeri oleh Sakti Alamsyah, Sam Amir, RA Darja hingga dapat didengar di luar negeri. Mahasiswa Indonesia di Baghdad yang pertama mendengar adalah Imron Rosjadi SH. Dari sini kemudian berita proklamasi dikembangkan ke mahasiswa di Mesir.

Akibatnya Muhammad Abdul Mounim, Konsul Jenderal Mesir di Bombay, yang bertindak atas nama Raja Farouk dari Mesir menyampaikan keputusan Dewan Gabungan Negara-negara Arab berisikan anjuran pada negara-negara anggota gabungan Liga Arab untuk mengakui Republik Indonesia. Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Keputusan ini disampaikan kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 14 Maret 1947,  kemudian diikuti oleh Libanon (Juni 1947), Suriah dan Irak (Juli 1947), Afghanistan (September 1947) dan kemudian menyusul Saudi Arabia (November 1947).

Ternyata Proklamasi 17 Agustus 1945 Jumat Legi 9 Ramadan 1364 H diakui pertama kalinya oleh negara-negara timur Tengah. Sebaliknya sampai tahun 1947, tidak ada satupun negara-negara Eropa Barat atau dari negara Komunis Eropa Timur yang bersedia mengakuinya. Apalagi kerajaan Protestan Belanda baru mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah HUT ke-60 Republik Indonesia.

Dalam keyakinan umat Islam, peristiwa sejarah proklamasi yang terjadi pada 9 Ramadhan 1364 H di hari jumat Legi merupakan anugerah yang tiada hingga dari Allah Yang Maha Kuasa yang menjadikan berakhirnya penjajahan barat dan timur atas bangsa dan negara Indonesia. Peristiwa ini merupakan salah satu wujud dari firman Allah : li yudhiru ‘alad diini kullihi (Allah memenangkan Islam di atas agama-agama) wakafa Billahi Syahida (dan cukup Allah sebagai saksinya) (QS 48:28).  Namun tidaklah berarti dengan keberhasilan proklamasi hilanglah segenap lawan ulama. Melainkan justru ulama dihadapkan tantangan baru yang semakin berat karena sudah menjadi kodrat sejarah ulama setiap langkah amal juangnya sampai kapanpun dan dimanapun dipastikan akan bertemu dengan tantangan baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here