Home Galeri Kisah Fatmawati, Ibu Negara Penjahit Sang Saka Merah Putih

Kisah Fatmawati, Ibu Negara Penjahit Sang Saka Merah Putih

197
0

SEJARAHONE.ID – Fatmawati Soekarno. Nama Ibu Negara pertama RI ini tak bisa dilepaskan kala kita mengingat perjuangan awal kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Pada tahun ini, Indonesia akan merayakan HUT ke-75 pada Senin (17/8/2020). Bendera Merah Putih pun mulai berkibar di seluruh penjuru negeri.

Adalah Fatmawati, istri Presiden Soekarno, sosok di balik bendera Merah Putih yang berkibar saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Berikut ini tentang  Fatmawati dan kisahnya menjahit Sang Saka Merah Putih. Fatmawati dilahirkan pada 5 Februari 1923 di Bengkulu. Ketika ia lahir, ada dua nama yang akan diberikan kepadanya, yaitu Fatimah yang berarti bunga teratai dan Siti Djabaidah, yang diambil dari nama salah satu putri Nab Muhammad SAW.

Kedua nama itu ditulis pada dua carik kertas kemudian digulung dan diundi. Pilihan pun jatuh kepada nama Fatimah, nama yang kita kenal sampai saat ini.

Fatmawati pertama kali bertemu dengan Bung Karno pada 1938.

Saat itu, ia diajak oleh ayahnya Hassan Din untuk menemui Bung Karno yang tengah dibuang ke Bengkulu.

“Cinta pada pandangan pertama” mungkin ungkapan yang tepat untuk menjelaskan awal munculnya benih cinta di antara Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

Masih kuingat aku mengenakan baju kurung merah hati dan tutup kepala voile kuning dibordir,” kata Fatmawati saat melukiskan pertemuan pertamanya itu dalam buku yang ditulisnya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1970).

Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati
Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati (Sumber: Kompas.com).

Pertemuan itu menggetarkan hati Bung Karno dan ingin menikahi Fatmawati. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bung Karno dua tahun kemudian, ketika Fatmawati meminta nasihatnya sehubungan dengan adanya seseorang yang meminangnya. Fatmawati pun akhirnya menikah dengan Bung Karno pada Juli 1943.

 

Kisah menjahit bendera

Setahun setelah pernikahannya itu, Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Bendera Merah Putih juga boleh dikibarkan dan lagu kebangsaan Indonesia Raya diizinkan berkumandang.

Fatmawati kemudian berpikir bahwa memerlukan bendera Merah Putih untuk dikibarkan di Pegangsaan 56.

“Pada waktu itu tidak mudah untuk mendapatkan kain merah dan putih di luar,” tulis Chaerul Basri dalam artikelnya “Merah Putih, Ibu Fatmawati, dan Gedung Proklamasi” yang dimuat di Harian Kompas, 16 Agustus 2001.

“Barang-barang eks impor semuanya berada di tangan Jepang, dan kalau pun ada di luar, untuk mendapatkannya harus dengan berbisik-bisik,” tulisnya.

Berkat bantuan Shimizu, orang yang ditunjuk oleh Pemerintah Jepang sebagai perantara dalam perundingan Jepang-Indonesia, Fatmawati akhirnya mendapatkan kain merah dan putih.

Shimizu mengusahakannya lewat seorang pembesar Jepang, yang mengepalai gudang di Pintu Air di depan eks Bioskop Capitol.

Bendera itulah yang berkibar di Pegangsaan Timur saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

“Ibu Fatmawati menjelaskan kepada Shimizu bahwa bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan di Gedung Pegangsaan Timur kainnya berasal dari Shimizu. Dan satu-satunya kain Merah Putih yang diberikan Shimizu kepada Ibu Fatmawati adalah bendera yang berasal dari Gedung Pintu Air itu,” tulis Chaerul.

Bondan Winarno dalam “Berkibarlah Benderaku, Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka” (2003), menuliskan, Fatmawati menghabiskan waktunya untuk menjahit bendera itu dalam kondisi fisik yang cukup rentan.

Pasalnya, Fatmawati saat itu sedang hamil tua dan sudah waktunya untuk melahirkan putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra.

Tak jarang, ia menitikkan air mata kala menjahit bendera itu.

Berulangkali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu,” kata Fatmawati dalam buku itu.

Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya paksakan diri menjahit bendera Merah putih. Saya jahit berangsur-angsur dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja. Sebab dokter melarang saya menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit,” sambungnya.

 

Meninggal dunia

Fatmawati meninggal dunia pada usia 57 tahun di Kuala Lumpur ketika dalam perjalanan pulang dari setelah melangsungkan ibadah umrah pada 1980 akibat serangan jantung.

Fatmawati mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah pada tahun 2000, dua puluh tahun setelah wafatnya.

Pemberian gelar pahlawan itu berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 118/TK/2000.

Mengutip Harian Kompas, 9 November 2000, putri Fatmawati, Sukmawati Soekarnoputri, menilai, pemberian gelar pahlawan nasional kepada ibunya termasuk terlambat.

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here