Home Merdeka Partai Golkar, Salah Satu Partai Tertua di Indonesia

Partai Golkar, Salah Satu Partai Tertua di Indonesia

535
0

SEJARAHONE.ID – Partai Golongan Karya (Golkar) adalah salah satu partai tertua di Indonesia. Partai ini berhasil bertahan hingga HUT Indonesia yang ke 76. Sejarahone.id mengumpulkan sejumlah fakta tentangPada tahun 1964 untuk menghadapi kekuatan PKI (dan Bung Karno), golongan militer, khususnya perwira Angkatan Darat ( seperti Letkol Suhardiman dari SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan nelayan dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).

Sekber Golkar didirikan pada tanggal 20 Oktober 1964. Sekber Golkar ini lahir karena rongrongan dari PKI beserta ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang makin meningkat. Sekber Golkar ini merupakan wadah dari golongan fungsional/golongan karya murni yang tidak berada di bawah pengaruh politik tertentu.

Jumlah anggota Sekber Golkar ini bertambah dengan pesat, karena golongan fungsional lain yang menjadi anggota Sekber Golkar dalam Front Nasional menyadari bahwa perjuangan dari organisasi fungsional Sekber Golkar adalah untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Semula anggotanya berjumlah 61 organisasi yang kemudian berkembang hingga mencapai 291 organisasi.

Dengan adanya pengakuan tentang kehadiran dan legalitas golongan fungsional di MPRS dan Front Nasional maka atas dorongan TNI dibentuklah Sekretariat Bersama Golongan Karya, disingkat Sekber Golkar, pada tanggal 20 Oktober 1964.

Terpilih sebagai Ketua Pertama, Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono sebelum digantikan Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati lewat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I, Desember 1965.

Pada awal pertumbuhannya, Sekber Golkar beranggotakan 61 organisasi fungsional yang kemudian berkembang menjadi 291 organisasi fungsional. Ini terjadi karena adanya kesamaan visi di antara masing-masing anggota. Organisasi-organisasi yang terhimpun ke dalam Sekber Golkar ini kemudian dikelompokkan berdasarkan kekaryaannya ke dalam 7 (tujuh) Kelompok Induk Organisasi (KINO), yaitu:

  1. Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO)
  2. Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI)
  3. Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR)
  4. Organisasi Profesi
  5. Ormas Pertahanan Keamanan (HANKAM)
  6. Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI)
  7. Gerakan Pembangunan

Untuk menghadapi Pemilu 1971, 7 KINO yang merupakan kekuatan inti dari Sekber Golkar tersebut, mengeluarkan keputusan bersama pada tanggal 4 Februari 1970 untuk ikut menjadi peserta Pemilu melalui satu nama dan tanda gambar yaitu Golongan Karya (Golkar). Logo dan nama ini, sejak Pemilu 1971, tetap dipertahankan sampai sekarang.

Pada Pemilu 1971 ini, Sekber Golkar ikut serta menjadi salah satu konsestan. Pihak parpol memandang remeh keikutsertaan Golkar sebagai kontestan Pemilu. Mereka meragukan kemampuan komunikasi politik Golkar kepada grassroot level. NU, PNI dan Parmusi yang mewakili kebesaran dan kejayaan masa lampau sangat yakin keluar sebagai pemenang. Mereka tidak menyadari kalau perpecahan dan kericuhan internal mereka telah membuat tokoh-tokohnya berpindah ke Golkar.

Tentang Angkatan 66

Angkatan 66 adalah angkatan yang lahir lalu bertarung dengan dibekingi oleh tentara. Tak hanya golongan mahasiswanya, tapi juga sebuah golongan yang kemudian dikenal sebagai Golongan Karya (Golkar). Ketua Umum pertama Golkar adalah Brigadir Jenderal Djuhartono, sebelum akhirnya digantikan jenderal lain bernama Brigadir Jenderal Soeprapto Soekowati.

Djuhartono jadi Ketua Umum Golkar sejak 1964 hingga Desember 1965. Sebagai militer, baik Djuhartono maupun Soekowati telah lama dekat dengan politikus dan aktivis sipil. “S. Soekowati, Let. Kol. Djuhartono dan Mayor Harsono dan kawan- kawan membentuk macam-macam Badan Kerjasama (BKS) golongan-golongan Karya dan Militer seperti BKS Buruh Militer, BKS Seniman Militer, BKS Pemuda Militer dan lain- lain,” tulis Junus Jahja dalam Catatan seorang WNI: Kenangan, Renungan & Harapan (1989: 44).

Sebelum Golkar berdiri, Djuhartono adalah orang penting di Front Nasional, di mana dia menjadi Wakil Sekretaris Jenderal. “Sebenarnya badan ini (Front Nasional) semula bagi kepentingan perjuangan pembebasan Irian Barat, Ketika Angkatan Darat membentuk Front Nasional Pembebasan Irian barat. Saya diangkat sebagai salah seorang dari tiga sekretaris. Ketika itu pangkat saya kolonel, dirasakan adalah penting ada wakil AD di situ untuk memimpin proses,” aku Djuhartono seperti dikutip Saskia Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI (2010: 176).

Setelah Irian Barat dianggap selesai, ada tuntutan dari partai-partai untuk membubarkan Front Nasional, karena ada AD ada di sana.   Sepengakuan Djuhartono, seperti dicatat Saskia Wieringa, Presiden Sukarno pernah bilang padanya, “Djuhartono, dengan bantuanmu kita dapat menampung PKI.” Djuhartono, seperti hampir semua perwira tinggi AD, sebenarnya tidak percaya PKI. Front Nasional pun tidak bubar. Pada 20 Oktober 1964, seperti dicatat David Reeve dalam Golkar: Sejarah Yang Hilang (2013: 258), dalam rapat gabungan dewan pimpinan pusat Front Nasional dan 61 golongan karya, para peserta sepakat untuk membentuk Sekretariat Bersama (Sekber). Inilah yang menjadi cikal-bakal Golongan Karya.

 

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here