Home Galeri Pengembaraan Arab di Nusantara

Pengembaraan Arab di Nusantara

295
0

SEJARAHONE.ID – Sejarah kedatangan Islam pertama kali di Nusantara erdapat beberapa versi. Tulisan Hamka yang ada dalam buku karyanya, Dalam Perbendaharaan Lama, yang terbit pada awal tahun 1960-an.

Tulisan Hamka ternyata kemudian terindikasi menjadi ‘amunisi’ baginya ketika berbicara pada seminar mengenai kedatangan Islam di Nusantara pada awal tahun 1970-an.

Tulisan ini dan kemudian dikatakan Hamka pada seminar itu menjadi kounter balik bagi teori kedatangan Islam ala kolonial (Islam datang dari Gujarat) atau kecenderungan baru yang kemudian sempat muncul bahwa Islam datang ke Nusantara dari China, bahkan Wali Songo pun dikatakan terdiri dari orang China.

Islam dalam buku Dalam Perbendarahaan Lama dalam’chapter’ yang bertajuk ‘ PENGEMBARA ARAB YANG PERTAMA KE INDONESIA’. Tulisannya itu seperti ini:

Masuknya Islam dan Peranan Cina

DI DALAM catatan sejarah Tiongkok ada tersebut, bahwa pada pertengahan qurun yang ketujuh, terdapatlah sebuah kerajaan bernama Holing, dan sebuah negeri bernama Cho-p’o. Yang menjadi rajanya pada waktu itu ialah seorang perempuan bernama Si-mo.

Penulis sejarah bangsa Tiongkok itu menceriterakan, bagaimana aman dan makmurnya negeri di bawah perintah ratu perempuan itu. Tanahnya subur, padinya menjadi. Upacara-upacara kerajaan berjalan dengan lancar. Ratu dijaga atau diiringkan oleh biti-biti prawara, kipas dari bulu merak bersabung kiri kanan, dan singgasana tempat baginda semayam bersalutkan emas. Keris dan pedang kerajaan pun bersalutkan emas dan bertatahkan ratna-mutu manikam. Agama yang dipeluk, ialah Agama Budha.

Dengan kerjasama antara I Tsing pengembara Tiongkok dengan Jnabadhra, yang dalam bahasa Tiongkok ditulis Yoh na poh t’o lo disalinlah buku-buku agama Budha ke dalam bahasa anak negeri.

Tentang keamanan dan kemakmuran negeri Holing itu, kata pencatat sejarah tersebut, sampai juga khabar beritanya ke Ta-Cheh, sehingga tertariklah hati pengembara-pengembara bangsa Ta- Cheh itu hendak melawat ke negeri Holing, hendak berhubungan dengan raja perempuan Simo itu, supaya perniagaan di antara kedua negeri menjadi ramai. Di antara tahun-tahun 674 – 675 sampailah satu perutusan bangsa Ta-Cheh ke Holing.

Kagumlah utusan Ta-Cheh itu melihat bagaimana amannya negeri Holing di bawah perintah Ratu Simo. Sehingga pada suatu ketika, Raja Ta-Cheh itu mencoba mencecerkan (sepura) emas di tengah jalan, namun orang yang sudi mengambilnya tidaklah ada. Sampai tiga tahun pundi-pundi emas itu terletak saja di tengah jalan. Bila ada orang sampai ke tempat barang itu terletak, orang sengaja mengelak ke tepi. Pada suatu hari setelah tiga tahun, lalulah Putera Mahkota Kerajaan Holing di tempat itu.

Demi beliau melihat pundi-pundi terletak di tengah jalan, disepakkannya barang itu dengan kakinya, sehingga pecahlah pundi-pundi itu dan tersembullah emas dari dalamnya.

Perbuatan Putera Mahkota itu rupanya dipandang suatu kesalahan besar oleh Ratu Simo ibunya. Amatlah murka baginda setelah mengetahui kesalahan anaknya. Memberi malu bagi kerajaan di hadapan bangsa asing, yang datang hendak menyaksikan keamanan dan kemakmuran negeri. Putra Mahkota dipandang telah melanggar keluhuran budi. Oleh sebab itu Putra Mahkota dihukum; kaki yang menyepak pundi-pundi wajib dipotong. Bagaimanapun para menteri membujuk agar baginda ratu mengurungkan niatnya melakukan hukuman, namun ratu tidaklah mau undur. Kaki putra Mahkota dipotong.

Demikianlah ceritera yang terekam di dalam catatan sejarah Tiongkok, yang menjadi bahan penyelidikan dari masa ke masa oleh peminat sejarah, sampai kepada zaman sekarang ini. Hasil penyelidikan ialah, bahwa Cho P’o itu adalah tanah “Jouw “; pulau Jawa kita ini.

Kerajaan Holing ialah Kerajaan Kalingga, yang memang pernah berdiri di Jawa Tengah (kata setengah penyelidik) dan di Jawa Timur (kata setengah pula) pada pertengahan qurun (abad) ketujuh. Dan memang ada seorang ratu yang bernama Sima, atau Simo.

Raja Ta-Cheh yang menjatuhkan pundi-pundi emas di tengah jalan itu ialah “Raja” Arab. Sebab Ta-Cheh itu ialah nama yang diberikan oleh orang Tiongkok kepada bangsa Arab pada zaman- zaman itu.

Setelah disesuaikan dengan perhitungan tahun Hijrah, ternyatalah bahwa tahun 674 adalah 42 tahun setelah Nabi Muhammad saw wafat. Beliau wafat pada tahun 632 Masehi, tahun ke-11

daripada hijrah beliau. Maka tahun 674 itu, bertepatanlah dengan tahun 51 Hijratul Mustafa. Dan Khalifah yang memerintah pada masa itu ialah Yazid bin Mu’awiyah, Khalif yang kedua daripada Bani Umayah.

Penyelidik-penyelidik sejarah yang “mengorek-ngorek” sejarah tersebut, mencari keoocokan di sana sini menyatakan “tidak tahu” siapakah yang disebut “Raja” Arab yang mencecerkan pundi- pundi di tengah jalan dalam negeri Holing itu. Tetapi bagi kita yang menyelami pula akan tarikh dan ketentuan-ketentuan istiadat bangsa Arab, atau kaum Islam, tidaklah kita akan mengatakan “tidak tahu” siapa raja itu.

Sebab Nabi Muhammad saw sendiri telah memberikan peraturan, apabila orang mengambara, musafir jauh, hendaklah mereka “merajakan” seorang di antara mereka, yang lebih tua usianya, atau yang banyak pengalamannya, atau yang gagah berani walaupun usianya lebih muda, dan yang fasih lidahnya berkata-kata terutama dapat diimamkan dalam sembahyang.

Itulah kepala rombongan yang disebut di dalam bahasa Arab “Amir” dalam perjalanan, merangkap juga menjadi “Imam” dalam sembahyang. Dan “Amir” itu dapat juga diartikandengan “Raja”.

Seorang pencatat sejarah Tiongkok yang lain, yang mengembara pada tahun itu juga (674 Masehi) di Pesisir Barat Pulau Sumatera, telah mendapati pula satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung di tepi pantai.

Catatan inilah yang mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya Agama Islam ke tanah air kita. Kalau yang terbiasa, catatan masuknya Islam dimulai pada abad-abad 11 Masehi, maka sekarang telah dinaikkan 4 abad lagi ke atas, yaitu abad ketujuh Masehi.

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here