Home Uncategorized Sejarah Perusahaan Penerbangan Belanda

Sejarah Perusahaan Penerbangan Belanda

30
0
Sumber foto: Royal Air Force Changi Association - Tony Holt

SEJARAHONE.ID -Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij ( KNILM ) adalah sebuah maskapai penerbangan Hindia Belanda . Perusahaan ini dibentuk pada 16 Juli 1928 sebagai perusahaan independen dan menawarkan layanan terjadwal di seluruh Hindia Belanda, dan kepada anggota Asia Tenggara lainnya serta ke Sydney (melalui Darwin , Cloncurry dan Charleville).KNILM didirikan dengan dana yang berasal dari kumpulan investor di Hindia Belanda.

Awal abad ke-20, setelah dimulainya penerbangan perintis pertama dan perkembangan teknologi penerbangan, mendorong sejumlah tokoh penting untuk mendukung penerbangan sipil. Tokoh tersebut  terutama dari kalangan pengusaha besar di Hindia Belanda, mereka berpartisipasi dalam mendukung penerbangan sipil.

MF Onnen yang mengajukan konsesi untuk membangun perusahaan penerbangan sipil kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908 yang diulang pada tahun 1919. Akan tetapi ide ditolak, dengan pemikiran bahwa pemerintah tidak percaya pada manfaatnya, terutama mengenai masalah ekonomi perusahaan. Terutama adalah bagaimana dan dari mana modal itu dibutuhkan.

Pembukaan rute udara KNILM pertama dari bandara Cililitan (sekarang Halim Perdanakusuma ) di Batavia, ke Bandung dan Semarang, pada tahun 1928.
Akhirnya pada tanggal 25 April 1927, E. Enthoven, komisaris perusahaan Deli Maatschappij, atas inisiatifnya sendiri bertemu dengan menteri urusan kolonial pemerintah Belanda , DR.JC. Koningsberger, ditanya sejauh mana dan bagaimana swasta terlibat dalam pembangunan di Hindia Belanda, termasuk membangun maskapai komersial di sana.

 

Selain itu, upaya E. Enthoven didukung oleh sebuah komite yang terdiri dari anggota Jenderal (pensiunan) CJ Snijders, Ir A Wurfban, EA Pan, Kuile dan DADelprat bersama dengan Dr CJL Van Aalst, Presiden NHM (Nederland Handel Maatsshaappij) yang membentuk sebuah panitia persiapan bernama “Panitia Van Aalst”.

Panitia ini akhirnya berhasil mengumpulkan dana sebesar 5 juta Gulden (F 5,0000.0000) dari 32 perusahaan dan pengusaha selang besar lainnya Admin Kant, Unitas, BAT, Petroleum, MiJ, Birnies espl mij, Cult. Mijder Vorsten Landen, Deli-Batavia Mij, Van Heek & Co, Kon. Paketvaart, MiJ, con. Weefg.Fbr V/H CT Strork & Co, NHK, Stomv. Belandaku, Lihat Klatenshe Lult. MiJ, Senembah MiJ dan lain-lain.

Setelah mengurus berbagai hal yang diperlukan sebagai dasar dan pondasi perusahaan dan perjanjian sewa-kerja disusun bersama pada akhir tahun 1927. Pada tanggal 24 Oktober 1928 dicapai kesepakatan dan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Belanda.

 

Pemerintah Hindia Timur dengan perusahaan yang sebelumnya berkedudukan di Amsterdam. , Amsterdam Nederlansch Indische Luchtvaart Maatshapij (NILM) pada tanggal 16 Juli 1928. Untuk mencegah kebingungan dengan perusahaan asuransi Nillmij yang telah beroperasi cukup lama, diberi gelar Koninklije (Kerajaan) diselenggarakan sejak 15 Oktober 1928.

Sebelum KNILM beroperasi, penerbangan pilot untuk warga sipil dilakukan oleh pilot militer Hindia Belanda dengan uji terbang untuk mengangkut penumpang atau barang. Saat itu penumpang penerbangan Batavia- Soerabaja ( Surabaya ) dikenakan biaya sebesar 230 gulden (F 230) di atas pesawat militer, aib salah satu penumpangnya adalah HGJ Termarsch, seorang inspektur dari Stoomvaart Maatschapij Nederland yang menerbangkan Batavia-Soerabaja pada 18 September dan kembali pada 21 September 1927.

Armada pesawat pertama KNILM

Untuk kebutuhan operasional KNILM, dikirim 4 pesawat Fokker, Fokker VII dengan tiga mesin Siddley-Link masing-masing bertenaga 230 tenaga kuda, mampu mencapai kecepatan jelajah sekitar 167 km/jam. Keempat pesawat tersebut terdaftar HN-AFA, HN-AFB, HN-AFC dan HN-AFD. Selanjutnya tanda registrasi penerbangan sipil Hindia Belanda menggunakan tanda PK yang diteruskan sampai sekarang oleh pemerintah Indonesia sejak kemerdekaan.

Pesawat tersebut diawaki oleh dua orang pilot dengan kapasitas maksimum 80 kg. Tangki bahan bakar 50 kg dan minyak pelumas 40 kg, daya angkut 8 orang dengan bagasi 300 kg. Berat kosong adalah 2.900 kg dan berat total 4.500 kg.

Keberangkatan keempat pesawat Fokker VII disaksikan ribuan warga Amsterdam pada 13 September 1928 dari Bandara Schipol menuju Batavia (Jakarta). Pesawat HN-AFA pertama diawaki oleh pilot GA. Koppen dibantu oleh pilot J. Moll dan co-pilot Van Heselen, sedangkan HN-AFD oleh pilot J Schott dan co-pilot Waltman.

Jalur penerbangan yang ditempuh melalui Amsterdam-Nuerenberg- Budapest – Sofia – Istanbul ( Konstantinopel ) – Aleppo – Bagdad -Bushire- Bandar Abbas – Karachi -Nazirabad- Allahabad – Kalkuta ( Kolkata ) – Rangoon (Yangon) – Bangkok -Sengora- Medan – Palembang- Batavia. Pesawat HN-AFA dan HN-AFB mendarat tanpa banyak kesulitan di bandara Tjililitan (sekarang Bandara Halim Perdanakusuma). Sementara pesawat HN-AFC terbentur parah, landasan pacu di Cavonpore mengalami kerusakan, dan setelah diperbaiki secara memadai melanjutkan penerbangannya hingga ke Calcutta. Dari Kalkuta, pesawat itu diangkut melalui laut ke Batavia. Informasi tentang penerbangan pesawat HN-AFD itu tidak benar.

Peresmian operasi penerbangan KNILM

Peresmian operasi penerbangan KNILM dilaksanakan pada tanggal 1 November 1928 dengan upacara khusus yang disaksikan oleh masyarakat Batavia di Bandar Udara Tjililitan.

Peresmian dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda JHR AMR MR ACD De Graef dengan melepas blok roda kiri pesawat PK-AFB yang terdapat prasasti bertuliskan “OP 1 November 1928 opende zijne excellente gouverneur-general jfr MR ACD De Graef Deiste Luchtdiensten del KNILM di Hindia-Belanda”. Setelah upacara, pesawat langsung terbang untuk bermain penerbangan komersial pertama Batavia-Bandoeng ( Bandung ) dan Batavia-Soerabaja bolak-balik.

Pimpinan KNILM saat itu adalah H. Nieuwenhuis selaku ketua dan wakil KNILM di Hindia Belanda, TH.J. De Bruyn (Chief Executive Officer Inter Insulair Bedrjf/IIB dan Direktur Utama pertama Garuda Indonesia selama transisi IIB ke GIA pada awal 1950-an) sebagai kepala administrasi keuangan, Behege sebagai kepala teknik dan Meal De Jong sebagai handelszaken (Chief Merchant) .

Area operasi dan waktu berakhirnya operasi KNILM

KNILM mengoperasikan penerbangan operasional terjadwal di seluruh Hindia Belanda dan ke anggota Asia Tenggara lainnya serta ke Sydney (melalui Darwin, Cloncurry dan Charleville).

Dengan pecahnya Perang Pasifik, dan invasi Jepang ke Hindia Belanda, pesawat yang tersisa di armada KNILM dievakuasi ke Australia di mana mereka semua diakuisisi oleh militer AS. Termasuk Douglas DC-5, yang hanya 5 yang digunakan untuk penerbangan sipil. Setelah perang, perusahaan terus beroperasi tetapi dilikuidasi pada 1 Agustus 1947

Perusahaan penerbangan Hindia Belanda yang berpusati di Bandara Cililitan, sekarang Halim Perdanakusumah. Hebatnya, KNILM tak berafiliasi dengan KLM milik Belanda yang sudah dulu ada. Awalnya rutenya domestik lalu berkembang ke Singapura dan Australia.

KNILM berbagi rute dengan KLM dengan tidak mengambil rute ke Belanda karena rute Amsterdam – Batavia adalah rute tetap KLM setiap minggu.

Meski perkembangannya pesat, tetapi KNILM berhenti saat Perang Dunia II dan kemudian ditutup total pada 1947 dan seluruh pesawatnya dialihkan ke KLM yang kemudian membentuk maskapai baru, KLM Interinsulair Bedrijf atau KLM IIB yang kelak menjadi cikal bakal Garuda Indonesia.

 

KNILM

Perusahaan Angkatan Udara Kerajaan Belanda-India
KNILM1932.jpg
IATA ICAO Kode panggilan
Didirikan 16 Juli 1928
Mulai beroperasi 1 November 1928
Selesai beroperasi 1 Agustus 1947
Pusat Bandara Tjililitan
Fokus kota Bandung, Semarang, Medan, Surabaya, Palembang, Banjarmasin
Ukuran armada
Kota tujuan
Kantor pusat Amsterdam
Orang penting H. Nieuwenhuis
TH.J. De Bruyn

 

 

Tampak foto KNILM di Bandara Changi, keterangan waktu tidak diketahui.

Sumber foto: Royal Air Force Changi Association – Tony Holt

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here