Pemberontakan Tionghoa di Masa Kolonial Belanda

    55
    0

    SEJARAHONE.ID – Pada Oktober 1740 terjadi pemberontakan warga Hindia Belanda dari etnis Tionghoa yang menentang kebijakan VOC. Ketika itu Valckenier berkuasa di Batavia. Kebijakan-kebijakan Valckenier menekan para keturunan Tionghoa di Batavia mendapatkan perlawanan.

    Hingga akhirnya timbul pemberontakan oleh keturunan Tionghoa di Batavia. Pada peristiwa perlawanan itu, puluhan ribu etnis Tionghoa mati dibantai Belanda. Pemberontakan terhadap VOC akhirnya tidak lagi terbendung dan meluas hingga ke wilayah Jawa. Kasunanan Kartasura termasuk daerah yang terkena imbas dari pemberontakan tersebut.

    Adriaan Valckenier (1695-1751) by T.J. Rheen.jpg

    Potret Valckenier Ketika Menjadi Gubernur Hindia Belanda

    Pencetus Pembantaian Tionghoa

    Adriaan Valckenier (lahir di Amsterdam, Republik Belanda, 6 Juni 1695 – meninggal di Batavia, Koloni VOC (kini Jakarta, Indonesia), 20 Juni 1751 pada umur 56 tahun) adalah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-25. Ia memerintah antara tahun 1737 – 1741.

    Valckenier oleh Kerajaan Belanda adalah tertuduh pencetus pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. Maka setelah dia meletakkan jabatan, ia ditangkap ketika berada di Afrika Selatan. Ia dibawa kembali ke Batavia di mana dia meninggal di dalam sel, setelah hampir 10 tahun tahun dipenjara.

    Adriaan Valckenier berasal dari keluarga pejabat Amsterdam. Ayah dan kakeknya Pieter Ranst Valckenier dan Gillis Valckenier adalah bewindhebber (pengurus) VOC. Kakak Adrian yang bernama Pieter adalah schepen (anggota dewan) di Amsterdam.

    Sepupu kakeknya Gillis, yang bernama Cornelis Valckenier, adalah walikota Amsterdam.

    Valckenier mengeluarkan kebijaka-kebijakan yang dianggap merugikan pedagang etnis Tionghoa. Mereka tidak setuju dan melawan kebijakan Valckeiner. Hingga Valckeiner naik pitam dan mengeluarkan maklumat pada 9 Oktober 1740 yang memerintahkan seluruh prajurit VOC membunuh dan menghabisi orang keturunan Tionghoa beserta keluarganya. George Bernhard Schwarz dari Jerman menceritakan dalam bukunya yang terbit 1751 berjudul: Hal-hal yang luar biasa, menceritakan keterlibatannya dalam pembantaian dan amuk di luar perikemanusiaan itu.

    Schwarz menceritakan bagaimana ia membunuh tetangganya sekeluarga yang keturunan Tionghoa, padahal sebelumnya ia tidak mempunyai masalah dengan mereka dan berhubungan dengan baik.

    Dalam buku itu ditulis, sekitar 24 ribu orang Tionghoa yang terdiri dari laki-laki, wanita, anak-anak, orang tua, dan pasien rumah sakit, dihabisi nyawanya. Keterangan jumlah korban menurut versi Jerman ini bertentangan dengan versi Belanda, yang menyebutkan korban sekitar 5.000 hingga 10 ribu jiwa. Peristiwa itu dikenal sebagai Geger Pecinan.

    Gubernur Jenderal Baron Gustav Wilhelm van Imhoff adalah gubernur jenderal Hindia Belanda pada periode 1743-1750. Imhoof menjadi gubernur jenderal karena peristiwa berdarah di Batavia. Yakni saat ribuan orang keturunan Tionghoa dibantai atas perintah atasannya, Gubernur Jenderal Adrian Valckenier yang disebut tidak berniat menghapus KKN di tubuh VOC.

    Imhoof bukanlah warga Belanda, melainkan berkebangsaan Jerman. Seperti banyak imigram Jerman lainnya di Batavia, sejak awal berdirinya VOC, ia berdinas dalam kongsi dagang di Asia Timur tersebut. Imhoof pun menjadi satu dari empat warga Jerman yang pernah mendapatkan jabatan tertinggi sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda.

    Ia sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Hindia Belanda. Namun ia terpilih menjadi Gubernur Kolonial Ceylon (sekarang Srilanka). Imhoof mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur kolonial Ceylon pada 12 Maret 1740 karena dipanggil pulang untuk mengabdi di Batavia.

    Resimen dibubarkan Daendels

    Antara tahun 1790 sampai tahun 1808, di Batavia, Semarang, dan Makasar, setidaknya ada 2.000 tentara bayaran Jerman yang didatangkan VOC. Mereka dari resiman ‘Wurttemburg’. Namun pada 1808, Gubernur Jenderal Daendels membubarkan resiman itu tanpa alasan jelas. Tiga tahun setelah pembubaran tersebut, Daendels tak berhasil mempertahankan Batavia ketika diserang Inggris pada 1811.

    Imhoff dan tiga gubernur jenderal VOC yang berasal dari Jerman bisa disebut beruntung karena dinobatkan menjadi orang nomor sati di Hindia Belanda kala itu. Dalam sejarah VOC di Batavia, Imhoff dikenal sebagai salah satu gubernur jenderal VOC yang berhasil. Meski dia disebut-sebut sukses karena campur tangan mertuanya yang juga mantan gubernur jenderal, Hyusman van der Hille.

    Meski demikian, tak sedikit yang percaya kesuksesan yang didapatkan Imhoof karena masukan yang cukup radikal. Seperti melakukan reformasi di tubuh VOC, sampai memberantas KKN di lingkungan pejabat tinggi hingga rendah.

    Ketika Imhoof Berkuasa

    Garis takdir menuntun Imhoof menjadi gubernur jenderal karena peristiwa berdarah di Batavia. Yakni saat ribuan orang keturunan Tionghoa dibantai atas perintah atasannya, Gubernur Jenderal Adrian Valckenier yang disebut tidak berniat menghapus KKN di tubuh VOC. Kebijakan-kebijakan Valckenier yang menekan para keturunan Tionghoa di Batavia pun mendapatkan perlawanan. Hingga akhirnya timbul pemberontakan oleh keturunan Tionghoa di Batavia.

     

    photo

    Gubernur Jenderal Baron Gustav Wilhelm van Imhoff (Wikipedia)

    Imhoof yang saat itu menjadi wakil gubernur jenderal VOC juga menentang perintah Valckenier. Akibatnya, Volckenier memerintahkan tentara menangkap Imhoff karena dinilai tidak mematuhi perintah atasan atau desartir.

    Imhoof pun dikirim ke Belanda sebagai tahanan dan harus menjalani hukuman. Namun maklumat yang dikeluarkan Valckenier itu menjadi senjata makan tuan dan menjadi kesalahan fatal. Pada Mei 1743 saat kapal yang membawa Imhoof baru bersandar di pelabuhan Kota Amsterdam, Imhoof justru diperintahkan untuk kembali ke Batavia. Alasannya berita pembantaian di Batavia oleh Valckenier sudah sampai ke Negeri Kincir Angin.

    Karma pun mengikuti garis edarnya. Valckenier dinyatakan bersalah karena pembantaian orang Tionghoa tersebut, dan akhirnya dipenjara seumur hidup. Imhoff pun diangkat untuk menggantikannya sebagai gubernur jenderal di Batavia. Imhoff juga ditunjuk melaksanakan hukuman untuk Valckenier.

    Semasa berkuasa, sejumlah bangunan dan terobosan dibuat Imhoof. Pada 20 Agustus 1746 contohnya, Imhoff mendirikan kantor pos pertama di Batavia untuk menjamin keamanan surat pos.

     

    photo

    Istana Cipanas

    Imhoff juga orang di balik berdirinya Kebun Raya dan Istana Bogor serta Istana Cipanas. Saat melakukan ekpedisi ke bagian selatan Batavia, dia terpukau dengan keindahan Buitenzorg, sebelum bersalin nama menjadi Bogor.

    Imhoff yang lahir di Leer, Jerman pada 8 August 1705 tutup usia di Istana Cipanas pada 1 November 1750 ketika berusia 45 tahun. Ia pun dikebumikan di halaman de Nieuwe Hollandse (Gereja Belanda Baru). Namun, ketika halaman gereja sudah padat dan gedung gereja hancur karena gempa pada 1808, sebagian makam digali dan dipindahkan ke lokasi permakaman yang baru dibuka di Kebon Jahe Kober, sekarang permakaman itu menjadi Museum Prasasti, kompleks permakaman tertua di Jakarta.

    Sebagai ganti bangunan gereja yang runtuh Pemerintah Hindia Belanda menggunakan lahan bekas gereja dan membangun sebuah bangunan dengan gaya Neo-Reinaissance yang diperuntukkan sebagai gudang milik perusahaan Geo Wehry & Co. Gudang tersebut sekarang menjadi Museum Wayang. Prasasti Imhoff kini masih bisa dijumpai di Museum Wayang.

    Namun sejarah gedung ini melekat kuat dengan kisah Gubernur Jenderal Baron Gustav Wilhelm van Imhoff, yang mendirikan bangunan tersebut. Ia menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda pada periode 1743-1750.

    Baron van Imhoof adalah gubernur jenderal VOC Hindia Belanda ke-27. Namun Imhoof bukanlah warga Belanda, melainkan berkebangsaan Jerman. Seperti banyak imigram Jerman lainnya di Batavia, sejak awal berdirinya VOC, ia berdinas dalam kongsi dagang di Asia Timur tersebut. Imhoof pun menjadi satu dari empat warga Jerman yang pernah mendapatkan jabatan tertinggi sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda.

    Ia sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Hindia Belanda. Namun ia terpilih menjadi Gubernur Kolonial Ceylon (sekarang Srilanka). Imhoof mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur kolonial Ceylon pada 12 Maret 1740 karena dipanggil pulang untuk mengabdi di Batavia.

     

     

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here