Home Pemberontakan Apakah Soekarno Terlibat dalam G30S?

Apakah Soekarno Terlibat dalam G30S?

59
0

SEJARAHONE.ID – Peringatan G30S/PKI sudah berlalu, tetapi sejarah pahit tentang pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) akan terus tercatat dalam sejarah. Bebarapa pakar sejarah berteori, bahwa terdapat  tiga pihak yang sering disebut terkait peristiwa tewasnya tujuh perwira militer pada 30 September 1965, yakni Soekarno, tentara, dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketiga pihak tersebut kerap digambarkan dan dikelompokkan menjadi tiga kubu yang berbeda dan berseberangan. Namun, Soekarno disebut-sebut dekat dengan PKI.

Dilansir dari The Conversation, Yohanes Sulaiman yang merupakan dosen di Universitas Jendral Achmad Yani, menjelaskan beberapa hal yang melatarbelakangi kedekatan Soekarno dengan PKI. “Seperti politikus lainnya, Soekarno adalah figur yang memang ingin terus berkuasa dan khawatir dengan munculnya saingan-saingan politik yang mengancam kekuasaannya,” tulis Yohanes dalam The Conversation.

 

Ir Soekarno.

Kedekatan Soekarno dengan PKI

Jauh sebelum peristiwa G30S, Soekarno telah memahami konsep marxisme. Sebab konsep Marxisme yang diperoleh Bung karno ketika bertemu Ki Hajar Dewantara dan Semaun. Seorang tokoh yang aktif di Sarekat Dagang Islam sekaligus anggota dari ISDV, cikal bakal PKI, di rumah Tjokroaminoto atau lebih dikenal sebagai Dapur Revolusi Indonesia itu memberikan gagasan akan sebuah negara merdeka tanpa terbentur ras dan agama.

Bung karno juga mengatakan kepada kita, dilihat dari segi ideologi. Landasan perjuangan ideologi Bung karno itu sebenarnya marxis, marxisme, itulah landasan. Tapi yang diterapkan di Indonesia, marxisme yang diterapkan di Indonesia, selain dari marxisme yang diterapkan di Eropa Timur, di Moskow, di Rusia dan sebagainya.

Menurut Yohane, Soekarno memang dekat dengan dengan Wakil Ketua PKI, Njoto, tapi dia tidak suka dengan pemimpin senior PKI D.N. Aidit yang dianggapnya terlalu ambisius. Ketidaksukaan Soekarno pada figur D.N. Aidit muncul di buku sejarawan Belanda Antonie C.A. Dake yang berjudul ‘In the Spirit of Red Banteng’.

Hal serupa juga dituliskan pada buku harian Ganis Harsono, seorang diplomat Indonesia, yang dekat dengan Subandrio, Menteri Luar Negeri Indonesia pada zaman Soekarno. “Sukarno mendukung PKI hanya untuk kepentingan politik. Ada dua tiga alasan mengapa Soekarno mendukung PKI,” tulis Yohanes.

Pertama, Soekarno tidak punya organisasi. Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mengusungnya pada dasarnya adalah partai kaum priyayi yang tidak mengakar dan tidak memiliki pengikut yang kuat.

Kedua, Soekarno membutuhkan organisasi yang membantunya mengimbangi kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sudah memiliki kekuasaan politik yang resmi dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden Juli 1959.

Ketiga, Soekarno membutuhkan PKI untuk memberikan kesan kepada Amerika Serikat bahwa Indonesia siap berpaling kepada komunisme dengan harapan bahwa Amerika Serikat akan menghawatirkan Indonesia.

Amerika Serikat akan mempertahankan Indonesia yang akan jatuh ke kubu Komunis, dengan begitu, AS akan terpaksa memberikan pertolongan pada Indonesia terkait konfliknya dengan Malaysia pada masa itu.

Yohanes menuliskan, ketiga hal tersebut menjadi alasan mengapa Soekarno dianggap dekat dengan PKI, walaupun pada dasarnya Soekarno selalu curiga dengan PKI. “Buktinya, walau orang-orang PKI mendapatkan posisi di pemerintahan, mereka tidak memiliki kekuasaan atau memimpin departemen,” tulis Yohanes.

“Njoto sendiri menyatakan posisinya ibarat ‘menteri pupuk bawang’ yang sekedar hadir sebagai ‘penghangat ubun-ubun rakyat’,” imbuhnya.

Pernyataan bahwa Soekarno dekat dengan PKI, tulis Yohanes, masih perlu ditinjau ulang karena bukti-bukti sejarah menunjukkan hubungan yang pelik antara Soekarno dan tokoh-tokoh PKI.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here