Home Merdeka Para Tokoh Bangsa dalam KMB

Para Tokoh Bangsa dalam KMB

185
0

SEJARAHONE.ID – Konferensi Meja Bundar atau KMB dilaksanakan di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus 1949 hingga 2 November 1949. KMB diselenggarakan untuk mengakhiri konflik Belanda-Indonesia, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945. Konferensi Meja Bundar juga dikenal dengan istilah Hague Agreement atau Perjanjian Den Haag. Secara garis besar, isi dari perjanjian ini adalah Belanda setuju untuk menyerahkan kedaulatan politik atas wilayah bekas Hindia Belanda, kecuali West New Guinea atau Irian Barat. Beberapa tokoh bangsa berjuang agar Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

Tokoh Konferensi Meja Bundar (KMB). Baris pertama (Delegasi Indonesia, dari kiri ke kanan): Drs Moh.Hatta (Ketua), Mr. Moh.Roem, Prof. Dr. Soepomo, dr. J.Leimena, dan Mr. Ali Sastroamidjoyo. Baris kedua (Delegasi Indonesia, dari kiri ke kanan): Mr. Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo. Kolonel T. B. Simatupang, dan Mr. Muwardi. Baris Ketiga (dari kiri ke kanan): Sultan Hamid II (BFO), Mr. van Maarseveen (Belanda), Tom Critchley (UNCI).

Berikut isi dari Konferensi Meja Bundar (KMB), yang dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud): Belanda mengakui Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Penyerahan kedaulatan politik ke Indonesia dilakukan pada 27 Desember 1949. Belanda dan RIS akan bergabung dalam Uni Indonesia-Belanda, yang dikepalai oleh Raja Belanda.

Permasalahan terkait Irian Barat dirundingkan kembali dalam kurun waktu 1 tahun. Penarikan kapal-kapal Belanda serta beberapa korvet atau kapal perang kecil diserahkan ke RIS. Penarikan tentara Belanda.

Pengakuan kedaulatan politik Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) tidak terlepas dari peran tokoh penting. Siapa sajakah tokoh yang terlibat dalam KMB?

Pemerintah Indonesia menyusun delegasi yang akan dikirim dalam KMB, dengan susunan sebagai berikut:

Ketua: Mohammad Hatta

Anggota: Mr. Mohammad Roem Prof. Dr. Soepomo Dr. Johannes Leimena Mr. Ali Sastroamidjojo Mr. Suyono Hadinoto Dr. Sumitro Djojohadikusumo Mr. Abdul Karim Pringgodigdo Kolonel T.B. Simatupang Dr. Muwardi Lihat Foto Penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia hasil Konferensi Meja Bundar. Tokoh dalam foto: Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr Willem Drees, Menteri Urusan Kolonial J.A Sassen, dan Moh Hatta(40 Tahun Indonesia Merdeka Jilid 1)

Dalam Konferensi Meja Bundar, delegasi dari Indonesia diwakili oleh Mohammad Hatta, Mohammad Roem, dan Prof. Dr. Soepomo. Sedangkan untuk perwakilan dari BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) yang merupakan kumpulan negara federal hasil bentukan Belanda di Indonesia, ialah Sultan Hamid II.

Untuk perwakilan delegasi dari Belanda ialah Johannes Henricus van Maarseveen yang menjabat Menteri Seberang Laut (Menteri Urusan Kolonial). Hadir pula perwakilan Komisi PBB untuk Indonesia atau United Nations Commission for Indonesia (UNCI), Tom Critchley. Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) selesai dilaksanakan.

Belanda menyerahkan kedaulatan politik di dua tempat, yakni di Belanda dan Indonesia.Belanda Akui Kedaulatan Indonesia Untuk di Belanda, lokasi penyerahan kedaulatannya dilakukan di ruang takhta Amsterdam. Indonesia diwakili oleh Mohammad Hatta dan Belanda diwakili oleh Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Dress serta Mr. E.M.J.A. (Maan) Sassen selaku Menteri Seberang Laut. Untuk di Indonesia, lokasi penyerahan kedaulatannya dilakukan di Istana Merdeka Indonesia. Perwakilan dari Indonesia adalah Sultan Hamengkubuwono IX. Sedangkan perwakilan dari Belanda adalah A.H.J. Lovink selaku Wakil Tinggi Mahkota Belanda. Mengutip dari Encyclopaedia Britannica, kaum nasionalis Indonesia tidak setuju dengan beberapa poin dalam perjanjian tersebut, seperti sifat negara, peran dominan dari negara otonom Belanda, utang serta masalah West New Guinea. Akhirnya, Parlemen Indonesia mencabut Perjanjian Den Haag pada 21 April 1956.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here