Home Uncategorized Kelangkaan Beras di Pulau Jawa Sejak Masa Penjajahan Belanda

Kelangkaan Beras di Pulau Jawa Sejak Masa Penjajahan Belanda

46
0

SEJARAHONE.ID – Berdasarkan data dari Koninklikje Bibliotheek Delpher Belanda, kelangkaan pasokan pangan di Pulau Jawa  sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda. Kondisi ini menjadi ironi karena Pulau Jawa dikenal sebagai pulau tersubur di Indonesia, lahan pertaniannya masih luas dan dikenal dunia. Namun, ternyata masyarakatnya sering kekurangan pangan, sejak zaman Belanda.

Kejadian kelaparan besar di Pulau Jawa sudah muncul ke publik sejak awal abad ke-20 melalui pemberitaan De grondwet terbitan 8 April 1902. Mereka memberitakan di Pulau Jawa adalah sesuatu yang lumrah, terutama di Jawa Tengah orang-orangnya sudah terbiasa dalam kondisi kelaparan dan hidup sengsara selama bertahun-tahun.

Dalam berita itu disebutkan, kelaparan yang mendera penduduk Jawa Tengah tersebut umumnya disebabkan ketergantungan terhadap konsumsi beras. Kondisi ini terjadi  jika sawahnya mengalami kegagalan panen, baik karena banjir maupun kemarau, letusan gunung berapi, atau lainnya.

Penduduk Pulau Jawa Pernah Sering Dilanda Kelaparan, SEJARAH JAWA BARAT -  DeskJabar

Kelaparan dan Kesengsaraan

Sekitar tahun 1902, kekurangan beras di Jawa Tengah menjadikan rakyat mengalami kelaparan dan mengalami kesengsaraan. Apalagi mereka tidak memiliki uang untuk membeli beras dari orang lain. Untuk menyambung hidupnya, orang-orang kelaparan itu kemudian mengonsumsi dedaunan dan akar pohon (tampaknya yang dimaksud termasuk umbi-umbian), bahkan memakan sesuatu yang sebenarnya sumber penyakit.

”Anda mungkin tak akan percaya bahwa di negeri yang kaya dan subur ini, seperti Pulau Jawa seharusnya tidak terjadi kelaparan. Nyatanya, para penduduk asli sering kekurangan pasokan beras!” tulis editor surat kabar De Grondwet itu.

Mulai dikenalnya beras impor, khususnya asal Saigon, Vietnam, tergambar dari pemberitaan surat kabar Algemeen Handelsblad terbitan 27 Januari 1915 dengan mengabarkan pada 26 Januari 1915, Kapal Uap SS Tjimahi (ejaan kini SS Cimahi) tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, dengan membawa 6.000 ton beras saigon (beras yang dikirimkan melalui Pelabuhan Kota Saigon).

Kiriman beras tersebut didatangkan Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan beras di Pulau Jawa pada Januari 1915.

De Telegraaf pada 8 Maret 1915 memberitakan, impor beras yang terjadi tersebut sebenarnya suatu hal ironis. Soalnya, produksi padi di Pulau Jawa mencukupi, tetapi impor beras selalu dilakukan setiap tahunnya, baik dari Saigon (Vietnam) dan Rangoon (Burma/Myanmar).

Sunday Mail terbitan Brisbane, Queensland, pada 29 Agustus 1937, memberitakan jutaan orang di Pulau Jawa kembali mengalami kelaparan sehingga menyebabkan migrasi penduduk secara besar. Salah satu penyebabnya, Pulau Jawa mengalami jumlah pertumbuhan penduduk yang serius dan sudah dinilai padat pada masa itu.

Disebutkan, Dr Hart selaku Direktur Urusan Ekonomi Hindia Belanda memberikan informasi bahwa Pulau Jawa sulit membendung terjadinya kondisi serius kelebihan populasi penduduknya. Saat itu sudah terpikirkan melakukan transmigrasi orang-orang dari Pulau Jawa ke sejumlah pulau terpencil.

Diberitakan pula, pada masa itu penduduk di Hindia Belanda, khususnya di Pulau Jawa  sudah mencapai 42 juta dan di luar pulau 19 juta. Perbandingan de­ngan luasan yang agak sama. Pulau Jawa populasinya total sudah 316 jiwa/km2 dibandingkan dengan Jepang yang 168 jiwa/km2. Sejumlah kawasan besar di Pulai Jawa saat itu juga kondisinya sudah menjadi yang terpadat penduduknya di dunia dengan perbandingan kawasan sekitar delta Sungai Nil Mesir.

Karena kondisinya sudah padat penduduk, Pulau Jawa membutuhkan banyak pangan. Peluang itu rupanya ditangkap oleh kalangan pebisnis pangan di Australia. Mereka melihat Pulau Jawa adalah sasaran pasar potensial bagi produk-produk negara itu.

The Telegraph terbitan Brisbane, Queensland, 20 Agustus 1926 yang mengabarkan Pulau Jawa  layak ditangkap para pebisnis sebagai prospek perdagangan pangan yang bagus. Gambaran itu muncul melalui informasi direktur perusahaan bisnis pangan asal Australia, Fuller, yang baru saja kembali dari perjalanan dari kawasan Asia Timur, untuk mencari pasar bagi tiga industri besar di Australia yang berbisnis pangan.

“Ada 35 juta penduduk Pulau Jawa. Mereka lapar untuk daging, tepung, dan buah-buahan Australia. Jika mereka makan satu apel, mereka akan menjadi heboh,  dan suatu hari, itu akan menjadi booming,” ujar Fuller.

Disebutkan, Fuller mengatakan suatu saat penduduk Pulau Jawa akan mengalami ketergantungan terhadap pasokan sejumlah jenis pangan dari Australia. ”Karena itu, janganlah menjadi takut kalau orang-orang di Pulau Jawa akan berani menyerang Australia,” katanya.

Dalam perhitungan Fuller, seberapa besar produksi pangan asal Australia yang daat dijual ke Pulau Jawa adalah menghitung dari urusan efisiensi dan produk­tivitas tenaga kerja. Seorang tenaga kerja di Australia mampu melakukan lebih banyak pekerjaan dibandingkan dengan sepuluh orang Jawa.

Berita itu juga menyebutkan, untuk memuluskan bisnis pangan tersebut, salah satu taktik utama yang dilakukan Fuller, adalah sejumlah unsur politik di Australia harus mau mendekati kalangan politisi di Pulau Jawa. Salah satu caranya adalah menyuap dan memberi komisi kepada sejumlah politisi di Pulau Jawa agar mau memuluskan perdagangan produk-produk pangan asal Australia.

Untuk mengamankan bisnis pangan mereka, khususnya ke Pulau Jawa, sejumlah kalangan bisnis di Australia melobi pemerintahnya agar dapat mendirikan pangkalan angkatan laut di Singapura. Namun, rencana itu kemudian batal dilakukan Australia karena melihat potensi konflik dengan Thailand yang juga dikenal sebagai kawasan penghasil pangan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here