Home Galeri Sejarah Kota Sumber Minyak, Bersinar Sejak Tempo Dulu

Sejarah Kota Sumber Minyak, Bersinar Sejak Tempo Dulu

22
0

SEJARAHONE.ID – Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan cadangan minyak.  Beberapa kota di Indonesia pun dikenal sebagai kota minyak akibat menjadi tempat pengumpulan dan pengolahan minyak sehingga menjadikan kota-kota tersebut kota yang besar. Sebagai kota penghasil minyak, Balikpapan sejak dulu sudah “Bersinar”. Lampu-lampu kilang yang tampak saat ini sudah terlihat kerlip keindahannya sejak dulu bak hamparan bintang.

Kota Balikpapan memang sudah memiliki pondasi sebagai kota jasa dan industri. Masyarakat Balikpapan juga secara alami memiliki kesadaran intelektual yang cukup tinggi.

Beberapa kota di Indonesia pun dikenal sebagai kota minyak akibat menjadi tempat pengumpulan dan pengolahan minyak sehingga menjadikan kota-kota tersebut kota yang besar. Masyarakat Balikpapan sejak lama juga sudah memiliki kepekaan terhadap masalah sosial yang terjadi.

Awal perkembangan tata kota Balikpapan ikut ditentukan oleh hadirnya BPM (Bataafsch Petroleum Maatschappij, perusahaan minyak milik Kerajaan Belanda yang beroperasi di Hindia Belanda, termasuk di Balikpapan).

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan cadangan minyak. Beberapa kota di Indonesia pun dikenal sebagai kota minyak akibat menjadi tempat pengumpulan dan pengolahan minyak sehingga menjadikan kota-kota tersebut kota yang besar.

Salah satu kota minyak yang kini semakin berkembang adalah Balikpapan. Kota terbesar di Kalimantan Timur dengan jumlah penduduk lebih dari 700 ribu jiwa ini, telah mengukuhkan dirinya sebagai kota berkembang dengan potensi yang menjanjikan.
Perkembangan pesat kota dengan nama lain, Banua Patra, tentu dikarenakan kekayaan alamnya berupa minyak bumi. Kalimantan Timur memang menyimpan potensi minyak bumi yang cukup besar, lihat saja Blok Mahakam, Bontang dan Balikpapan, sehingga menjadikannya sebagai propinsi yang penyumbang minyak besar di Indonesia.

 

Meski tak banyak yang tersimpan dari Balikpapan di masa lalu karena serbuan bom, perumahan Pertamina dengan bentuk bangunan yang sepertinya “ketinggalan zaman” bagi struktur bangunan modern, adalah yang terbaik di zamannya. Bangunan rumah-rumah bergaya Indi-perpaduan Eropa yang beradaptasi dengan iklim tropis nusantara.

Sebagian besar Komplek Pertamina adalah daerah pertama di Balikpapan yang mendapat sentuhan dan pengaruh barat. Daerah ini adalah pemukiman pegawai BPM bangsa Eropa. Jejaknya hingga kini terlihat di mana daerah di kawasan itu relatif masih tampak lebih baik penataannya dibanding sudut lain di Kota Balikpapan.

 

SENTUHAN BPM BAGI TATA KOTA

Kilang minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) yang hancur 3 Juli 1945
Kilang minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) yang hancur 3 Juli 1945

Awal perkembangan tata kota Balikpapan ikut ditentukan oleh hadirnya BPM (Bataafsch Petroleum Maatschappij, perusahaan minyak milik Kerajaan Belanda yang beroperasi di Hindia Belanda, termasuk di Balikpapan).

Meski tak banyak yang tersimpan dari Balikpapan di masa lalu karena serbuan bom, perumahan Pertamina dengan bentuk bangunan yang sepertinya “ketinggalan zaman” bagi struktur bangunan modern, adalah yang terbaik di zamannya.

Bangunan rumah-rumah bergaya Indi-perpaduan Eropa yang beradaptasi dengan iklim tropis nusantara. Sebagian besar Komplek Pertamina adalah daerah pertama di Balikpapan yang mendapat sentuhan dan pengaruh barat. Daerah ini adalah pemukiman pegawai BPM bangsa Eropa. Jejaknya hingga kini terlihat di mana daerah di kawasan itu relatif masih tampak lebih baik penataannya dibanding sudut lain di Kota Balikpapan.

Komplek Kilang Minyak disesuaikan dengan letak Sumur Mathilda. Kilang Minyak berada di utara Sumur Mathilda. Dibangun memanjang ke utara, di sepanjang Pelabuhan Semayang sampai Pandan Sari, tepat disebelah timur Teluk Balikpapan.

Disebelah timur Kilang Minyak terdapat sebuah jalan yang disebut Jl Yos Sudarso dan kita kenal dengan Jl Minyak. Disebelah timur Jalan Minyak itu, terdapat perkantoran dan pemukiman penduduk yang dulunya ditempati para pegawai BPM.

Rumah Pejabat BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) di kawasan Dubbs 1950. Tak jauh ke arah timur rumah sakit BPM itu, berkembang menjadi daerah perniagaan Klandasan yang menjadi tempat perbelanjaan keluarga pegawai BPM.

Sebagai daerah perbelanjaan terdapat sebuah pasar. Disekitar pasar terdapat komunitas China yang terlokalisasi dalam sebuah perkampungan semacam Pecinan. Komunitas Cina yang identik dengan kaum pedagang menjadi salah satu pelaku perekonomian Balikpapan, khususnya di kawasan Klandasan.

Pemukiman penduduk lain adalah di utara Kilang Minyak. Di daerah itu terdapat beberapa perkampungan, Pandan Sari, Kebun Sayur, dan Kampung Baru. Nama Kampung Baru umumnya ditinggali orang-orang Bugis dan Makassar dari Sulawesi.

Perkampungan ini semakin lama semakin ramai dan kemudian memiliki daerah perniagaannya sendiri. Pada dekade 1930-an, pusat perniagaan di sana adalah Kebun Sayur. Penggerak perekonomian di situ adalah orang-orang pribumi. Pusat perbelanjaan disini memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga pegawai BPM yang tinggal disekitar Karang Anyar.

 

JALAN SUDIRMAN, PUSAT PEMERINTAHAN

Salah Satu Kawasan Kota Balikpapan 1908
Salah Satu Kawasan Kota Balikpapan 1908

Balikpapan, pada masa kolonialisasi Hindia Belanda, merupakan wilayah dari onderafdeling Samarinda. Kalimantan Timur dulunya adalah bagian dari Oostafdeling van Residentie Zuid en Oost Borneo (Karesidenan Kalimantan Selatan dan Timur) yang berkedudukan di Banjarmasin.

Pada 1938, Kalimantan menjadi sebuah pemerintahan daerah sendiri bernama Gouvernement Borneo dengan Banjarmasin sebagai ibukotanya.

Nama resmi untuk daerah itu adalah Residentie Zuider en Oosterafdeling van Borneo. Kalimantan, berdasar besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Staatblad no 352 tahun 1938), terbagi menjadi dua keresidenan-keresidenan lain adalah Westerafdeling van Borneo yang berkedudukan di Pontianak.

Keresidenan Kalimantan Selatan dan Timur membawahi 5 afdeling antara lain: Banjarmasin; Hulu Sungai; Kapuas Barito; Samarinda dan Bulungan-Berau. Residen Kalimantan di Banjarmasin memiliki beberapa bawahan langsung disebut Asisten Residen. Dibawah asisten residen terdapat seorang controleur ditiap onderafdeling. Di Balikpapan terdapat seorang controleur yang bertugas mengawasi hubungan pemerintah dengan penguasa lokal.

Nah, di Balikpapan, controleur berkedudukan di controleurswaning yang letaknya di Zee-laan (sekarang Jalan Jenderal Sudirman) tidak jauh dari Rumah Sakit BPM atau kini Rumah Sakit Pertamina.

Wadjah dulu Taksi Jamban di jalan depan Benua Patra taoen 1977
Wadjah dulu Taksi Jamban di jalan depan Benua Patra taoen 1977

SEKOLAH EROPA

Sejak 1916, di Kaltim, termasuk di Balikpapan, berdiri Europe Leger School. Sekolah dasar khusus untuk anak-anak Eropa. Belanda, menginginkan pendidikan terbaik dan sebisa mungkin menjaga kemurnian ke Eropa-annya.

MERIAM DI GUNUNG SETELENG

BPM masih meninggalkan nama mereka pada sebuah meriam yang terdapat di Gunung Seteleng, Penajam. Arah meriam ini tepat ke arah kota Balikpapan. Kemungkinan meriam ini dipergunakan oleh Belanda dan sekutu untuk menembaki Tentara Jepang yang telah menduduki kota Balikpapan.

MINYAK DAYA TARIK UTAMA

Keberadaan instalasi minyak di Balikpapan memberikan pekerjaan kepada orang-orang pribumi, kendati hanya sebagai buruh saja. Semakin besar instalasi, semakin banyak buruh yang dibutuhkan. Dipastikan banyak orang pribumi yang menjadi buruh atau pegawai di BPM Balikpapan.

Pegawai-pegawai BPM, baik di Balikpapan atau Tarakan, dari mandor sampai pegawai tinggi, kehidupannya terjamin — sampai anak-anak mereka. Para pegawai BPM diberikan berbagai fasilitas hidup terbaik, untuk taraf Kalimantan.

Pegawai BPM umumnya mendapatkan perumahan nyaman, dan sampai sekarang masih tersisa dalam komplek Perumahan Pertamina Balikpapan. Kebutuhan hidup pegawai dan pensiunan dihari tua seorang pegawai BPM juga terpenuhi.

Beberapa tempat yang menjadi komplek pengolahan minyak BPM beserta lahanlahan penduduknya itu, kini, telah menjadi lahan milik Pertamina.

Kilang minyak Balikpapan. 12 Agustus 1960.
Kilang minyak Balikpapan. 12 Agustus 1960.

Kondisi sebagian buruh minyak memburuk ketika depresi ekonomi melanda dunia. Banyak perusahaan bangkrut. Beberapa perusahaan minyak besar bertahan, termasuk BPM. Namun, bahkan perusahaan sekelas BPM akhirnya harus mengurangi jumlah pekerja akibat dahsyatnya tekanan depresi ekonomi ketika itu. BPM Balikpapan mengurangi jumlah buruh dan berimbas pada angka pengangguran yang naik drastis di Balikpapan. Setiap minggu, tak kurang dari 20 buruh dikeluarkan untuk langkah efisiensi dan penghematan pasca depresi ekonomi.

Bahkan ketika masa Pendudukan Jepang, Balikpapan menjadi pusat pemerintahan militer Jepang di Kalimantan Timur. Tentu saja Jepang mengambil minyak-minyak dari Balikpapan untuk keperluan perang.

Wadjah kawasan salah satu jembatan dan pipa-pipa di kilang minyak tahun 1953.
Wadjah kawasan salah satu jembatan dan pipa-pipa di kilang minyak tahun 1953.

SAUDAGAR BUGIS MERAJAI PASAR

Sejak dulu, pasar-pasar dikuasai saudagar Bugis-Makassar dan sebagian orang-orang Banjar. Masyarakat Bugis berjualan ikan. Warga Banjar menjual pakaian, emas dan makanan. Keadaan ini masih berlangsung hingga puluhan tahun sesudahnya.

KILANG DIBANGUN ULANG

Antara 1945-1946, menjadi masa berbenah bagi Balikpapan. Salah satunya merehabilitasi Kilang Minyak yang masih berstatus milik BPM. Banyak para pekerja dari Jawa dilibatkan. Dari mereka berita proklamasi tersampaikan di Balikpapan. Ditindaklanjuti dengan sebuah rapat raksasa di Lapangan Foni, di Balikpapan Barat, tentang dukungan rakyat Balikpapan atas kemerdekaan Republik Indonesia

PUSKIB JADI PERTAHANAN BELANDA

RSU Balikpapan dulu berada di Lahan Puskib. Disitu terletak kubu pertahanan Belanda, Bronbeek. Lalu di kawasan Kebun Sayur, ada jembatan yang jadi saksi bisu sejarah dan disebut Jembatan Merah — seperti jembatan di Surabaya. Jembatan ini selalu penuh dangan darah baik dari tentara Belanda maupun pejuang Indonesia yang terluka.

ASAL NAMA JL WILUYO PUSPOYUDO

Mayor Wiluyo Puspoyudo adalah komandan militer RI pertama yang sampai di Balikpapan. Namanya diabadikan menjadi nama jalan hingga saat ini. Sementara Markas besar tentara (Makodam) yang dibangun di sekitar Klandasan, tak jauh dari Lapangan Merdeka, masih bertahan hingga sekarang.

ARSIP SEJARAH

SLOGAN BALIKPAPAN

Slogan Balikpapan “Bersih, Indah, Aman dan Nyaman” disingkat Balikpapan Beriman sudah ada sejak zaman Wali Kota Syarifudin Yoes. Setelah itu, program-program tata kota mengarah pada kota nyaman huni seperti pesan yang tertuang dalam slogan.

ASAL NAMA HANDIL

Handil tak jauh dari Balikpapan juga jadi kawasan bekas penambangan minyak. Ada yang menyebut nama daerah itu dari kata Handel, dari nama sebuah perusahaan. Menurut sumber lain, dalam bahasa Banjar Handil berarti kawasan pertanian yang baru ditemukan.

PENERBANGAN KE BALIKPAPAN

Sebelum perang dunia II, sudahada rute penerbangan Jawa-Balikpapan. Sebelum Mei 1937, penerbangan hanya sekali seminggu. Lalu dua kali dalam seminggu dengan maskapai penerbangan Hindia Belanda/KNILM.

JEJAK JEPANG DI BALIKPAPAN

Jepang mendarat di Balikpapan pada 23 Januari 1942. Selang sehari, pada 24 Januari 1942, Jepang menguasai dan mengkonsolidasikan kekuasaannya atas Kota Balikpapan. Pendudukan Balikpapan adalah pintu merebut Pulau Jawa untuk mewujudkan ambisi membangun Asia Timur Raya.

KOMPLEK PERTAMINA

Sebagian dari Komplek Pertamina adalah daerah pertama di Balikpapan yang mendapat pengaruh barat. Daerah ini dulunya adalah pemukiman pegawai BPM bangsa Eropa.

SOMBER JADI EMASOK AIR

Kawasan Somber, sejak sebelum kemerdekaan sudah menjadi salah satu pemasok air bagi Kota Balikpapan. Melalui “pipa tiga” sepanjang 15 km, ada satu jalur air dengan 3 pipa tersambung sampai Komplek Perumahan Pertamina Balikpapan mengitari perbukitan di daerah Somber, Telindung, sampai Kampung Baru.

BANGUNAN GEDUNG PASCA PERANG

Kebanyak gedung-gedung tua di Balikpapan dibangun kembali setelah tahun 1945, saat kondisi dinyatakan aman pasca perang. Meski struktur berubah, gedung-gedung dibangun dengan gaya yang sama. Berdirinya bangunan menjadi tolok ukur kemajuan Balikpapan setelah kemerdekaan.

NAMA BERUBAH, ARTI SAMA

Kawasan Pantai Belakang Benua
Kawasan Pantai Belakang Benua

Jalan-jalan di sekitar Lapangan Merdeka tidak banyak berubah sampai dekade 1990an. Meski beberapa kali nama jalan di sekitar itu berubah, namun artinya tetap sama. Seperti Sportlaan, berubah menjadi Jl Olahraga, dan Schoolweg berubah jadi Jl Sekolah.

Kawasan Manggar Besar (Manggar)
Kawasan Manggar Besar (Manggar)

JALAN KLANDASAN

Lebar jalan raya di sekitar Klandasan sebelum kemerdekaan sekitar 3 meter. Pola jalan ini memanjang seperti Jl Jenderal Sudirman, Yos Sudarso (Jalan Minyak), dan Jl Ahmad Yani.

KILANG MINYAK YANG TERBAKAR

Jauh sebelum dibombardir sekutu, Kilang Minyak Balikpapan juga pernah terbakar. Dilaporkan tak kurang dari 3.500 liter bensin milik BPM hangus. Itu terjadi pada 10 Mei 1919.

Kawasan Parikesit 1950 Tempatnya Stadion Persiba Balikpapan Sekarang
Kawasan Parikesit 1950 Tempatnya Stadion Persiba Balikpapan Sekarang

KARANG BUGIS

Perkampungan Karang Bugis sudah ada sejak dulu. Beberapa daerah ramai yang sudah berbentuk perkampungan, selain Komplek Pertamina, adalah daerah Klandasan.

Kawasan Panorama, Parikesit & Rapak
Kawasan Panorama, Parikesit & Rapak
Kilang minyak
Kilang minyak
Tarian dayak yang di tampilkan saat kunjungan Gubernur Belanda di tahun 1924
Tarian dayak yang di tampilkan saat kunjungan Gubernur Belanda di tahun 1924

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here