Home Uncategorized Ekspedisi Khalifah Utsmaniyah ke Aceh

Ekspedisi Khalifah Utsmaniyah ke Aceh

343
0

SEJARAHONE.ID – Ekspedisi Utsmaniyah ke Aceh dimulai sekitar tahun 1565 ketika Kesultanan Utsmaniyah berupaya mendukung Kesultanan Aceh dalam pertempurannya melawan Portugis di Malaka.[1][2] Ekspedisi dilancarkan setelah dikirimnya duta oleh Sultan Alauddin al-Qahhar (15391571) kepada Suleiman Luhur pada tahun 1564, dan kemungkinan seawal tahun 1562, menanti dukungan Turki terhadap Portugis.

Persekutuan Aceh-Turki Utsmani secara tak formal sudah mempunyai sejak tahun 1530-an. Sultan Alauddin al-Qahhar berkeinginan mengembangkan hubungan tersebut, bagi mencoba mengusir Portugis dari Malaka, dan memperluas kekuasaannya di Sumatera.

 Menurut Fernão Mendes Pinto, Sultan Aceh merekrut 300 prajurit Utsmaniyah, beberapa orang Abesinia dan Gujarat, serta 200 saudagar Malabar bagi menaklukkan Tano Batak pada tahun 1539. Setelah tahun 1562, Aceh nampaknya sudah menerima bala bantuan Turki yang memungkinkannya menaklukkan Kerajaan Aru dan Johor pada tahun 1564.

Pengiriman duta ke Istanbul pada tahun 1564 diperagakan oleh Sultan Husain Ali Riayat Syah. Dalam suratnya kepada Porte Usmaniyah, Sultan Aceh menyebut penguasa Utsmaniyah bagi Khalifah (penguasa) Islam.

Setelah mangkatnya Suleiman pada tahun 1566, anandanya Selim II memerintahkan pengiriman armada ke Aceh.[3] Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut, bersama dengan pasokan senjata dan amunisi yang melimpah. Armada pertama terdiri atas 15 dapur yang dilengkapi dengan artileri, namun dialihkan bagi memadamkan pemberontakan di Yaman. Akhirnya, hanya 2 kapal yang tiba selang tahun 1566–1567, namun sejumlah armada dan kapal lain menyusul. Ekspedisi itu dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis. Orang Aceh membayar kapal tersebut dengan mutiaraberlian, dan rubi. Pada tahun 1568, Aceh menyerang Malaka, walaupun Turki tak nampak turut serta secara langsung.

Usmaniyah mengajari Aceh bagaimana membuat meriam, yang pada akhir-akhirnya banyak dihasilkan. Dari awal ratus tahun ke-17, Aceh mampu berbangga akan meriam perunggu ukuran sedang, dan sekitar 800 senjata lain seperti senapan putar bergagang dan arquebus.

Armada Turki Usmani di Samudera Hindia

Ekspedisi tersebut menyebabkan berkembangnya pertukaran selang Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani dalam aspek militer, perdagangan, kecerdikan budi, dan keagamaan.Penguasa Aceh berikutnya meneruskan pertukaran dengan Khilafah Turki Utsmani, dan kapal-kapal Aceh diizinkan mengibarkan bendera Utsmaniyah.

Hubungan selang Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani menjadi ancaman akbar bagi Portugis dan mencegah mereka mendirikan letak dagang monopolistik di Samudera Hindia.[6] Aceh merupakan saingan dagang utama Portugis, kemungkinan mengendalikan perdagangan rempah-rempah banyakan daripada Portugis, dan Portugis mencoba menghancurkan sumbu perdagangan Aceh-Turki-Venesia bagi keuntungan sendiri. Portugis berencana menyerang Laut Merah dan Aceh, namun gagal sebab kurangnya tenaga manusia di Lautan Hindia.[6]

Ketika diserang oleh Belanda pada tahun 1873, Aceh menanti perlindungan dengan persetujuannya yang sudah semakin dahulu tercapai dengan Kesultanan Usmaniyah bagi noda satu dependensinya, namun klaim itu didorong oleh kuasa Barat yang takut bila peristiwa masa lalu terulang.[8] Armada yang diadakan bagi membantu Aceh sendiri pada akhir-akhirnya dialihkan bagi menumpas pemberontakan Zaidiyah di wilayah Yaman.

Senapan Turki dan Aceh, dilucuti setelah pendudukan Aceh oleh Belanda pada tahun 1874. Illustrated London News.

Ketika diserang oleh Belanda pada tahun 1873, Aceh menanti perlindungan dengan persetujuannya yang sudah semakin dahulu tercapai dengan Kesultanan Usmaniyah bagi noda satu dependensinya, namun klaim itu didorong oleh kuasa Barat yang takut bila peristiwa masa lalu terulang.Armada yang diadakan bagi membantu Aceh sendiri pada akhir-akhirnya dialihkan bagi menumpas pemberontakan Zaidiyah di wilayah Yaman

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here