Home Galeri Sepenggal Kisah Soekarno Ketika Meninggalkan Istana

Sepenggal Kisah Soekarno Ketika Meninggalkan Istana

130
0

SEJARAHONE.ID -Tim Lembaga Analisis Informasi (LAI) dalam buku Kontoversi Supersemar Dalam Transisi Kekuasaan Kekuasaan Soekarno-Soeharto (Medpress, 2007) menuliskan, Supersemar adalah penanda era berakhirnya kekuasaan Soekarno.

Tentang berakhirnya Presiden Soekarno ini, banyak kisah yang cukup unik terjadi dan diulas sejumlah penulis Indonesia. Menjelang akhir kekuasannya, Soekarno pernah diminta keluar Istana Soeharto. Itu terjadi setelah pecahnya peristiwa G30S/PKI tahun 1965 silam.

Bukan tanpa sebab Soeharto meminta Soekarno keluar dari istana. Hal ini disebabkan karena Soekarno terbukti terlibat dan mendukung PKI di Indonesia. PKI yang berpaham komunis tentu sangat berbahaya bagi eksistensi NKRI.

Sejarah mencatat bahwa Sukarno memiliki kedekatan dengan paham komunis. Beruntung Soeharto bersama pasukan TNI AD berhasil menyelamatkan NKRI dari kejahatan PKI.

Hal ini menjadi momen bersejarah, Indonesia berhasil diselamatkan dari pemberontakan PKI.

Ketika itu PKI sangat masif menyerbarkan paham komunis pada masyarakat. PKI juga berupaya menguasai pemerintah. Upaya PKI hanya bertujuan satu yakni menerapkan paham komunis di pemerintahan dan masyarakat.

Di masyarakat, PKI menyingkirkan ulama dan kyai yang menentang komunis. Karena secara nyata, komunis adalah paham tidak bertuhan yang bertentangan dengan pemikiran Islam yang dianut sebagian besar masyarakat.

Kemudian, PKI pun berupaya menyingkirkan para Jendral TNI AD yang menentang PKI. Dalam hal ini, Soeharto menilai bahwa Soekarno terlibat dengan PKI yang menganut komunis.

 

Soekarno Diminta Meninggalkan Istana

Masa-masa pertengahan dekade 60-an memang seolah menjadi senjakala kekuasaan Soekarno.

Ketika saat itu, Soekarno masih memperistri 6 dari 9 istrinya; Hartini (1953–1970), Kartini Manoppo (1959–1968), Ratna Sari Dewi (1962–1970), Haryati (1963–1966) , Yurike Sanger (1964–1968) dan Heldy Djafar (1966–1969).

Sedangkan tiga istri Soekarno dan anak-anaknya (Oetari 1921-1923, Inggit Ganarsih (1923-1943) dan termasuk ibu negara Fatmawati (1943-1956), banyak merasakan masa-masa ketika memperjuangkan kemerdekaan.

Pada masa itu, era kekuasaan Soeharto pun perlahan mencuat ke permukaan.

Ada sebuah kisah menarik saat kekuasaan Soekarno berakhir. Soekarno sempat meninggalkan banyak harta karun yang tak ternilai, termasuk arloji branded buatan Eropa.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here