Home Ekonomi Pembangunan Jalur Kereta Batavia Berawal dari Kepentingan Ekonomi dan Politik

Pembangunan Jalur Kereta Batavia Berawal dari Kepentingan Ekonomi dan Politik

74
0

SEJARAHONE.ID – Sejak 1846, gagasan pembangunan jalur kerata api di Batavia (Jakarta) mencuat, Gubernur Jenderal Hindia Belanda J. J. Rochussen mengusulkan pemerintah untuk membangun jalur kereta api dari Jakarta menuju ke Buitenzorg (Bogor). Tujuan pembangunan jalur tersebut guna kepentingan ekonomi serta politik dan komunikasi pemerintahan.

Gubernur Hindia Belanda menilai, dari segi ekonomi keberadaan layanan kereta api sebagai pengangkutan komoditas sangat penting, utamanya perkebunan dari pedalaman di Priangan ke pelabuhan di Jakarta.

Sedang dari sudut politik, terdapat Gedung Algemeene Secretarie (saat ini Istana Bogor) di Bogor yang merupakan tempat kedudukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pusat administrasi pemerintahan.

Menindaklanjuti usulan Rochussen, Pemerintah Kerajaan Belanda mengutus David Maarschalk untuk melakukan survei dan menyusun rencana pemasangan jalur kereta api Jakarta-Bogor. Maarschalk ialah seorang militer, Letnan 1 Zeni. Pelaksanaan survei dilakukan oleh militer sebab di jalur tersebut dianggap rawan, baik gangguaan keamanan maupun tantangdan dari pemilik tanah. Dalam laporannya pada tahun 1853, Maarschalk menyarankan pembangunan hendaknya dilakukan oleh pemerintah namun pengoperasiannya diserahkan kepada pihak swasta.

Paska hampir dua dekade, gagasan pembangunan jalur kereta api di Jakarta akhirnya terealisasi. Tepatnya pada tahun 1864, perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapij (NISM) mendapatkan konsensi pembangunan berdasar surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Gouvernement atau GB) Nomor 1 tanggal 27 Maret 1864 dan  Nomor 1 tnggal 19 Juni 1865 serta surat keputusan Raja Belanda (Koningklijk Besluit) tanggal 22 Juli 1868.

Jumat, 15 Oktober 1869 dimulai pembukaan pembangunan jalur kereta api Jakarta-Bogor. Pembukaan ditandai melalui upacara yang dihadiri Gubernur Jenderal P. Myer. Proyek sepanjang 56 km tersebut dipimpin oleh Ir. J. P. Bordes yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Jakarta-Weltevreden, Weltevreden-Meester Cornelis, dan Meester Cornelis-Bogor. Selain itu, turut dibangun pula jalur simpangan ke Meester Cornelis (Jatinegara) dan simpangan ke Kleine Boom (Pasar Ikan). Berbeda dengan jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) milik NISM yang memakai lebar jalur 1.435 mm, jalur Jakarta-Bogor menggunakan lebar jalur 1.067 mm. Jalur rel ini tergolong kelas dua, dengan bobot batangan rel 25 kg per batang. Dapat dilalui rangkaian kereta berkecepatan antara 20-59 km/jam.

Antara Batavia menuju Weltevreden (kini wilayah Jakarta Pusat) sepanjang 6 km diresmikan NISM pada 15 September 1871. Di saat bersamaan, dibuka jalur simpang ke Pasar Ikan. Sebagai tempat perhentian di Weltevreden, NISM membangun Halte Koningsplein sebuah bangunan kecil yang sederhana. Penamaan Koningsplein karena semasa kolonial Belanda halte sederhana ini berada di tepi timur Koningsplein atau Lapangan Raja (saat ini Kawasan Silang Monas). Lokasi halte ini cukup strategis, dekat dengan kawasan perbelanjaan Noordwijk (kini daerah Juanda) dan Pasar Baru.

Dalam perkembangannya, NISM membangun sebuah perhentian baru di Weltvereden. Adalah Stasiun Weltevreden yang dibuka pada 4 Oktober 1884, terletak beberapa ratus meter arah utara dari Halte Koningspein. Keberadaan Stasiun Weltevreden otomatis mengganti peranan Halte Koningsplein. Stasiun baru ini memiliki atap besi yang ditopang tiang besi cor. Stasiun ini melayani perjalanan kereta jarak jauh seperti Bandung dan Surabaya.

1 Kesibukan di Stasiun Gambir edit

Kesibukan di Stasiun Gambir sekitar tahun 1921. (Sumber: Tropenmuseum)

Diambil Alih Staatsspoorwegen

Sejak awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda telah merencanakan perbaikan kondisi perkeretaapian di Jakarta dan sekitarnya. Akan tetapi hal tersebut bertentangan dengan kenyataan bahwa perkeretaapian di Jakarta sebagain dimiliki oleh pemerintah dan sebagian lagi dikelola oleh perusahaan swasta. Sampai tahun 1900, pemerintah melalui perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) menjalankan kereta api lintas Jakarta-Bekasi-Karawang, Jakarta-Duri-Tangerang serta Duri-Rangkasbitung.

Gayung bersambut, pada tahun 1913 pemerintah mengambil alih jalur kereta api Jakarta-Bogor milik NISM. Lantas SS memulai perbaikan kondisi perkeretaapian di Jakarata secara menyeluruh. Salah satu agenda SS ialah membangun jalur ganda serta membuat jalur kereta api layang yang menanjak dari Gondangdia melewati Weltevreden, melintas Sawah Besar jalur kereta api turun kembali. Jalur layang tersebut tetap mengikuti jalur yang sudah ada. Sebagai jalur layang, akan dibangun pula stasiun baru di Weltevreden. Stasiun baru tersebut akan ditempatkan sedemikan rupa sehingga selama proses pembangunan tidak mengganggu operasional Stasiun Weltevreden. Keseluruhan rencana teresbut disampaikan oleh kepala insinyur, Koc H dalam sambutannya tanggal 4 Agustus 1917.

Sayang, usulan pembangunan jalur kereta api layang yang dikemukanan Koc H tidak terlaksana. Sebagai gantinya, Stasiun Weltevreden diperbesar dan dirancanag memiliki halaman depan yang lebih luas. Perubahan juga dilakukan sepenuhnya di emplasemen stasiun. Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1928 Stasiun Weltevreden mengalami metamorphosis, menjadi bangunan bergaya art deco. Di sisi utara stasiun dilakukan perpanjangan atap sepanjang 55 meter. Semula, kereta api diharuskan menginap di Stasiun Weltevreden serta adanya tempat mencucui kereta dan gerbong kereta api. Setelah bangunan baru Stasiun Jakarta (kini Stasiun JakartaKota) rampung, kegiatan tersebut dipindahkan di emplasemen Stasiun Jakarta

2 Bangunan Stasiun Gambir Setelah Renov edit

Bangunan Stasiun Gambir setalah direnovasi menjadi gaya art deco, foto tahun 1939. (Sumber: Tropenmuseum)

 

Kurun tahun 1925-1930 dilakukan elektrifikasi di Jakarta, tak terkecuali di Weltevreden. Rencana elektrifikasi mulai dicetuskan sekitar tahun 1915 dan dimulai pekerjaan tahun 1921. Pada tahun 1937, nama Stasiun Weltevreden diganti menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Saat itu juga stasin sudah mernjadi stasiun tersibuk di Hindia Belanda. Hampir seluruh kereta jarak jauh utama dan semua kereta ke Bogor singgah di stasiun ini.

Stasiun Batavia Koningsplein dikenal pula dengan Stasiun Gambir. Terkait penamaan Gambir belum diketahui kapan pastinya, diduga sekitar tahun 1922. Saat itu masyarakat menyebut Koningsplein dengan Lapangan Gambir, konon kabarnya karena  di lapangan tersebut tumbuh Pohon Gambir. Pohon yang getahnya dapat disadap sebagai bahan baku pembuat gambir, salah satu bumbu untuk menyirih.

3 Tampak Atas Stasiun Gambir 1940 edit

Tampak atas Stasiun Gambir tahun 1940, terlihat stasiun memiliki tujuh jalur kereta api. (Sumber: Tropenmuseum)

Menjadi Stasiun Layang

Pada tahun 1976, Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Gubernur Jawa Barat Solihin GP melaksanakan kerja sama pembangunan Kawasan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Pengembangan Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Botabek) diharapkan mampu menjadi pemukiman baru untuk menampung penduduk Jakarta yang sudah overload. Untuk menarik minat penduduka Jakarta menetap di Botabek pemerintah meningkatkan layanan transportasi yang memadai sehingga penduduk tidak ragu untuk menetap di Botabek.

Pemerintah melalui Departeman Perhubungan Darat bersinergi dengan Jepang meningkatkan pelayanan transportasi di Jabotabek. Kerja sama tersebut adalah membuat “Sistem Kereta Api Komuter Modern” guna menumbuhkan peran kereta api di wilayah Jabotabek. Salah satunya adalah proyek pembangunan jalur layang kereta api Jakarta-Manggarai.

Dalam pelaksanaan proyek jalan layang Jakarta-Manggarai Jepang menunjuk tim dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Rencana pembangunan tercatat dalam rencana induk kereta api Jabotabek tahun 1981. Jalur layang sepanjang 8,5 kilometer tersebut akan dibangun 5,1 meter di atas permukaan tanah. Nantinya, jalur layang akan memiliki jalur ganda yang dilengkapi dengan elektrifikasi dan sinyal otomatais sehingga KRL, KRD, dan kereta jarak jauh dapat melintas.

Sebagai tempat perhentian di jalur layang dibangun pula stasiun baru, termasuk Stasiun Gambir. Pelaksanaan pembangunan Stasiun Gambir dibarengi dengan pemangunan jalur layang segmen B, dari Gondangdia sampai ke Jalan Ir. H. Juanda. Pembangunan ditandai dengan pemancangan tiang pertama di segmen B, tepatnya di sebelah selatan Stasiun Gambir yang lama pada 17 Desember 1986. Pemancangan tiang dilakukan oleh Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dengan disaksikan oleh Dirjen Perhubungan Darat, Gubernur Jakarta dan Dirjen Perhubungan Laut.

Stasiun Gambir yang baru dibuka untuk umum bersamaan dengan peresmian jalur pada Jumat, 6 Juni 1922. Presiden Soeharto meresmikannya, dengan ditandai dioperasikan Kereta Api Listrik (KRL). Sebelumnya, presiden terlebih dahulu membeli karcis di loket Stasiun Gambir. Stasiun baru ini memiliki tiga lantai, lantai pertama untuk loket penjualan tiket, lantai kedua sebagai ruang tunggu penumpang yang dilengkapi toilet, pertokaan serta restoran dan beberapa kantor pegawai, sedang lantai merupakan peron bagi para penumpang. Arsitektur bangunan atas terlihat sederhana dengan atap bersusun dengan sentuhan tradisioanl, joglo. Tak kalah menarik, bangunan stasiun baru di jalur layang masing-masing memiliki warna yang berbeda, dirancang bersama Fakultas Seni Rupa ITB. Stasiun Gambir berwarna dominan hijau lantainya pun dipasang porselen mengkilap dengan warna hijau. Selain Monas dan Istiqlal, bangunan baru Stasiun Gambir menjadi bangunan yang mudah dikenali di jantung kota Jakarta.

4 Stasiun Gambir Baru Tahun 1993 edit

Tampak atas Stasiun Gambir yang baru tahun 1993. (Sumber: Tropenmuseum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here