Home Uncategorized Kisah Di Balik Supersemar

Kisah Di Balik Supersemar

195
0

SEJARAHONE.ID – Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

Hari Ini 55 Tahun Lalu Presiden Sukarno Berikan Supersemar Kepada Soeharto  - Nasional Tempo.co

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

Kontroversi Supersemar

Supersemar menjadi salah satu surat monumental nan kontroversial dalam sejarah bangsa Indonesia. Sialnya, surat yang dipakai Soeharto untuk jalan masuk menuju kekuasaannya selama 32 tahun itu hingga kiini masih dicari alias tidak diketahui pasti keberadaannya.

Arsiparis Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Mira Puspita Rini menyebut bahwa saat ini ANRI menyimpan tiga versi Supersemar. Versi pertama adalah Supersemar dari Pusat Penerangan TNI AD yang berjumlah satu lembar. Versi kedua, Supersemar yang diserahkan oleh Jenderal M. Yusuf, salah satu jenderal yang mengikuti proses pembuatan surat tersebut. Versi kedua ini berjumlah dua lembar dan hanya merupakan salinan. Sedangkan versi ketiga, Supersemar yang diberikan oleh Akademi Kebangsaan, berjumlah satu lembar.

“Sayang sekali arsip ini secara fisik sudah rusak. Ada yang bolong, lalu informasi hilang. Sama, ada kop garudanya di atas. Terdiri dari empat bagian juga. Tulisannya sudah tidak terlalu jelas,” jelas Mira yang kini merupakan Koordinator Kelompok Arsiparis Arsip Statis ANRI.

Mira mengingatkan, Supersemar dan arsip terkait Supersemar kini merupakan arsip yang masuk dalam daftar pencarian arsip. Saat ini sebagian besar arsip masa transisi itu masih berada di Pusat Sejarah

“Yang diserahkan itu hanya yang tentang teritorial dan pengerahan tenaga. Sedangkan yang operasional, intelijen, telekomunikasi, anggaran dan pembiayaan itu masih di sana. Dan Arsip Nasional berusaha terus untuk mengambil arsip-arsip periode 65, 66 yang masih ada di pusat sejarah TNI AD,” ujarnya.

Mira juga menghimbau kepada masyarakat maupun keluarga tokoh-tokoh nasional yang memiliki arsip terkait agar menyerahkannya kepada ANRI untuk dikelola.

Ketiga arsip Supersemar yang dimiliki ANRI itu sama-sama ditandatangani oleh Sukarno tertanggal 11 Maret 1966. Hal ini kemudian menimbulkan perdebatan mengenai apakah Sukarno benar-benar menandatangani semua versi itu.

Menurut sejarawan Baskara T. Wardaya, hal itu perlu menjadi perhatian khusus. Pasalnya, Sukarno hanya menandatangani satu Supersemar. Adanya beberapa versi Supersemar bertandatangan Sukarno memunculkan dugaan bahwa ada pihak yang mencoba memalsukan tanda tangan Bung Besar.

“Jadi artinya ini mendukung dugaan bahwa ini sudah dipikirkan jauh-jauh hari sebelumnya. Bukan sebuah tindakan yang spontan,” ujar sejarawan yang akrab disapa Romo Bas ini.

Romo Bas juga menyebut bahwa ada satu lagi versi Supersemar dari TNI Angkatan Darat. Dalam versi ini terdapat frasa “boleh mengambil segala tindakan yang dianggap perlu”, yang kemudian dipakai Soeharto untuk mengambil kekuasaan Sukarno.

Sejarawan penulis buku Membongkar Supersemar!: dari CIA hingga Kudeta Merangkak Melawan Bung Karno itu menyebut bahwa arsip-arsip lain yang ia temukan di Amerika Serikat bisa menjadi sumber pendukung teori “Kudeta merangkak Soeharto”. Permasalahan kudeta ini pun masih menjadi kontroversi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here