Home Ekonomi Fakta Sejarah Taksi di Indonesia

Fakta Sejarah Taksi di Indonesia

105
0
SEJARAHONE.ID – Nama taksi sendiri berasal dari kata “taximeter”. Taximeter adalah nama sebuah alat yang digunakan untuk mengukur jarak atau waktu yang ditempuh sebuah taksi sehingga supir bisa menentukan harga yang harus dibayar berdasarkan Taximeter (argo) tersebut.
Taximeter pertama kali digunakan pada tahun 1891. Alat ini ditemukan oleh penemu Jerman Wilhelm Bruhn.Gottlieb Daimler merupakan nama perusahaan mobil taxi jasa pertama di dunia. Perusahaan ini dibentuk pada tahun 1897. Taksi pertama di dunia yang beroperasi bernama Daimler Victoria.
Selanjutnya, taksi terus berkembang hingga abad 20. Perkembangannya semakin maju pada tahun 1940.Pada tahun tersebut mulai dikenal radio komunikasi 2 arah sebagai instrumen pelengkap di taksi. Penggunaan radio ini sangat membantu komunikasi operator dengan pengemudi dalam melayani order pelanggannya.
Pada tahun 1980, kemudian masuklah teknologi komputer yang digunakan sebagai alat untuk distribusi order. Sistem teknologi tersebut masih berlaku hingga kini. Taksi merupakan alat transportasi umum yang kini banyak dan berkembang di kota – kota besar di Indonesia. Alat transportasi umum yang dapat dibilang sebagai alat transportasi premium, yang mana biaya tarifnya lebih mahal dibandingikan dengan angkutan umum lainnya. Tarif yang digunakan taksi menggunakan argometer menghitung berdasarkan jarak yang ditempuh, biasanya tarif ditentukan untuk setiap kilometernya.

Pada tahun 1971 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menetapkan ketentuan pengusaha taksi di wilayah DKI Jakarta, selaras dengan Jakarta sebagai kota metropolitan. Kententuan ini bertujuan untuk memberantas pemilik taksi liar atau gelap, hal ini tentunya mempengaruhi iklim taksi liar karena ketentuan untuk menjadi perusahaan taksi kala itu harus mempunyai minimal 100 unit armada baru, sedangkan taksi gelap ini hanya memiliki 1 atau 2 unit kendaraan saja.

President Taxi hadir sebagai transportasi populer di eranya

Disisi lain, masyarakat kala itu kurang tertarik menggunakan taksi meter dan lebih memilih menggunakan taksi liar. Karena terkesan memakai kendaraan dan sopir pribadi, kelompok pemilik taksi liar mangkal di Stasiun Gambir dan Bandar Udara Kemayoran. Mereka menyambut gembira atas ketentuan pengesahan taksi resmi ibukota, walaupun bagi mereka kesulitan mengadakan kendaraan baru minimal 100 unit karena umumnya memiliki kendaraan tua.

Dalam kondisi terdesak, sekelompok pengusaha kecil berupaya mencari jalan keluar guna kelancaran usaha. Dalam tempo singkat terkumpul lebih dari 200 orang peminat untuk menjadi anggota. Tiga bulan kemudian pada tanggal 16 mei 1972, terbentuknya Koperasi Taksi Indonesia (KTI).

Jauh sebelum taksi berkelir biru atau putih mengaspal di jalanan ibu kota, ada taksi berwarna kuning cerah dengan nama President Taxi. Pada tahun 1970 hingga 1980-an sampai akhirnya meredup dan hilang. President Taxi sangat populer sebagai armada transportasi pada zamannya. President Taxi dulu menggunakan armada Toyota Corolla E20, mobil ini menggunakan mesin berkapasitas 1.588 cc bertenaga 106 dk dan torsi 138 Nm.

Setelah taksi kuning ini menghilang dari jalanan, setelah taksi ini menghilang dari jalanan ibu kota kabar lainnya mengatakan bahwa President Taxi sudah tidak lagi beroperasi.

Salah satu penyebab President Taxi tidak lagi beroperasi karena, argo yang diberikan oleh taksi kuning ini tidak sesuai dengan jarak tempuh perjalanan. ‘Argo kuda’ ini sebutan populernya pada masa si taksi kuning ini. selain itu, pelayanan kurang baik juga menjadi faktor lain, kalah saing dengan pamor taksi-taksi lainnya. Pelayanan President Taxi yang membuat pengguna tidak nyaman adalah AC yang sudah tidak berfungsi dengan baik, dan tampilan mobil sudah terlihat usang.

Lalu mulai banyak oknum pengemudi mencoreng nama baik President Taxi. Hingga akhirnya, President Taxi dijauhi dan dihindari karena persoalan keselamatan, kenyamanan dan profesionalitas.

Holden Torana armada taxi pertama Blue Bird

Selain President Taxi ada lagi nih perusahaan Blue Bird, hingga saat ini masih beroperasi di beberapa kota Indonesia. Mutiara Siti Fatimah Djokosoetoni atau biasa disebut Ibu Djoko adalah pendiri dari Blue Bird. Pada 1971 Ibu Djoko meminta izin propesional agar perusahaan jasa penyewaan mobil taksi yang sedang dijalaninya bisa menjadi bisnis resmi, nah jadi awal mulanya Blue Bird ini dari taksi gelap juga.

Pada 1972 keluarlah surat izin dan Ibu Djoko secara resmi meluncurkan jasa sewa taksi mobil Blue Bird pertama yang menggunakan argometer. Taksi Blue Bird ini menggunakan cat berwarna biru dan diberi lambang burung biru agar sesuai namanya. Pemberian nama Blue Bird diambil oleh Ibu Djoko karena beliau senang dengan cerita Blue Bird yang mebawa kebahagian bagi setiap orang.

Mobil yang digunakan untuk layanan taksi regular pertama Blue Bird yang diluncurkan pada tahun 1972 adalah merek Holden Torana. Mobil ini merupakan buatan perusahaan mobil Australia. Mobil ini mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1965. Seiring berjalannya waktu, armada dari Blue Bird digantikan oleh digantikan oleh Toyota.

Selama ini Blue Bird telah memakai beragam merek mulai dari Timor, Ford Laser, Toyota Soluna, Toyota Limo, Honda Mobilio, Toyota Transmover, dan mobil listrik BYD E6.

NIssan Cedric, armada Blue Bird ex KTT Non Blok

Pada tahun 1992 saat pemerintah Indonesia menjadi tuan rumah KTT Non Blok, pada tahun ini Taksi eksekutif Silver Bird lahir. Pada saat itu pemerintah Indonesia membutuhkan banyak armada untuk transportasi tamu Kepala Negara. Pihak swasta termasuk Blue Bird Group, diminta turut berpartisipasi pada acara besar tersebut.

Setelah acara KTT selesai, pihak Blue Bird berinisitaif untuk menjadikan kendaraan tersebut sebagai armada taksi eksekutif Silver Bird. Silver Bird dulu menggunakan Nissan Cedric berkapasitas 2.500cc diesel yang menghasilkan tenaga 82 dk dan torsi 166 Nm. Selain Cedric, Silver Bird menggunakan mobil premium lain seperti, Mercedes Benz C200 CGI, C230, E200 CGI, dan E200 K. Selain Mercedes, ada Toyota Alphard, Camry XV40, Nissan Elgrand dan Tesla Model X 75D.

Sebelumnya Indonesia belum memiliki taksi eksekutif, dengan hadirnya Silver Bird membuat sejarah perjalanan transportasi di Indonesia menjadi berwarna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here