Home Khasanah Fakta Sejarah Kebencian Barat pada Sulaiman Al Qanuni

Fakta Sejarah Kebencian Barat pada Sulaiman Al Qanuni

136
0

SEJARAHONE.ID – Sultan Sulaiman Al Qanuni bin Salim I bin Beyzid II bin Mehmet Al Fatih. Sultan ke-10 dalam Estafet Kepemimpinan Khilafah Utsmaniyah (1520-1566). Beliau adalah Putra dari Sultan Salim I, Sang Penakluk Shafawiyah (Syiah). Cucu dari Sultan Beyzid II, Serta Cicit dari Sultan Penakluk Benteng Konstatinopel, Muhammad Al Fatih.

Dalam sejarah Kekhalifahan Utsmaniyyah, tak ada Sultan yg paling dibenci BARAT melebihi kebencian mereka pada Sulaiman Al Qanuni. Saking dalamnya kebencian mereka terhadap Al Qanuni, maka dalam manuskrip sejarah para orientalis-orientalis Barat, melakukan propaganda: bahwa Al Qanuni diprofilkan sebagai Sultan penggila syahwat yg selalu dikelilingi oleh Hareem (Wanita) yang memamerkan aurat.

Hal ini mereka lakukan akibat dendam kesumat tak terbalaskan dari negeri2 Barat atas peristiwa PEMBANTAIAN SALIBIS dalam “The Battle Of Mohawk” yg telah mempermalukan dan mencoreng wajah mereka sepanjang peradaban dunia.

Padahal, betapa besarnya jasa sang Sultan terhadap negeri-negeri Eropa saat itu. Tanpa Al Qanuni, Negeri-Negeri di Eropa khususnya Perancis, tak akan pernah mengenal Tradisi Konstitusi dan Undang-Undang yang menjadi dasar dalam penyelenggaraan Negara. Ya, Konstitusi Perancis, terbentuk atas draft undang-undang yang disusun oleh Sulaiman Al Qonuni. (Surat Otentik tentang ini Pernah dipamerkan Erdogan utk membungkan mulut kotor Sarkozy)

Lantas, apa yang membuat bangsa-bangsa Barat yang tidak tahu terimakasih itu menjadi begitu benci terhadap Sang Sultan?

Dalam masa kepemimpinan Sultan Salim I (Ayahanda Al Qanuni), hampir seluruh Negeri Eropa tunduk dibawah otoritas Utsmani. Bahkan utk sekedar menggeser garis pantai saja, pemimpin-pemimpin Eropa WAJIB terlebih dahulu meminta izin kepada Sultan Salim I.

Tak hanya itu, bahkan selama dalam rentang kekuasaan Sultan Salim inilah tradisi pembayaran Jizyah (Pajak) masih dilakukan oleh bangsa2 Eropa kepada Sultan. Selepas Sultan Salim I meninggal, kepemimpinan diserahkan kepada putranya, yakni Sulaiman Al Qanuni. Beliau diwariskan ayahnya wilayah kekuasaan Utsmani seluas 6.000.000 M² yang terbentang dari daratan-daratan Eropa hingga Afrika dan Mediterania.

Eropa Enggan Melanjutkan Kesepakatan

Kesombongan Bangsa Eropa bermula dari sini. Mereka enggan melanjutkan kesepakatan perjanjian tunduk & damai yg dibuktikan dengan pembayaran Jizyah terhadap Utsmani karena menganggap Sultan pengganti Salim I hanyalah seorang anak muda berusia 26 Tahun yg tidak akan becus melanjutkan kepemimpinan Utsmani.

Ringkas cerita, kabar ini sampai pada Al Qanuni. Khalifah Utsmani Sulaiman Al-Qanuni kemudian mengutus seorang utusan yg berangkat untuk mengambil jizyah dari raja Hongaria dan pemimpin Eropa ketika itu, Raja Louis II. Namun naas, utusan Sang Sultan malah dibunuh dan dimutilasi atas restu Vatican. Mendengar kabar kekejian itu, Sulaiman Al Qanuni pun GERAM utusannnya dibunuh oleh Louis II. Maka dipersiapkanlah 100.000 Ribu pasukan Utsmani utk memberi PELAJARAN pada Eropa.

Raja Louis Perangi Utsmani

Mendengar bahwa Al Qanuni tengah menyiapkan Pasukan, Raja Louis II lantas berkonsultasi dengan Vatican. Atas saran dari Vatican inilah maka Louis II pun berani menantang Utsmani dengan memprovokasi 21 negara-negara Eropa untuk turut memerangi Turki Utsmani.

Kemudian, 21 Negara bergabung dengan Louis II, begitu juga dengan gereja. Aliansi Eropa ini kemudian menyiapkan pasukannya. Tercatat dalam sejarah lebih kurang 200 ribu pasukan berkuda disiapkan Eropa utk menghadapi Al Qanuni. Sedangkan 35 ribu diantaranya bersenjata lengkap dengan berbaju besi.

Sulaiman dan pasukannya menempuh jarak 1000 kilometer dan berhasil merebut benteng-benteng sepanjang perjalanannya guna mengamankan jalan ketika menarik pasukannya mundur jika terjadi kekalahan. Beliau dan pasukannya melewati sungai yang terkenal dan menunggu di lembah Mohawck selatan Hongaria dan timur Rumania menanti pasukan Eropa yg terdiri dari Hongaria, Rumania, Kroasia, Buhemia, Kekaisaran Romawi, negara kepausan, Polandia dan lainnya.

Masalah yang dihadapi Sulaiman adalah banyaknya pasukan berkuda Romawi dan Hongaria yg tertutup penuh oleh baju besi yang sulit ditembus panah atau peluru.

Lalu apa yang ia lakukan?

Setelah selesai sholat subuh ia berdiri dihadapan pasukannya yang menatap pasukan Eropa yg banyak yang tidak terlihat ujungnya. Kemudian ia berkata disertai tangisan (sesungguhnya Ruh Nabi Muhammad melihat kalian dengan kerinduan dan cinta) maka menangislah semua pasukan kaum Muslimin.

Singkat cerita, sampailah pasukan Al Qanuni di Lembah MOHAWCK, sebuah lembah di wilayah Hongaria. Bertemulah kedua pasukan secara berhadap-hadapan dari kejauhan.

Sulaiman Al Qanuni membagi pasukannya menjadi Empat barisan sepanjang 10 km. Pasukan Inkisyaariah bertugas di garis depan, mereka ini adalah prajurit penyerang pilihan.

Kemudian di barisan kedua dan ketiga diisi pasukan berkuda dengan senjata ringan dan pasukan pejalan kaki (infanteri). Adapun barisan keempat adalah beliau beserta pasukan meriam yg akan menjadi eksekutor.

Setelah sholat Ashar, Sulaiman memerintahkan pasukan Inkisyaariyah menyerang & bertahan selama SATU JAM saja untuk kemudian lari ke belakang. Sesuai arahan Sulaiman, pasukan Inkisyaariah menyerang & bertahan dengan gagah berani. Mereka berhasil menghancurkan kekuatan Eropa dengan sempurna pada dua penyerangan bertubi-tubi yang hampir menewaskan 40 ribu pasukan Eropa.

Tibalah saat melarikan diri bagi pasukan baris pertama Utsmani dan dibukalah jalan untuk lari, maka mundurlah pasukan Inkisyaariah ke sisi kiri dan kanan diikuti pasukan infantri, sehingga jantung pasukan Utsmani benar-benar terbuka.

Pasukan Eropa pun terkecoh oleh taktik ini. Mereka mengira Tentara Utsmani mundur karena kewalahan. Pasukan baris pertama Utsmani pun dikejar Tentara Eropa hingga ke garis pertahanan Sultan. Pasukan lapis kedua Utsmani lantas membuka jalan pelarian ke kiri dan ke kanan. Kemudian kekuatan inti pasukan Eropa serempak menyerang. Maka masuklah 100 ribu pasukan Eropa sekaligus menuju (jebakan) jantung pasukan kaum Muslimin.

Dan inilah awal PEMBANTAIAN itu.

Tepat di LEMBAH MOHAWCK,, Pasukan Eropa langsung berhadapan dengan meriam-meriam pasukan baris keempat Utsmaniyah tanpa mereka sadari. Meriam-meriam itu langsung menyalak menyambut 100 ribu pasukan Eropa yang tidak sadar telah masuk jebakan. Tidak sampai satu jam, musnahlah pasukan Eropa dihantam meriam dari segala arah

Raja Hongaria Louis II beserta 7 uskup nasrani, utusan paus dan 70 ribu pasukannya TEWAS. Sedangkan 25.000 pasukan Eropa ditawan dalam keadaan HINA & terluka.

Peristiwa inilah yg menjadi catatan kelam orang-orang kafir sampai saat ini. Ya, peristiwa Pembantaian Aliansi Salibis yang terdiri lebih dari 20 Negara-Negara Eropa yang dipimpin oleh Sultan SULAIMAN AL QANUNI dalam Waktu kurang dari 90 MENIT.

Sisa-sisa pasukan Eropa di garis belakang berusaha lari menyeberangi sungai. Namun apa daya, karena rasa lelah dan ketakutan serta berdesak-desakannya ribuan prajurit Eropa dalam pelarian yg tunggang langgang, akhirnya pasukan Eropa pun menyerah dengan sisa pasukannya yang tenggelam di sungai. Peristiwa itu terjadi pada 21/11/932 Hijriyah. Kisah Kegemilangan Khalifah Sulaiman Al-Qanuni di atas itulah yang tidak pernah dilupakan Eropa sampai sekarang,, dan mereka masih akan mengingatnya dengan penuh dendam.

sumber: eramuslim.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here